TELEOLOGIS: Puisi-puisi Agust Gunadin
Cari Berita

TELEOLOGIS: Puisi-puisi Agust Gunadin

19 November 2017

Hari-hariku berselingkuh dengan persoalan dan malam menampar hasrat dalam kedukaan aku terletih dalam kebebasan bagai para budak zaman kolonialisme (Gambar: Istimewa)
TELEOLOGIS
Beri aku sekuntul sajak
D’lam membelah dinginnya malam
katamu memang di luar sana dingin
tapi cakar geram tak pernah berhenti panas
Durasi kami hanya setitik embun
delik, pekat membungkusimu
tak berakar, berurat
namun, getah membentengi malam
yang kian merogoh tangan-tangan kelakar
busung kami bukan lapar!
hanyalah hampa setitik kebijakan
bicara tentang arahmu kami mengenal
membelokkan celoteh padahal membengkakan nasabah
kapan janjimu terealisasi?

San Camillo, 11 Oktober 2017

Puisi ini dibuat untuk para pemimpin dan calon pemimpin masyarakat NTT agar jangan hanya mengumbar janji kepada masyarakat, tetapi berusahalah untuk merealisasikan janji karena masyarakat masih menunggu kapan janjimu terealisasi


CINTA MERUGI
Bau tubuh sempurat pada jalan
pada petang engkau berkelana pada bukit
memadukan cinta sambil melihat lembah
namun, wadas cintamu serendah darat
cerita fajar membungkam cerita malam
saat kamu memotong senja
kerudung ego melekat dalam pekat
Sampai
duka dan luka mencelik aksi
menusuk diri dengan jeruji besi
hingga....
menampar tubuh pada kisah mutilasi
Dari Maumere Untuk Mendamaikan Cinta
Cerita miris yang disajikan kepada masyarakat NTT bahwa ada sebagian kaum akademisi (Perempuan) yang mengorban nyawa karena putus cinta 

META PENGAKUAN
Hari-hariku berselingkuh dengan persoalan
dan malam menampar hasrat dalam kedukaan
aku terletih dalam kebebasan
bagai para budak zaman kolonialisme

jiwaku berlaga dengan nafsu
tak mampu mendamaikan diri
dalam penyerahan diri
dan berlayar pada meja hijau

Kerap aku menyangkal
namun sokongan KPK meletupkan fakta
tentang kecanduan, kedegilan, kebebalan
meratap kesakitan tentang cerita lama
sakit dalam kekosongan berpikir,
yang menimpa rimba, kabut solusi
lantas, kesakitanku tersenyum
menyuarakan aku sakit-sakitan
Rante Gelang, Maumere 17/11/2017

SURAT SAKIT dari SN

Berdiri di atas gelapnya malam
pergi dalam peraduan melepas jubah kemunafikan
dalam muramnya gunduk keteledoran
meninggalkan hukum demi tempat tidur empuk
untuk melepaskan penat kebopengan tersangka

saat aku berdiri menatap tapak jejakmu
di sana gonggongan perangkap
untuk mencakar kisah di balik persembunyian
kekuatan saktimu, memang laju sperti badai
namun, jiwa sang empunya mulai bergemetar
memuntahkan masa kelam
cerita lama dibungkus dalam e-KTP

peran para KPK mencari celah
menarik kekuatan gaip yang engkau tak tahu
mengkristalkan tanda (?)...
setumpuk tanda (!)...
menyerbu
membekukan langkahmu
hingga terdengar suara cekik berkata:
Aku memang sakti laksana tupai, namun
tetap jatuh bagaikan tubuh tanpa roh
San Camillo, 15/11/2017

Oleh: Agust Gunadin
marjinnews.com Maumere