Surat Cinta Untuk Papah Novanto.
Cari Berita

Surat Cinta Untuk Papah Novanto.

15 November 2017


"Bila engkau adalah manusia, sakit adalah ujian dari Tuhan, bukan ujian terhadap sesama manusia" (Gambar: Istimewa)
Papahku sayang
Jutaan suara sumbang
dari rakyatmu kini lindap tak menggenang
sedang aku masih mengenangmu
yang berbaju kuning teriakan keadilan di bawah rindang pohon beringin

Papahku sayang
sujudkanlah nuranimu ke tanah paling anyir
jutaan manusia telah terkapar di sana
mayat-mayat busuk adalah sumpah dalam serapah
yang mati seusai mendoakanmu

"bila engkau adalah manusia, sakit adalah ujian dari Tuhan, bukan ujian terhadap sesama manusia"

Papaku sayang
kudengar, kabar setiap helaian nafas rakyatmu adalah tarikan desah yang kecewa
kibasan nasib di bawah bangku parlemenmu adalah keberuntungan berkah yang tak suci

malam ini
kudengar para nelayan yang menghuni laut kecewa
kembali melarungkan duka
litani yang berombak dirapal dalam cadas yang paling luka
dengan buncah dahaga berbentuk samudera, seketika dangkal dan mengering ketika seekor belut mengibas ekor dalam jaring kehidupan

kudengar
dari seberang pulau
seorang nenek dengan suluh di tangannya bergerak menuju kematian,
suaranya masih tegas serupa protokoler di dalam Senayan

"jika belut dapat mengeringkan samudera keadilan, maka di laut ini telah hidup binatang yang bercinta dalam perilaku manusia"

sementara
di sepanjang garis pantai
kudengar kidung sendu
serupa nyanyian kematian
melambung tinggi dalam cakrawala hampa
sesekali ayat-ayat itu semakin jelas menampar sunyi

"berpura-puralah mati, jika Tuhan sanggup kau bohongi"

Papahku sayang
laut yang dinahkodai olehmu
adalah nurani dari ikan-ikan yang tumpang tindih dengan perilaku yang sama mengibas di bawah sampanmu, ikan-ikan itu takut jika jala kau tebar atas nama nafsumu

masih banyak lagi keluh malam dan senja
tak hanya ikan-ikan yang menggigil atas hukum yang bertebaran di samudera ini
bahkan alam raya telah bersabda pada cakrawala untuk mengutuk kebajikan yang penuh onani omong kosong

"jika pena kebajikan telah mampu menghapus ayat-ayat suci, maka di alam ini telah tumbuh drakula yang berwajah manusia"
 
Papahku sayang
kata-kata ini semakin luka dan menganga jika aku ikut mengutuk
namun aku masih memiliki nurani
dan cukup membakar amarahku pada kebijaksanaan hukum

"menyeralah papahku sayang, tak cukup lagi banyak waktu untuk melumuri hukum dengan berpuasa kepada tanggung jawab atas nama sakit"


Di sisa hidupmu ini
ayah sudahi saja nahkoda penuh omong kosong ini, berbijaklah pada nurani,
jika korupsi terus menggenjot kemanusiaanmu
maka bakarlah ayat-ayat suci di negeri ini
karena tak pantas menjadi pedoman untuk menjelajahi alam kemanusiaan.

dan dari bilik malam ini
kuharap semoga Papah selalu sehat dalam setiap perilaku.

Bogor; 14/11/2017
Oleh: Yogen Sogen
Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Pakuan Bogor
Penulis antologi puisi "Nyanyian Savana"
Ketua presidium PMKRI Bogor.