Solidaritas yang Belum Menetas

Orang mencari aman dan kekayaannya sendiri-sendiri. Tidak ada kepedulian terhadap mereka yang kalah dan tertindas. Krisis solidaritas merupakan tanda pecahnya sebuah masyarakat (Foto: rumahfilsafat.com)
Ia sibuk mengejar karir. Hari-harinya dihabiskan untuk mengumpulkan harta, supaya ia bisa membeli banyak harta lainnya. Banyak hal yang ia punya sebenarnya tak ia butuhkan. Ia terjebak di dalam ilusi konsumtivisme, yakni membeli barang demi membeli barang itu sendiri, tanpa tujuan di luarnya.

Ia tak peduli, jika ada orang lain yang membutuhkannya. Ia tidak peduli dengan kemiskinan yang terjadi di sekitarnya. Ironisnya, ketika ia jatuh, ia pun sendiri. Semua harta tak dapat menolongnya, ketika depresi menghampiri, dan godaan bunuh diri mengintip di pintu hati.

Inilah ciri orang yang hidup di kota-kota besar dunia modern. Sejumlah orang kaya raya hidup di tengah kemiskinan yang begitu besar dan dalam. Mobil mewah lewat di tengah pemukiman kumuh yang jorok dan  mengharukan. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin menjadi pemandangan umum sehari-hari.

Semua ini dibalut kemudian dengan kesombongan kelompok mayoritas di berbagai negara. Karena jumlahnya yang banyak, mereka merasa bertindak semaunya. Undang-undang dan prinsip dasar negara dilupakan, demi mewujudkan nafsu politik maupun ekonominya. Di berbagai kesempatan yang mungkin, mereka menginjak-injak hak-hak kaum minoritas.

Ini semua merupakan gejala dari hilangnya solidaritas. Orang mencari aman dan kekayaannya sendiri-sendiri. Tidak ada kepedulian terhadap mereka yang kalah dan tertindas. Krisis solidaritas merupakan tanda pecahnya sebuah masyarakat.

Padahal, solidaritas merupakan ciri dasar manusia. Tanpa solidaritas, manusia kehilangan kemanusiannya. Masyarakat pun kehilangan fungsi utamanya, yakni melindungi dan mengembangkan semua manusia yang ada di dalamnya. Tanpa solidaritas, sebuah masyarakat menjadi lemah, dan dengan mudah hancur, karena serangan dari kelompok lain.

Menurut Peter Schmitz, pemikir Jerman, solidaritas adalah dasar dari perasaan kebersamaan (Wir-Gefühl). Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bekerja sama, dan menciptakan masyarakat yang kokoh. Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bertahan menghadapi keganasan alam yang penuh dengan bencana. Tanpa solidaritas, manusia bisa punah sebagai spesies.

Dasar dari solidaritas adalah empati. Dalam arti ini, empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain (Mitfühlen). Bisa juga dibilang, bahwa empati adalah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan empati, manusia bisa terdorong untuk membantu orang ataupun mahluk lain. Dorongan ini muncul dari sikap welas asih, dan bukan dari pamrih.  

Solidaritas yang berakar pada empati memiliki banyak dampak bagi kehidupan manusia. Pertama, di tingkat pribadi, keduanya mendorong orang untuk berbagi dengan orang lain, ataupun dengan mahluk lain. Bahkan, orang bisa mengorbankan kepentingan dirnya sendiri, ketika ia memiliki solidaritas dan empati yang besar di dalam dirinya. Berbagi dan berkorban adalah dua ciri mulia yang bisa dimiliki manusia.

Dua, pada tingkat sosial politik, solidaritas dan empati juga bisa mewarnai sistem politik dan ekonomi yang ada. Bentuk nyatanya, seperti yang dinyatakan Christian Felber, ekonom asal Austria, adalah ekonomi kesejahteraan publik (Gemeinwohlswirtschaft). Model ekonomi semacam ini mendorong kompetisi untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih baik untuk kesejahteran publik. Namun, jaringan pengaman sosial yang ada amatlah kuat, seperti asuransi putus kerja, asuransi sakit, pendidikan dan asuransi hari tua, sehingga orang tetap bisa bertahan hidup dengan layak, ketika gagal dalam kompetisi tersebut.

Tiga, solidaritas dan empati bisa juga menyentuh hubungan antar bangsa. Solidaritas dan empati bisa menjadi paradigma baru di dalam urusan diplomasi maupun tata kelola keamanan global. Dengan cara ini, berbagai tantangan hidup bersama di tingkat global bisa diatasi dengan kerja sama secara terus menerus. Konflik dan perang mungkin tak akan pernah hilang, namun jumlahnya bisa jauh lebih berkurang.

Solidaritas dan empati sebenarnya bukanlah hal baru. Namun, karena terpaan globalisasi dan pola hidup modern, keduanya terlupakan dari ranah hidup pribadi maupun hidup bersama. Beragam agama dunia sudah mengajarkannya selama ribuan tahun. Budaya-budaya lokal yang tersebar di berbagai tempat pun mengajarkannya.

Namun, solidaritas dan empati ini memiliki beberapa tantangan yang mesti dihadapi. Pertama, individualisme sempit yang berujung pada sikap egois adalah musuh utama solidaritas yang berakar pada empati. Sayangnya, inilah ciri utama manusia modern sekarang ini. Ini tentu dapat dilampaui dengan perubahan pola didik dan pembentukan sistem yang mendorong solidaritas dan empati.

Kedua, sistem kapitalisme konservatif menjadi penghalang utama terciptanya solidaritas dan empati di ranah sosial politik. Di dalam sistem ini, orang didorong untuk mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya, jika perlu dengan menindas hak-hak orang lain. Modal pun dipahami secara sempit sebagai modal uang dan harta. Sistem semacam ini mendorong orang untuk menjadi rakus, dan membunuh solidaritas.

Tiga, solidaritas dan empati juga mendapat tantangan dari radikalisme agama yang sekarang ini tersebar di seluruh dunia. Karena pemahaman yang salah tentang agamanya, orang menjadi intoleran dan memusuhi perbedaan. Bahkan, orang bersedia membunuh orang lain yang berbeda paham dan keyakinan. Kekerasan atas nama agama ini menjadi daya dorong utama terorisme global di abad 21.  

Jelaslah bahwa solidaritas masih belum menetas. Solidaritas masih menjadi mimpi indah yang belum terwujud di dalam kenyataan. Pun jika ada, solidaritas masih terbatas pada orang-orang yang seagama, satu keluarga ataupun satu suku saja. Solidaritas universal kepada semua mahluk yang berpijak pada empati masih jauh dari genggaman.
Mau sampai kapan?

Oleh: Reza A.A Wattimena
Peneliti, Tinggal di Jakarta

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Solidaritas yang Belum Menetas
Solidaritas yang Belum Menetas
https://4.bp.blogspot.com/-3BFU_xRb4p0/Whuir2HtiCI/AAAAAAAACNs/-QrdYKtk2LINr0Mp9XMUgHo-juKQ7I5fACLcBGAs/s320/Reza_AA_Wattimena%2Bmarjin%2Bnews%2Bfilsafat.png
https://4.bp.blogspot.com/-3BFU_xRb4p0/Whuir2HtiCI/AAAAAAAACNs/-QrdYKtk2LINr0Mp9XMUgHo-juKQ7I5fACLcBGAs/s72-c/Reza_AA_Wattimena%2Bmarjin%2Bnews%2Bfilsafat.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/solidaritas-yang-belum-menetas.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/solidaritas-yang-belum-menetas.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy