Sikap Fredrich Yunadi dan Hujatan Publik Terhadap Profesi Advokat Indonesia

Dalam sejumlah pernyataannya antara dalil dan argumentasinya sering tidak sejalan bukan saja tidak sejalan dengan ketentuan undang-undang yang mandasarinya, akan tetapi juga bertentangan dengan logika publik (Foto: Istimewa)
Dunia Advokat Indonesia kembali dihujat dan dipermalukan akibat sikap dan perilaku Dr. Fredrich Yunadi, SH, LLM, MBA, PhD, sebagai Advokat yang menjadi kuasa hukum Setya Novanto, dalam perkara dugaan korupsi proyek e-KTP dan perkara-perkara terkait lainnya. Mengapa? karena dalam berbagai kesempatan di forum-forum terbuka terutama dalam dialog di televisi, Fredrich Yunadi tanpa tedeng aling-aling mengemukakan pernyataan dan argumentasi hukum yang sering bertolak belakang bahkan tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya. Fredrich Yunadi dianggap oleh sebagian orang sering semau gue dalam menyampaikan argumentasi hukum ketika hendak membela kliennya, sehingga gelar akademis dan profesionalismenya sebagai advokat mulai disangsikan bahkan ada yang sudah melaporkan untuk dilakukan penyelidikan.

Dalam sejumlah pernyataannya antara dalil dan argumentasinya sering tidak sejalan bukan saja tidak sejalan dengan ketentuan undang-undang yang mandasarinya, akan tetapi juga bertentangan dengan logika publik. Sebagai contoh, pernyataan Fredrich Yunadi tentang keharusan adanya izin presiden terlebih dahulu untuk memeriksa Setya Novanto dengan alasan ketentuan UU MD3, padahal banyak ahli hukum hingga mantan hakim konstitusi sudah menjelaskan bahwa izin presiden itu tidak diperlukan karena tindak pidana korupsi termasuk dalam kategori tindak pidana khusus sebagaimana diatur di dalam pasal 245 ayat (3) UU MD3. Begitu juga dengan pemahamannya yang keliru soal imunitas anggota DPR dan imunitas advokat yang dipahami secara terbalik tanpa ada batasan menurut pembatasan yang ditentukan UU serta sejumlah pernyataan lainnya.

Terakhir terkait dengan ancamannya akan melaporkan KPK kepada Pengadilan HAM Internasional, ditanggapi oleh Prof. Dr. Hikmahanto Juwana, SH, Guru Besar Hukum Internasional UI bahwa Pengadilan HAM Internasional tidak ada, karena Peradilan Internasional tidak ada badan yang secara spesifik mengurusi Pengadilan HAM Internasional. Adapun lembaga yang mirip dengan Pengadilan HAM Internasional adalah European Court of Human Rights (ECHR), tetapi hanya berlaku bagi warga Uni Eropa.juga ada Mahkamah Kejahatan Internasional atau International Criminal Court/ICC yang kewenangannya hanya pada lingkup kejahatan yang dilakukan oleh pejabat negara, kejahatan internasional seperti pelanggaran HAM berat, Kejahatan Kemanusiaan, Genoside, Kejahatan Perang dan Agresi. Itupun tidak berlaku bagi Indonesia, karena Indonesia hingga saat ini tidak menjadi peserta dari Statuta Roma.

Ahli Hukum Tata Negara yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, melalui akun twitternya malah menanggapi ketidaktahuan Fredrich Yunadi mengenai Pengadilan HAM Internasional dengan meminta agar dunia advokat harus menata diri, karena sekarang ini mulai ada Advokat/kuasa Hukum yang tidak paham hukum bahkan oon di bidang hukum. Proses rekrutmen dan pembinaan etika harus dijaga dari awal, jangan sembarang disumpah. Kritik dua ahli hukum ini patut kita apresiasi karena kepeduliannya bahkan kewajibannya oleh karena baik Prof. Dr. Mahfud MD, SH. MH maupun Prof. Dr. Hikmahanto Juwana, SH, MH. kedua-duanya adalah Guru Besar bidang hukum sehingga masih memiliki tanggung jawab moral atas kualitas lulusan Fakuktas Hukum di tengah masyarakat, apalagi dengan gelar akademis berderet-deret seperti halnya yang dimiliki oleh Fredrich Yunadi mulai dari gelar Dr., SH, LLM, MBA, PhD dituntut bisa mempertanggungjawabkan gelar akademik yang dimilikinya itu.

Oleh sebab itu sebelum lembaga-lembaga yang lain bertindak, PERADI sebagai Organisasi Profesi Advokat yang bertanggung jawab langsung terhadap perilaku Advokat dalam menjalankan profesinya harus bertindak tanpa harus menunggu Pengaduan dari Masyarakat, PERADI harus membuka diri terhadap informasi dari masyarakat  tentang perilaku Advokat, apa lagi dalam kaitan dengan sepak terjang Advokat yang terjadi di ruang publik sebagaimana yang dipertontonkan oleh Fredrich Yunadi, sudah menjadi konsumsi publik dan sorotan publik eksistensi Advokat ketika sedang membela Klien. PERADI harus berani meminta pertanggungjawaban terhadap gelar Akademis Fredrich Yunadi, karena terdapat ketidaksesuaian antara Gelar Akademik yang dimiliki berderet-deret dengan kualitas Ilmu Hukum dan kemempuan teknis hukum yang dimiliki ketika bertindak.

Oleh: Petrus Selestinus 
Perhimpunan Advokat Pendukung KPK/PAP-KPK

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Sikap Fredrich Yunadi dan Hujatan Publik Terhadap Profesi Advokat Indonesia
Sikap Fredrich Yunadi dan Hujatan Publik Terhadap Profesi Advokat Indonesia
https://4.bp.blogspot.com/-vQrA388dDOo/WhLLG_L_KMI/AAAAAAAACIM/Dqo_JMCllkYt9VxvshxnLgLSjo1YYIFkwCLcBGAs/s320/Petrus-Salestinus%2BMarjin%2BNews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-vQrA388dDOo/WhLLG_L_KMI/AAAAAAAACIM/Dqo_JMCllkYt9VxvshxnLgLSjo1YYIFkwCLcBGAs/s72-c/Petrus-Salestinus%2BMarjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/sikap-fredrich-yunadi-dan-hujatan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/sikap-fredrich-yunadi-dan-hujatan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy