RANJANG KUSAM
Cari Berita

RANJANG KUSAM

18 November 2017

Dalam kamar ini kami bercinta dalam kamar ini cinta kami harus berakhir. Dia meninggalkanku dengan sisa perasaan di ujung nafsu dan dia pergi bersama sebuah kisah yang tak pernah ku tahu (Gambar: Istimewa).
Aku tak penah bertanya mengapa kopi itu pahit, aku tak pernah berdebat tentang siapa yang menciptakan bayang-bayang aku atau matahari, dan aku tak pernah bertanya mengapa kopi itu begitu nikmat ketika disuguhkan saat senja. Tapi kali ini, aku ingin bertanya satu hal padamu saat ini, mengapa engkau mempertemukan kami dalam sebuah kebetulan lantas menyatukan kami dalam sebuah kesepakatan?

Ah aku sudah bosan dengan sandiwaramu, selalu mempesulitku tanpa pernah engkau bertanya pada dirimu apakah aku pernah sekali-kali bermain lakon denganmu?

Tapi malam ini aku ingin bercerita banyak denganmu, ku harap Engaku memiliki lebih banyak waku bersamaku, sebab telah ku siapkan sepasang lilin dan patung-Mu yang terbuat dari kayu. Aku berharap Engkau mau mendengarku malam ini.

Malam ini aku sengaja tak tidur, kedua mataku seperti tak sejalan. Sejak tadi bantal yang selalu menemaniku seperti tak bisa mengayunkanku dalam melodi kelelapan. Kali ini kedua mata ini telah menang melawan malam. Akhirnya aku memutuskan untuk sedikit meluangkan waktu untuk berbicara denganmu tentang aku, Kamu dan dia yang telah pergi.

Tapi maaf, aku harus membuka diskusi ini dengan kebencian karena aku begitu marah pada-Mu. Lihatlah warna kamar yang pucat ini begitu menyiratkan suatu kehilangan, juga segala yang ada di dalamnya, seperti lampu yang menyala seadanya. Sunyi bukan? kesunyian itu, mengingatkanku pada seoang teman yang membuat malamku jadi begitu menyenangkan.

Tapi itu semua berubah ketika Engkau memisahkan kami dengan cara-Mu yang begitu licik. Sebab itulah aku mengajakmu berdiskusi malam ini  agar kau tahu bahwa aku bisa sangat cemas hanya karena sebuah kamar dan kesunyian.

Malam ini aku sedang mendekam di kamarku. Kamar dengan warna hijau tua dan tirai yang kusam ditimpa cahaya bulan yang sekali-kali melambai-lambai keluar jendela. Perlahan angin malam menerpa tubuhku, begitu dingin.

Sedetik perhatianku tertuju pada sepasang burung hantu yang terlihat di kejauhan. Mereka bertengger di sebuah pohon rindang dan sesekali mengeluarkan suara yang merdu. Begitu romantis ketika beberapa helai daun gugur saat dengan cueknya mereka bercinta.  Sungguh, perasaan  yang sama sekali berbeda dengan yang kudapati di kamar pucat itu. 

Kamu tahu, hal ini yang memaksaku untuk meteskan air mata lantaran kembali mengingat gadis yang kucintai saat kami lalui malam begitu mesra. Maka sebelum aku hendak mengingatnya lagi aku memutuskan untuk mengajakmu berbicara malam ini tentang gadis itu.

Kupikir aku mesti mengatakan hal ini kepadamu. Memang tak penting tapi agar engkau tahu betapa gelisah dan takutnya aku pada sebuah kamar.

Malam ini memang puncak rinduku pada dirinya, entah mengap pikiranku seperti mengingatnya. Tak seperti biasanya,  aku begitu merindukan sosok gadis itu hadir dalam ranjangku malam ini. Biasanya kami berdua melewati malam yang bertabur bintang dalam selimut yang sama. Indah bukan? Itulah hal paling indah ketika Adam dan Hawa bertemu.

Tapi kisah itu seperti terhapus dan berakhir ketika gadis itu memutuskan untuk mencarimu. Dia tak mengajakku dan hanya sendiri. Aku begitu berdua atas kepergiannya, tak menitip surat hanya seutas tali yang melilit lehernya.

Dalam kamar ini kami bercinta dalam kamar ini cinta kami harus berakhir. Dia meninggalkanku dengan sisa perasaan di ujung nafsu dan dia pergi bersama sebuah kisah yang tak pernah ku tahu.

Kamu tahu, pernah sesekali kakek tua dengan suara terbata-bata bertanya padaku, “mengapa gadis itu bunuh diri?”, kadang ketika mendapati pertanyaan itu amarahku sekejap memuncak tetapi dengan penuh canda aku menjawabnya “ranjang kusam miliku telah bosan dengannya, dia meminta cerita baru dengan lakon baru”.

Aku harap kamu tak pura-puar sedih mendengar keluh kesahku. Dan ku berharap juga permataku telah berada di sisi kanan-Mu. Dan, ketika doa ini selesai, dari atas meja di sisi jendela, aku meraih sebuah buku puisi milik seorang penyair dan membacanya dalam keheningan–puisi yang juga bicara tentang kehilangan dan cinta. Seperti sepasang kekasih yang bercinta tanpa henti hingga malam bertambah malam . Aku pun mengingatnya sekali lagi.

Iteng, 16 November 2017

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia