Prabowo Under Cover, Sisi Lain Sang Jenderal

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Prabowo Under Cover, Sisi Lain Sang Jenderal

14 November 2017


Tanggapan dan respon masyarakat yang beragam dan cenderung sarat akan ketidakpercayaan pada sosok tertentu seperti Prabowo adalah efek dari keganasan persaingan politik yang semakin mengesampingkan nilai dan moral kemanusiaan (Foto: Kompas.com)
Prabowo Subianto selalu menjadi sorotan sejak sebelum Pilpres 2014 hingga hari ini. Sosok Sang Jenderal memang selalu abu-abu di mata masyarakat Indonesia. Ketidakpahaman dan kekeliruan melihat sosok hanya dari satu sisi membuat persepsi masyarakat tentang Prabowo menjadikannya sebagai orang yang sangat menakutkan dan dinilai tidak 'layak' menjadi orang nomor satu di Indonesia. 

Entah mengapa, Prabowo dalam perspektif publik selalu salah dalam segala hal. Kapitalisasi media dan kehendak untuk berkuasa yang tamak membuat sosok Prabowo seolah menjadi satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas apa pun masalah yang terjadi. 

Padahal Prabowo adalah seorang yang telah menjadi sosok yang luar biasa dalam mengakui sebuah pemerintahan yang tengah berkuasa. Kemampuannya melihat segala kekurangan dalam tubuh pemerintahan ketika tengah dalam ketimpangan merupakan sesuatu yang seharusnya diapresiasi. Namun, hal yang terjadi selama ini adalah Prabowo menjadi bulan-bulanan massa ketika melihat proses perjalanan bangsa ini 'dipaksakan' sebagai sebuah negara tanpa masalah.

Sisi Lain Prabowo

Setelah meghadiri acara peringatan Hari Pahlawan di Sekolah Dasar Budi Mulia Dua, Prabowo Subianto mengunjungi Makam Raja-raja Mataram Kotagede di Jagalan, Banguntapan, Bantul, Senin (13/11/2017) kemarin. Dengan memakai pakaian adat Jawa, pendiri partai berlambang kepala burung garuda itu berziarah bersama dengan rombongan juga mengunjungi Masjid Gede Mataram Kotagede (kompas.com). 

Hal paling menarik dalam kunjungan Ketua Umum Partai Gerindra ini adalah refleksnya menyapa warga masyarakat sekitar area pemakaman. Dengan berjalan kaki, Prabowo menyalami mereka selama beberapa saat. Bahkan menurut salah satu warga Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul, Ani Puji Lestari (38) ia tidak percaya telah bersalaman dengan sosok Prabowo.

"Saya tidak percaya pejabat seperti Pak Prabowo menghampiri saya dan menyalami," ucap Ani.

Bahkan berdasarkan pemeberitaan di media yang sama, ada masyarakat yang mengaku merinding ketika mengetahui dirinya tengah berjabat tangan dengan sosok Prabowo.

"Saya merinding Mas tadi, kok Pak Prabowo mau berjalan dan menyalami rakyat kecil seperti saya" lanjut Ani. Dia pun berharap agar Prabowo Subianto terberkati dan selalu dekat dengan masyarakat.

Tanggapan dan respon masyarakat yang beragam dan cenderung sarat akan ketidakpercayaan pada sosok tertentu seperti Prabowo adalah efek dari keganasan persaingan politik yang semakin mengesampingkan nilai dan moral kemanusiaan. Jika sebelum memasuki tahun politik ini kita belum bisa berdamai satu sama lain, maka tidak heran jika nanti akan ada aktor barbarian intelektual yang memanfaatkan segala cara untuk mengembalikan kondisi seperti semula, kepercayaan, nilai, moral dan kedudukan yang sama dalam hal berpolitik, termasuk menjadi penyebar paham radikalisme entah itu dari koalisi pemerintah sekarang maupun dari pihak oposisi.

Siapa lagi yang bisa kita percayakan?

Oleh: Andi Andur