PILKADA, Antara Kecemasan dan Dilema

Apa yang diharapkan oleh bangsa ini hilang oleh tindakan segelintir atau sekelompok orang yang lebih mementingkan ego pribadinya ketimbang untuk kesejahteraan rakyat (Gambar: Istimewa)
Pada hakekatnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki sistem pemerintahan yang demokratis. Demokrasi Indonesia bukan suatu hal yang baru dibentuk kemarin tetapi sesuatu yang sudah lama dianutnya dan dihidupi oleh bangsa Indonesia. Kendati pun demikian,  demokrasi tersebut belum sampai pada tujuan sejatinya. Dalam arti, bahwa masyarakat belum merasakan buah dari demokrasi itu sendiri. Tujuan utama  dari demokrasi adalah untuk menyejahterakan rakratnya bukan bagi segelintir orang. 

Apa yang diharapkan oleh bangsa ini hilang oleh tindakan segelintir atau sekelompok orang yang lebih mementingkan ego pribadinya ketimbang untuk kesejahteraan rakyat. Berbagai praktik ketidakadilan dan praktik korupsi di mana-mana. Melihat situasi yang mencekam ini, penulis tergugah untuk membagi rasa pedih setelah menyaksikan dan merasakan duka rakyat kecil dan mewakili suara dari masyarakat kecil yang terkurung dalam gua kesengsaraan. Dan penulis juga bukan mengklaim bahwa semua kinerja dari para pejabat sebelumnya itu buruk.

Sebuah dilema yang tengah dirasakan oleh rakyat adalah hadirnya para penguasa baru yang mempunyai  hasrat untuk membesarkan perutnya sendiri ketimbang memperhatikan rakyat yang melarat dan perut kosong karena kemiskinan yang tengah mereka perangi.  Makanan yang seharusnya milik mereka  telah dilahap  habis tanpa bekas oleh para penguasa yang rakus. Mereka tidak merasa cukup dengan kebagiannya sendiri sehingga mereka harus mencuri dari milik rakyat untuk memadati perutnya. 

Hal ini merupakan penyakit keturunan dari bangsa ini. Mereka bukan lagi manusia dalam arti yang sebenarnya. Mereka adalah turunan iblis dan si jahat yang suka menghabisi nyawa yang hidup secara perlahan. Sementara tangisan bayi yang meminta susu tidak lagi dihiraukan lagi, orang yang terbaring lemah di jalan, petani yang tak dapat lagi mengusapi keringatnya dengan hasil panen yang memuaskan karena ketidakmampuannya untuk membeli pupuk. Tak ada yang peduli dengan hal tersebut. Para pemimpin yang tidak merakyat mungkin sedang berpesta pora sehingga tangisan dan derita rakyat tak mereka dengar atau mata hatinya telah ditutupi dengan uang dan kemewahan.
 
Begitu banyak kisah yang memilukan yang dialami oleh masyarakat karena kenyataan hidup atau kasus-kasus korupsi yang semakin menjadi-jadi di bumi Indonesia yang adalah ladang subur tumbuhnya para koruptor. Rasanya, rakyat ingin menangis melihat situasi ini, namun tak dapat mengeluarkan air mata karena badan terasa lemah mungkin karena kurang makan atau kekurangan gizi. Toh, meskipun mereka berteriak tak ada yang dapat mendengar mereka. Tak ada yang dapat mengubah nasib mereka lagi. Penguasa (para koruptor)  telah menutup matanya dengan uang. Mereka sibuk dengan urusan pribadinya dengan menghabiskan uang hasil sulapannya. Mereka keasyikan bermain di atas mobil mewah (mungkin tidur) serta rumah mewah layaknya istana.
 
Setan yang satu ini (Korupsi), tidak bakal berakhir untuk diperbincangkan. Sebab, semacam perang yang terjadi di dalam ruangan sempit yang tak dapat untuk melerainya. Yang terbukti melakukan korupsi akan dijebolkan ke dalam rumah penginapannya, sementara yang lain sibuk menjatuhkan dan memburu orang yang bertujuan untuk membersihkan virus korupsi yang terjadi di Indonesia (peristiwa Pak Ahok, Novel Baswedan). Sangat disayangkan.
 
Siapa lagi yang harus dipercaya?
Berbagai praktik ketidakadilan yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat itu dapat melemahkan berbagai pihak terlebih khusus rakyat kecil. Praktik ini menimbulkan berbagai bentuk sikap negatif yang dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat merasa enggan untuk memilih dan menentukan pilihannya, apalagi pesta pemilu yang sudah di depan mata. Bentuk ketidakpuasan masyarakat ini juga timbul oleh karena janji yang tidak ditepati oleh sang pemberi janji yang sedang duduk di kursi kekuasaan.
 
Siapa lagi yang harus kami percaya? Pertanyaan ini berangkat dari kecemasan masyarakat akan situasi yang mereka alami. Mereka belum puas dengan para pemberi janji sebelumnya, janji-janji itu tidak terealisasikan. Janji itu hanya sekadar alat untuk memenangkan pertarungan politik. Sehingga menghadapi pesta pemilu yang sedang dinantikan mereka cemas kalau nasib sama juga sedang menanti (Pilgub 2018).
 
Menjelang pesta pemilu yang sedang dinantikan, para calon tidak lagi berdiam diri di rumah atau kantornya. Mereka mesti bangun dari tidur pulasnya dan beranjak dari zona nyamannya. Mereka mesti membuat aksi nyata agar menarik perhatian masyarakat sebelum orang lain mendahuluinya. Namun mereka harus siap menerima opini masyarakat, karena masyarakat tidak dapat lagi dibohongi  oleh aksi yang mendadak. Masyarakat sudah pandai menilai mana yang dibuat oleh karena hati nurani atau karena kepeduliannya terhadap masyarakat dengan aksi yang memiliki modus dibalik tindakan baiknya (ada udang dibalik batu). Hal ini sudah mubasir bagi masyarakat. Mereka mungkin saja mengangkat jempul tetapi sulit bagi masyarakat untuk mempercayainya.

Berkorar-koar  di ranah publik untuk mempromosikan diri sebagai agen pembawa perubahan. Berjuta janji yang menjaminkan kesejahteraan rakyat yang dilontarkan dari para calon dalam berkampanye. Selain itu, janji-janji dituliskan dalam spanduk yang berisikan gambar dengan ekspresi wajah yang ramah, melukis senyum seindah mungkin. Mereka yang sebelumnya menutupi wajahnya kini tampil kepada publik. Atas dasar ini, masyarakat cukup bingung untuk menentukan suara hatinya sehingga  terjerumus dalam hal-hal yang negatif.  Apalagi berbagai praktik politik hitam semakin semakin merajalela. Sehingga, siapa yang membawa keuntungan bagi pribadi tertentu maka ia akan mendapat dukungan dari masyarakat. Masyarakat tidak memilih berdasarkan suara hatinya tetapi karena ada apanya.

Politik hitam ini hemat saya merupakan awal dari praktik tindakan korupsi dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Karena itu, kita mesti menghindari dari pratik-praktik seperti ini. Kita mesti memilih berdasarkan bobot dari seorang calon bukan memilih karena diberi imbalan atau keterpaksaan semata.   Harapan saya akan pesta pemilu yang akan datang berjalan dengan jujur dan adil serta tercapainya demokrasi yang sejati yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.  Agar tidak ada lagi yang terkurung dalam gua kesengsaraan. Dan menuju perubahan baru.

Oleh: Nanto Fabian
Tamatan dari SMA Negeri 1 Lelak
Sekarang tinggal di Pondok San Camillo- Maumere

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: PILKADA, Antara Kecemasan dan Dilema
PILKADA, Antara Kecemasan dan Dilema
https://2.bp.blogspot.com/-qlmU7NAv8EY/WhX2dqPTJHI/AAAAAAAACJ4/9jh4gWRGaVcM5yAThb-6Hauw6L8jnZScgCLcBGAs/s320/Pilkada%2BMarjin%2BNews.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-qlmU7NAv8EY/WhX2dqPTJHI/AAAAAAAACJ4/9jh4gWRGaVcM5yAThb-6Hauw6L8jnZScgCLcBGAs/s72-c/Pilkada%2BMarjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/pilkada-antara-kecemasan-dan-dilema.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/pilkada-antara-kecemasan-dan-dilema.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy