Perkawinan Ala Biarawan Rasa Awam

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Perkawinan Ala Biarawan Rasa Awam

11 November 2017

Para pasangan muda yang menjalin kasih pun harus senatiasa dibimbing Gereja dalam bingkai pastoral perkawinan, agar mereka mampu menandaskan hubungan yang berkembang ke jenjang berikutnya (Gambar: Istimewa)
Tepat pada tanggal 16 Oktober saya diutus dalam suatu program menghidupkan isi Kitab Suci yang bukan sekedar benda mati pada suatu kampung nan jauh dari tempat tinggalku. Menarik bukan main melihat wajah beraneka ekspresi menyambut kedatangan domba di tengah-tengah serigala. Ahhh inilah efeknya keseringan mengutip kata-kata menarik dalam Kitab Suci. Aku melihat wajah –wajah penuh tanya terpampang dari hari ke hari. Kehadiranku bukan tanpa tujuan. Meninggalkan bukit pohon papaya berlapis tembok raksasa merupakan suatu kesempatan untuk menikmati alam bebas tanpa deruan mazmur yang berkepanjangan. 

Misi utamaku menghidupkan isi Kitab Suci kepada mereka yang secuilpun belum memaknai  suara Sang Ilahi. Tibalah pada waktunya misi ini di kumandangkan. Canda dan tawa berjalan bersama hembusan angin malam yang semakin dingin. Aku terkejut karena diakhir canda tawa, sosok wanita yang dilihat dari wajahnya sudah menginjak usia 70-an menanyakan tentang perkawinan dan masalah perceraian. Semua mata tertuju kepada ibu tersebut yang dengan lihai mengungkapkan kisah-kisah manis pahit hidup berkeluarga. 

Ia tanpa sadar atau sadar protes kepada saya karena teringat dalam janji suci perkawinan dan tertulis dalam Kitab Suci “apa yang di satukan oleh Allah, tidak boleh di ceraikan oleh manusia”. ibu tersebut kembali bertanya kepada saya, tentang pendapat saya akan perkawinan dan dampak perceraian. Sulit rasanya menjawab pertanyaan ini, tapi aku teringat akan salah satu kuliah pilihan di sekolahku yang berbicara secara khusus tentang keluarga. Suatu modal besar bagiku dalam menjalankan karya pastoral ini, apalagi berhadapan dengan pertanyaan yang sulit bagiku.  

Dengan situasi sosial ini, aku tidak hanya menjawab dengan berkata: "banyak-banyak berdoa atau ini ujian dari Tuhan atau seringlah bermeditasi". Jawaban yang keliru. Dengan penuh percaya diri atau mungkin diri yang percaya, aku mulai menyusun kata-kata menjadi suatu kalimat untuk meyakinkan kepada semua orang, khususnya sang ibu yang penuh penasaran menanti jawaban yang aku berikan. 

Demikian kicauanku
Perkawinan merupakan suatu ikatan yang mempertemukan dua orang dalam membentuk suatu keluarga harmonis. Pembentukan ini berlandas pada saling mencintai antar kedua belah pihak yang berjanji untuk tidak menista perkawinan itu dengan melakukan tindakan perceraian. Dalam mendalami konsep tentang perkawinan sesungguhnya menjadi suatu proses pembelajaran awal sebelum membentuk suatu keluarga. 

Keluarga harmonis merupakan keluarga yang tetap setia akan perjanjian dalam hukum perkawinan. Ini adalah kunci dari keluarga harmonis. Dengan mendalami sepakterjangnya pemahaman tentang keluarga yang ditinjau dari perspektif sosiologis, saya yang adalah kaum biarawan sungguh merasa senang, karena hidup membiara bukan berarti mendalami spiritualitas dari kaul yang dipegang atau hanya bergulat dengan doa yang tiada hentinya, tetapi senantiasa memahami, mengerti dan sadar akan keadaan sosial. 

Suatu fenomena dalam masyarakat sosial merupakan fenomen yang harus mendapat perhatian bukan hanya masyarakat awam sendiri tetapi kaum Biarawan pun harus turut berpartisipasi tanpa meninggalkan statusnya sebagai Biarawan. 

Semuannya dengan serempak menganggukkan kepala bertanda setuju. Hal inilah yang membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan kalimatku yang belum usai.

Konflik Dalam Keluarga
Memahami inti dari perkawinan merupakan dasar dalam pembentukan suatu keluarga harmonis. Keluarga merupakan suatu keadaan dalam masyarakat yang mana setiap pribadi menginginkan kehadiran sosok pendamping dalam melanjutkan perjalanan hidup. Keluarga juga merupakan suatu ikatan terhadap rasa bosan hidup sendiri. Menjadi kenyataan bahwa dalam hidup berkeluarga tidak jarang terjadi suatu konflik antar pasangan yang beimbas pada perceraian. 

Keadaan ini timbul dari berbagai aspek, entah itu terjadi karena lingkungan atau lebih kepada keluarga itu sendiri. Perkawinan bukan suatu situasi atau keadaan yang dalam proses lanjutannya terjadi perceraian. Keadaan inilah yang menjadi tantangan, bukan hanya tanggung jawab dari pihak awam saja melainkan saya kaum biarawanpun ikut campur tangan dalam mengatasi keadaan sosial tersebut. 

Menjadi nyata bahwa tindakan yang merujuk pada perceraian disebabkan oleh beberapa hal yaitu, Pertama, Budaya Patriaki. Dalam kehidupan perkawinan, suami-istri yang hidup dalam budaya patriaki yang ketat dan tertutup akan perbedaan posisi suami dan istri. Relasi kuasa ini menempatkan suami sebagai pihak superior dan istri sebagai pihak inferior. Relasi kuasa ini menempatkan suami sebagai kepala keluarga, sedangkan posisi istri lebih rendah sebagai ibu rumah tangga yang dipandang sebagai pengabdi dan pelayan. 

Kedua, Tekanan Ekonomi. Pencapaian kebutuhan dasar hidup harian keluarga adalah unsur yang sangat penting dalam kehidupan berumah tangga. Peran untuk mencari nafkah ini menjadi suatu beban tersendiri bagi suami. Suami akan melakukan upaya dengan kompetensinya untuk mendapat prestise dalam pekerjaannya dan memperoleh upah yang layak untuk menghidupi keluarganya. Akan menjadi masalah, apabila suami mengalami hambatan dan tekanan dalam pekerjaannya. Tekanan tersebut akan melahirkan beban psikologi yang mempengaruhi pola relasinya dengan orang di sekitarnya, termasuk istrinya. Istri akan menjadi objek kekesalan atas situasi pekerjaan yang penuh tekananan. Kekesalan ini diekspresikan lewat kata-kata kasar, dan tidak jarang akan berujung pada kekerasan fisik.

“Ternyata bukan sampai di sini saja jawabanku. Melihat inti perkawinan dan masalah perceraian dalam keluarga, saya membuat suatu kesimpulan singkat.”
Pemahaman tentang perkawinan yang terjadi pada zaman sekarang ini sungguh sangat memilukan. Perkawinan dijadikan sebagai ajang permainan dalam kenikmatan sesaat. Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dalam keluarga. Dengan demikian dalam perkawinan dibutuhkan persiapan yang matang. Penanaman nilai-nilai hakiki perkawinan dalam pastoral perkawinan harus dimulai sejak dini. 

Hal ini berarti pemuda dan pemudi kristiani harus dibekali dengan nilai-nilai ideal perkawinan yang sejahtera. Para pasangan-pasangan muda yang menjalin kasih pun harus senatiasa dibimbing Gereja dalam bingkai pastoral perkawinan, agar mereka mampu menandaskan hubungan yang berkembang ke jenjang berikutnya. Jadi,  perkawinan bukan lagi dilihat sebagai bentuk pemuas hasrat yang berdampak pada kekerasan, melainkan perkawinan dijadikan sebagai langkah awal dalam melanjutkan hubungan berkeluarga hingga maut menjemput. 
***
Kembali semuannya menganggu dengan pasti dan sadar. Ya, karya pastoralku berhasil. Dari pojok sudut sang ibu dengan suara patah-patah, maklum sudah termakan usia berkata ”Anakku kamu itu seorang biarawan rasa awam”.

Oleh: Ogha Galung 
Penghuni Bukit Pohon Papaya Camillian-Maumere
marjinnews.com Maumere