Pasca Novanto, Golkar Harus Melahirkan Ketua Umum dengan Kualifikasi Negarawan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pasca Novanto, Golkar Harus Melahirkan Ketua Umum dengan Kualifikasi Negarawan

24 November 2017

Jika Partai Golkar masih mempertahankan gaya kepemimpinana Golkar yang pragmatis sebagaimana diperankan oleh Setya Novanto selama ini, maka Partai Golkar akan tetap terpuruk menuju Partai Gurem pada pemilu 2019 (Gambar: jawapos.com)
Partai Golkar harus memproyeksikan memilih seorang Ketua Umum pasca Setya Novanto melalui sebuah Munaslub yang demokratis. Karena untuk memilih Ketua Umum dengan kriteria seorang negarawan, pasca Setya Novanto, maka ada 3 (tiga) syarat yang harus dipenuhi yaitu Munaslubnya harus demokratis, tidak ada politik uang dan tidak ada politik perkubuan. Dengan dinonaktifkan Setya Novanto dari Jabatan Ketua Umum Golkar karena berstatus tersangka dalam kasus dugaan korupsi  proyek e-KTP, maka efek domino dari status tersangka korupsi yang disandang Setya Novanto membuat Partai Golkar terpuruk dan berada pada titik nadir. Oleh karena itu, Partai Golkar harus secara cerdas mengangkat kembali posisi keterpurukan Partai Golkar, dengan memilih seorang Ketua Umum baru dengan kualifikasi memiliki karakter dan kompetensi sebagai seorang negarawan, yang saat ini sudah langka di Partai Golkar. 

Jika Partai Golkar masih mempertahankan gaya kepemimpinana Golkar yang pragmatis sebagaimana diperankan oleh Setya Novanto selama ini, maka Partai Golkar akan tetap terpuruk menuju Partai Gurem pada pemilu 2019. Karena itu hanya dengan memilih sosok yang negarawan dengan kualifikasi memenuhi kriteria menjadi bakal Capres/Cawapres RI pada Pemilu 2019 mendatang, Partai Golkar dapat menyelamatkan posisinya dan tetap berada pada Partai Politik papan atas bahkan bisa jadi pemenang pemilu 2019. Karena itu Munaslub yang demokratis merupakan satu-satunya solusi, karena disitulah potret seorang negarawan lahir dari Munaslub yang demokratis, tanpa politik uang dan tanpa politik perkubuan. 

Karena itu syarat utama Partai Golkar untuk bangkit dari keterpurukan pasca Setya Novanto mundur/diberhentikan adalah Munaslub yang demokratis, Munaslub tanpa semangat politik uang dan politik politik perkubuan. Jika tiga syarat dimaksud berhasil diterapkan, maka, bukan tidak mungkin, Partai Golkar akan memetik manfaat banyak dari kejatuhan Setya Novanto, malahan munaslub Partai Golkar diharapkan akan melahirkan budaya politik baru yang mengedepankan kejujuran, keaantunan dan bermartabat dengan menjunjung tinggi aspek integritas moral dan kejujuran yang tinggi demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Sejumlah bakal calon sudah dimunculkan, namun publik belum merespons isu Munaslub Golkar karena sejumlah upaya hukum sedang dilakukan Setya Novanto yang membuat publik masih melihat seberapa digdaya Setya Novanto menghadapi status tetsangka yang disandangnya. Salah satu nama yang populer digadang untuk jadi bakal calon Ketum Golkar adalah Ir. Airlangga Hartarto. Ia adalah orang muda yang memenuhi kriteria PDLT (prestasi, dedikasi, disiplin, loyalitas dan tak tercela), juga memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, karena sejak masih menjadi siswa di SMA Kanisius sudah lahir jiwa kepemimpinan terbukti dengan dipercaya sebagai Wakil Ketua OSIS di SMA Katolik Kanisius di Jakarta dan menjadi Senat Mahasiswa di Fakultas Teknik Univ Gajah Mada Jogyakarta serta  pengalaman mempimpin Barisan Muda Kosgoro dll.

Ini membuktikan bahwa Ir. Airlangga Hartarto memiliki akar yang cukup kuat di Partai Golkar, disamping tidak terkontaminasi dengan konflik kepengurusan Partai Golkar yang melahirkan dualisme kepengurusan Golkar beberapa waktu yang lalu. Meskipun pada saat ini Partai Golkar diterpa musibah akibat tsunami korupsi e-KTP yang melibatkan begitu banyak kader Golkar termasuk Ketua Umumnya Setya Novanto, namun nuansa dualisme kepengurusan di antara kubu Agung Laksono dan Aburizal Bakri pasca penunjukan Plt. Idrus Mauhram masih nampak, namun lagi-lagi Ir. Airlangga Hartarto tetap membangun semangat kader muda Golkar yang rekonsoliatif agar kedua kubu yang sudah melakukan rekonsoliasi tetap mempertahankan Partai Golkar yang solid sebagai wujud tanggung jawab untuk mengembalikan Partai Golkar sebagai aset bangsa yang mampu mengelola dan menjaga  negara ini dengan berbagai persoalan yang kompleks dan multidimensi.

Ir. Airlangga Hartarto, memang kaya akan pengalaman dan matang dalam berpolitik, karena itu  kriteria sebagai politisi yang matang, intelektual, profesional muda, organisator, nasionalis dan tentu saja religus,  kiranya akan menyatu menjadi bagian yang integral dalam sosok seorang negarawan. Ini akan menjadi modal sosial yang sangat berharga ditambah jaringan infrastruktur politik dan bisnis yang dimiliki, sehingga Munaslub Partai Golkar nanti diharapkan bisa melahirkan sosok generasi muda pemimpin  yang visioner dan negarawan, sekaligus bisa diterima oleh semua kelompok dan faksi di internal Golkar dan berbagai kelompok masyarakat di luar Partai Golkar yang plural yang selama ini menjadikan Partai Golkar sebagai rumah bersama.

Oleh: Petrus Selestinus
Koordinator TPDI dan advokat PERADI