Niccolo Machiavelli: Kekuatan Penguasa Sebagai Kunci Kesuksesan Suatu Negara

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Niccolo Machiavelli: Kekuatan Penguasa Sebagai Kunci Kesuksesan Suatu Negara

9 November 2017

Negara selalu bersifat statis dan pergolakan dalam negara dicetuskan oleh individu antar individu, individu antar kelompok dan kelompok antar kelompok (Karikatur: Istimewa)
Negara merupakan wujud kekuasaan politis yang melembagakan hak-hak dasar terutama hak milik. Setiap orang dapat menikmati haknya dengan damai dan milik pribadi dapat terjamin keberadaannya sehingga masyarakat yang memiliki kebebasan bersepakat untuk bersama-sama membentuk masyarakat politik melalui perundingan dan kesepakatan. Kesepakatan dalam pembentukan masyarakat politis inilah yang menjadi dasar terbentuknya negara. Kekuasaan dalam suatu negara terbentuk karena tidak adanya suatu keadilan antar masyarakat. Negara yang dibentuk oleh masyarakat melalui kesepakatan tidak terlepas dari ketimpangan sistem politik yang bruta. 

Keberadaan negara menghantar masyarakat terhadap kebencian karena sistem kekuasaan yang tidak horizon. Politik, agama, dan moral merupakan aspek yang melekat dalam suatu negara. Ketimpangan dalam negara diakibatkan pula oleh masalah politik, agama, dam moral. Negara selalu bersifat statis dan pergolakan dalam negara dicetuskan oleh individu antar individu, individu antar kelompok dan kelompok antar kelompok. 

Dalam pemahaman tentang kekuasaan, masyarakat mempertanyakan tentang apa itu kekuasaan, dan peran apa saja yang dimiliki konsep kekuasaan dalam suatu negara? Pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan masalah sinisme kekuasaan diatasi dalam konsep keutamaan penguasa. Penguasa memiliki hak atas statusnya sebagai penguasa dan kekuasaannya mencakup seluruh sendi-sendi dalam suatu negara.  

Pada permulaan zaman modern, Niccolo Machiavelli memiliki pandangan yang berbeda tentang kekuasaan. Menurutnya kekuasaan merupakan suatu sikap yang tertanam dalam diri sang penguasa untuk menyelamatkan kehidupan negara. Machiavelli tidak pernah menggabungkan kekuasaan dengan etika, kebajikan, keadilan, budaya dan religi. Kekuasaan bukan alat yang mengabdi kepada kebaikan, kebajikan, keadilan, kebebeasan, dan Tuhan, melainkan alat yang harus mengabdi kepada kepentingan Negara. Negara harus dinomorsatukan.

Politik: Melestarikan Kestabilan Kekuasaan.
Dalam karyanya II Princip, Niccolo Machiavelli menegaskan hal terpenting dalam politik adalah melestarikan kemapanan kekuasaan. Dan berkaitan dengan hal itu keputusan politik tidak boleh ditentukan berdasarkan pandangan agama atau moralitas. Semua tindakan adalah halal demi kepentingan Negara dan Pemerintah. Dalam gagasan ini dapat dicerna perihal apa yang dimaksudkan dengan kekuasaan politik dalam pemikiran Machiavelli. 

Ia melihat kondisi kehidupan politik nyata senantiasa ditandai oleh adanya semacam anarki kekuasaan (rakyat tidak mengakui sepenuhnya kepemimpinan sang penguasa dan golongan elite politik yang saling bertarung merebut kekuasaan) dan munculnya dekadensi moral dalam hubungan dengan pemerintahan suatu negara (rezim baru berusaha merebut kekuasaan dari rezim lama dan timbul upaya untuk membangun rezim yang lebih baru untuk merebut kekuasan dari penguasa saat itu). Oleh karena itu, baginya kekuasaan dan kekuatan militer sangat ampuh untuk melanggengkan kekuasaan.  

Untuk itu, Machiavelli menganjurkan agar para penguasa tidak perlu menenggelamkan dirinya dalam usaha mewujudkan cita-cita moral dan religius tetapi harus pandai memanfaatkan keterbatasan-keterbatasan kodrat manusia yang pada dasarnya egoistis. Sejarah merupakan kunci atas masalah-masalah dalam suatu Negara. Warga Negara hendaknya mempelajari sejarah karena sejarah akan membuka semua persoalan dalam Negara. Ia berpendapat bahwa Negara adalah penjelmaan dari kekuasaan (Kabul Budiyono, Teori Dan Filsafai Ilmu Politik ). 

Kekuasaan terbentuk dalan suatu Negara sehingga Negara dan kekuasaan digabungkan menjadi Negara kekuasaan. Negara memiliki kekuasaan pemaksa yang dapat digunakan untuk melindungi, menjaga dan mempertahankan eksistensi Negara yang disebut dengan Negara kekuasaan. Dalam Negara kekuasaan zaman modern, pertengkaran dalam memperebutkan kekuasaan selalu terjadi. Setiap kelompok atau individu memiliki hasrat yang berbeda dalam menunjang kehidupan masing-masing. Keberbedaan ini selalu tertuju kepada ketidakpuasan seseorang terhadap orang lain sehingga muncullah pertengkaran. 

Dengan kondisi ini, Machiavelli berpendapat bahwa Negara yang kacau balau, tercabik-cabik tidak dapat dipulihkan hanya dengan mengadakan hukum. Hukum dalam suatu Negara bersifat tidak mutlak, karena hukum dibuat oleh manusia melalui kesepakatan atas dasar desakan kebutuhan. Negara memperoleh tempat yang paling sempurna dalam kedudukannya, hukum harus tunduk kepada Negara. Bukan hukum yang menjadi tuan atas Negara melainkan negaralah yang menjasi tuan atas hukum. Hukum hanya digunakan pada Negara republik yang dalam situasinya berjalan  normal, tetapi bagi Negara yang sedang berada dalam posisi porak-poranda, hukum hanya memperburuk sitiasi dan kondisi Negara. Dengan kondisi ini, keadaan suatu hukum tidak memiliki kedudukan tertinggi dalam mensterilkan persoalan sehingga diganti dengan kekuasaan.

Mempertahankan dan Memperkuat Kekuasaan Negara
Dalam suatu Negara, Machiavelli menghendaki suatu situasi aman, damai dan tentram yang membawa masyarakat terhadap kesejahteraan. Menurut Machiavelli untuk mempertahankan kekuasaan di suatu  wilayah yang kerap ditimpa pertengkaran, sang penguasa harus menumpas habis penguasa yang terus memerontak. Penguasa baru dalam masa jabatannya tidak boleh berbelaskasihan sedikitpun kepada penguasa lama, karena menganggap penguasa lama merupakan faktor dari terbentuknya perpecahan dalam masyarakat. 

Kedamaian dalam suatu Negara merupakan impian dari setiap masyarakat dan juga sang penguasa. Penguasa dalam statusnya memiliki peran ganda yaitu melindungi diri dan keluarganya serta masyarakat yang mendiami daerah kekuasaannya. Mempertahankan Negara dari serangan kaum pemberontak merupakan tindakan yang berujung nyawa. Dalam penjelasan ini, Machiavelli menganggap bahwa angkatan bersenjatalah yang mamapu menerobos tulang musuh. Ia mengakui bahwa tentara yang baik merupakan dasar bagi suatu tatatan sistem politik yang baik. 

Namun karena paksaan dapat menciptakan legalitas, maka dia menitikberatkan perhatian pada paksaan. Karena tidak akan ada hukum yang baik tanpa senjata yang baik, maka Machiavelli hanya akan membicarakan masalah senjata. Dengan kata lain, hukum secara keseluruhan bersandar pada ancaman kekuatan yang memaksa. Otoritas merupakan hal yang tidak mungkin jika terlepas dari kekuasaan untuk memaksa. Oleh karena itu, Machiavelli menyimpulkan bahwa ketakutan selalu tepat digunakan, seperti halnya kekerasan yang secara efektif dapat mengontrol legalitas. Seseorang akan patuh hanya karena takut terhadap suatu konsekuensi, baik kehilangan kehidupan atau kepemilikan.
Penutup

Machiavelli adalah Filsuf yang pemikirannya terkenal pada zaman Renaisans.  Ia bukan hanya dipuja karena pemikiran yang berpengaruh besar pada masanya, tetapi ia dikutuk sebagai bajingan tak bermoral. Pemikiran yang bertolak dari sejarah merupakan kekhasan yang menjadikannya sebagai filsuf berpengaruh. Ia berpendapat bahwa untuk mencapai pada suatu keinginan maka di perlukannya kekuasaan. 

Kekuasaan merupakan suatu sarana untuk mencapai pada keinginan. Ketika seseorang atau kelompok telah mendapatkan apa yang diinginkan, sikap bosan dalam dirinya akan muncul dan dengan sendirinya kekuasaan akan hadir dalam dirinya dan tindakan untuk menguasai orang lain dilakukan kembali. Tindakan itu akan berakhir jika maut menjemput. Dalam penjelasan tentang sejarah, Machiavelli menganggap bahwa sejarah merupakan kunci dari kesuksesan. Kesuksesan akan tercapai jika kita mempelajari tentang sejarah. Alasannya memilih sejarah dalam pembentukan suatu Negara adalah sejarah merupakan kejadian yang sangat valid dengan kejadian sekarang yaitu kodrat manusia. 

Pembentukan suatu Negara politik tidak perlu mempelajarinya seperti yang dilakukan oleh Plato dan Aristoteles, melainkan melihat realita pada masa lampau. Kenyataan yang pernah dialami pada masa lampau sama kaitannya dengan masa sekarang seperti, rasa benci, senang dal lain-lain yang merupakan hukum kodrat. 

Sebagai filsuf yang terkenal karena bukunya yang berjudul II Principe atau sang pangeran, Machiavelli mengungkapkan bahwa penguasa ideal adalah seorang penguasa yang sanggup menjadi panglima militer yang dalam tugasnya dapat mengendalikan situasi yang berantakan kepada situasi damai. Panglima militer merupakan pribadi dalam menjaga dan melindungi diri. Pribadi yang baik akan membawa Negara kepada yang suatu titik yang menguntungkan bagi masyarakat.

Oleh: Ogha Galung 
Penghuni Puncak Papaya,  Gere-Maumere