MPA Palembang, Momen PMKRI Mencari Pemimpin Esensial Bukan Pemimpin Sensasional

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

MPA Palembang, Momen PMKRI Mencari Pemimpin Esensial Bukan Pemimpin Sensasional

27 November 2017

Secara sederhana kehidupan manusia terdiri dari dua elemen, yakni esensi dan sensasi; isi dan bungkus; inti dan perifer; sejati dan konsekuensi logis (Gambar: Istimewa)
Tidak terasa dua tahun sudah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dipimpin oleh Angelo Wake Kako. Dua tahun berlalu menandakan bahwa mandat yang diemban Angelo sebagai nahkoda bahtera organisasi belajar dan kaderisasi dua tahun silam ini akan berakhir.

Diskusi-diskusi warung kopi di hampir 70 cabang PMKRI seluruh Indonesia diam-diam bahkan secara terang-terangan membahas beberapa kemungkinan yang terjadi pasca kepimpinan Angelo. Salah satu hal yang paling menarik adalah pembahasan seputar sosok pemimpin PMKRI dua tahun berikutnya. Beberapa nama disebut. Beberapa nama diusulkan. Beberapa nama juga disarankan mengajukan diri menjadi ketua pengurus pusat organisasi yang sudah mengkawal sejarah bangsa Indonesia sejak 70 tahun silam itu.

Namun demikian, diskusi warung kopi tidaklah lebih dari sekedar angin lalu yang jika tidak diakomodir waktu kegiatan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) bulan Januari 2018 mendatang, akan tetap menjadi angin yang bebas berkeliaran sampai diskusi selanjutnya dilakukan. 

Tulisan ini sebenarnya adalah pengembangan refleksi penulis secara pribadi setelah membaca opini Herry Tjahjono, seorang Terapis Budaya Perusahaan yang dimuat harian Kompas, Sabtu (20/11/2017) berjudul 'Merindukan Pemimpin Esensial'.

Jika Herry dalam tulisannya mengkwatirkan kepemimpinan nasional kita yang cenderung dihuni oleh orang-orang yang "tidak menunjukkan kualitas kempimpinan yang baik", maka penulis lebih kepada bagaimana konsep pemimpin esensial menurut Herry dipakai sebagai rujukan kita bersama untuk menunjuk kira-kira siapa yang "layak dan pantas" menjadi penerus kepemimpinan Angelo Wake Kako yang sejauh ini sudah cukup baik.

Mengacu pada definisi dan arti dua tipe kepemimpinan menurut Herry (esensial dan sensasional), maka kita perlu menelisik lebih jauh sosok yang memungkinkan untuk menjadi nahkoda kita.

Pemimpin Esensial dan Pemimpin Sensasional
Dua tipe pemimpin tersebut sebenarnya berhubungan dengan orientasi kehidupan manusia pada umumnya. Secara sederhana kehidupan manusia terdiri dari dua elemen, yakni esensi dan sensasi; isi dan bungkus; inti dan perifer; sejati dan konsekuensi logis. Kedua elemen ini selanjutnya melahirkan sebuah prinsip bahwa tugas atau orientasi kehidupan manusia sesungguhnya begaimana terus berjuang untuk menjadi esensi, inti, atau sejati; bukan sebaliknya (Ibid).

Ada beberapa perbedaan mendasar antara dua elemen kepemimpinan ini.
Pertama, pemimpin esensial biasanya bekerja, berinteraksi, dan memimpin berlandaskan asas transformasional dengan para pengikut (anggota). Dengan asas transformasional, nyaris sebagaian besar aksi kepemimpinannya diarahkan agar anggota mengalami perubahan kehidupan menjadi lebih baik. Karakter, moral, intelektual dan spiritualitasnya. Dia hampir tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri, dan kepemimpinan baginya adalah amanah-panggilan hidup.

Sementara pemimpin sensasional biasanya bekerja, berinteraksi, dan memimpin berlandaskan asas transaksional. Asas transaksional itu lebih dulu ditujukan untuk berbagai 'transaksi' yang menguntungkan dirinya, bukan perhimpunan atau anggota. Dia cenderung akan mendahulukan dan menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya, menghindari resiko dengan melempar tanggungjawab ke pihak lain, dan kepemimpinan menurutnya adalah fasilitas-bukan amanah atau panggilan hidup.

Perbedaan elemen kepemimpinan di atas memberikan implikasi kepemimpinan yang sangat berbeda. Melalui hubungan transformasionalnya, pemimpin esensial akan mendapatkan kesetiaan (loyalty) dari pada pengikut atau anggota yang dipimpin. Kesetiaan akan melahirkan rasa segan kepada sang pemimpin. Sementara pemimpin sensasional dengan hubungan transaksionalnya akan menerima kepatuhan (obedience) dari pengikut atau anggota yang dipimpin. Dan, kepatuhan itu lebih dilandasi oleh rasa takut.

Gambaran singkat tentang dua tipe kepemimpinan tersebut setidaknya bisa sedikit membantu kita menentukan pilihan. Dua tahun kepemimpinan selanjutnya sangat rawan disusupi kepentingan. Tahun politik 2018 dan pesta akbar demokrasi 2019 adalah tantangan terbesar seorang pemimpin untuk tetap menjaga keutuhan organisasi. Bagaimana pun sejak lahir tahun 1947, lingkaran pengaruh PMKRI secara nasional maupun lokal tidak diragukan lagi dalam menentukan kebijakan politik nasional.

Ketika kita tidak bisa atau keliru memilih seorang pemimpin yang sewaktu-waktu tergoda untuk lebih memposisikan dirinya sebagai bagian dari tipe pemimpin yang sensasional, PMKRI mau dibawa kemana? 

Salam, Religio Omnium Scientiarum Anima
Pro Ecclesia et Patria!! 

Oleh: Andi Andur
Anggota PMKRI Cab. Surabaya-Sanctus Lucas