Mengenal Modus Praktek Human Trafficking

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Mengenal Modus Praktek Human Trafficking

24 November 2017

Kasus Olivia adalah sebagian kecil dari kasus-kasus yang pernah terjadi bahkan ada juga yang hingga puluhan tahun tidak memberi kabar ada pula yang hanya mendengar kabar korban sudah meninggal dunia setelah sekian lama dicari (Foto: Dok. Pribadi)
Human trafficking atau perdagangan manusia adalah segala bentuk jual beli terhadap manusia dan juga ekspolitasi terhadap manusia itu sendiri seperti pelacuran (bekerja dan layanan seksual secara paksa), perbudakan atau praktek yang menyerupainya, termasuk juga perdagangan atau pengambilan organ tubuh manusia.

Praktek kejahatan ini sudah sejak lama menjadi perbincangan serius dan tidak asing lagi di Indonesia kususnya di NTT. Pelaku kejahatan yang bermain biasanya disebut calo. Merekalah yang berperan aktif sebagai sales dan menawarkan pekerjaan kepada masyarakat khususnya di desa-desa terpencil. Para calo bekerja sama dengan penjahat-penjahat dan perusahaan ilegal atau orang-orang yang akan menerima dan menampung para korban human traffickng.

Bisnis illegal ini sangat tidak berprikemanusiaan karena pekerjaan yang ditawarkan dan disepakati tidak sesuai dengan yang dijalankan, bahkan ada yang dianiaya dan diperlakukan seperti babu atau dipaksa bekerja tanpa diberi gaji.

Pekerjaan yang sering ditawarkan salah satunya adalah menjadi pekerja rumah tangga, ada pula yang menawarkan bekerja di perusahaan tertentu dengan gaji yang tinggi. Modus jitu para calo ini membuat masyarakat tergiur. Benapa tidak, semuanya akan mereka tanggung dari ongkos perjalanan hingga makan minum dalam perjalanan dan sampai ke tempat tujuan.

Modus pelaku kejahatan ini dengan memberikan pekerjaan kepada  salah satu anggota keluarga kemudian dikirim bekerja di kota-kota besar dan upah perbulannya akan diterima oleh keluarga atau orang tuanya di kampung, tetapi akan ada potongan oleh para calo ini selama beberapa bulan sebagai uang ganti biaya  perjalanan dan makan sesuai kesepakatan.

Ada juga istilah uang sirih pinang, artinya pelaku kejahatan ini mendatangi keluarga korban dan memberi sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar, sehingga keluarga korban akan merasa terbebani dan membiarkan anaknya mengikuti mereka. Uang sirih pinang juga sebagai ikatan persetujuan antara kelurga korban dan pelaku kejahatan.

Dari sekian banyak kasus yang terjadi biasanya pengiriman gaji akan berlangsung selama beberapa bulan saja, setelah itu tidak ada pengiriman lagi dan kabar dari korban pun mulai hilang hingga tak ada kabar sama sekali.

Para korban  biasanya dikirim ke Malaysia, Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Perekrutan tenaga kerja (korban), sebagian besar diambil dari remaja umur belasan tahun dan dikirim secara ilegal tanpa harus memiliki KTP dan syarat sebagai pekerja resmi. Atau semua dokumen akan dipalsukan mulai dari passport untuk yang bekerja diluar negeri hingga dokumen penting dan data diri lainnya.

Salah satu contoh kasus yang diduga korban kekejaman human trafficking menimpa seorang remaja perempuan, Olivia Tijung (19) asal Iteng Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai (NTT). Tiga tahun silam Olivia dikirim ke Jakarta untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga oleh seorang calo tetapi sampai sekarang keluarga tidak pernah menerima kabar dari Olivia mulai dari Olivia pergi tiga tahun silam hingga sekarang. 

Keluarga sudah mencari kabar dari Olivia dan sudah melapor kejadian ini  kepada pihak kepolisian, namun hingga sekarang belum ditemukan. (Informasi ini sudah dimuat di Florespost.com dan Melanesiahotnews.com)

Kasus Olivia adalah sebagian kecil dari kasus-kasus yang pernah terjadi bahkan ada juga yang hingga puluhan tahun tidak memberi kabar ada pula yang hanya mendengar kabar korban sudah meninggal dunia setelah sekian lama dicari.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa para pelaku kejahatan dengan liar dan mudah masuk ke lingkungan masyarakat, mencuci otak mereka dan dengan bebas melakukan tindakan Human Trafficking yang sangat terkutuk? Kemana penegak hukum, kenapa selama ini isu Human Trafficking masih marak terjadi? Atau kah ada oknum-oknum penegak hukum yang juga ikut bermain melindungi para pelaku kejahatan ini dan mendapat uang cuci tangan? Haruskah para generasi penerus negeri ini terus menerus dijual dan masyarakat semakin melengah dan membuka tangan untuk para pelaku kejahatan?

Oknum-oknum yang melakukan ini harus ditindak tegas dan apabila ada penegak hukum yang ikut melindungi para pelaku kejahatan ini harus diusut secara transparan. Seharusnya pemerintah daerah dan pusat lebih peka, turun langsung ke desa-desa untuk memberi penyuluhan dan seminar khusus, terkait bahaya Human Trafficking dan memberi pengertian tentang maraknya kasus penjulan manusia baik di Indonesia lebih kususnya di daerah-daerah terpencil.

Masyarakat pun sudah seharusnya memiliki rasa tanggungjawab yang sama untuk menyelamatkan anak-anaknya dari kasus-kasus serupa. Pahami polanya, lakukan komunikasi dan tingkatkan selalu kewaspadaan akan ancaman yang tengah mengintai anak-anak kita.

Oleh: Emanuel Odi