Menelisik Kembali Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mengawasi Anak

Untuk alasan-alasan yang tak sepenuhnya kita pahami, beberapa orang mencapai keputusasaan dan rasa sakit yang dalam sehingga mereka mulai mempercayai bahwa mereka lebih baik mati saja (Foto: Dok. Pribadi)
Dalam kurun waktu satu bulan, sudah terjadi dua kasus bunuh diri. Media oneline lokal di Manggarai pun kerap kali memberitakan masalah bunuh diri tersebut. Hari Senin (27/11/2017), Ruteng kembali dikejutkan dengan kasus bunuh diri seorang pria berinisial YMS menyiram dirinya dengan minyak tanah lalu menyulutkan api ke tubuhnya di Ngali Leok perbatasan antara kelurahan Golodukal dan Kelurahan Bangka Leda, Ruteng. Setelah membakar diri, korban lari dan melompat pagar, (Florespost.co).

Masih kasus yang sama, bulan Oktober lalu,tepatnya Kamis, 26 Oktober 2017, naas menimpa MIL (14). MIL adalah seorang siswi di salah satu sekolah di Ruteng. Ia tewas bunuh diri di kediamannya di Kios Mutiara jalan Arabika (Gang Kuburan Tenda Ruteng), Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, (VoxNtt.com).

Ia tewas dengan cara membakar diri memakai minyak tanah di kamar mandi. Dalam waktu satu bulan, terjadi kasus yang sama. Tentu,masih banyak lagi kasus serupa yang terjadi sebelumnya di Kota Ruteng, Manggarai.

Sungguh! Ini peristiwa yang sangat memprihatinkan. Sangat disayangkan, hidup harus  berakhir dengan cara yang sangat tragis. Di satu sisi, mungkin ini merupakan akumulasi masalah, kemarahan yang tidak dapat diatasi sendiri. Di sisi lain,ini merupakan tanda dangkalnya seseorang untuk berpikir jauh tentang hidup. Gaya hidup individualis seolah mengekang pikiran dan hati untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Mengapa orang bunuh diri?

Dr. John Campo, Ketua Bidang Psikiatri dan Perilaku Kesehatan di The Ohio State University Wexner Medical Center, mengatakan, ”Untuk alasan-alasan yang tak sepenuhnya kita pahami, beberapa orang mencapai keputusasaan dan rasa sakit yang dalam sehingga mereka mulai mempercayai bahwa mereka lebih baik mati saja.”

Keyakinan dan pemikiran lebih baik mati saja itulah yang memicu dan memacu orang-orang melakukan upaya bunuh diri. Hal ini,menurut penulis, disebabkan oleh kurangnya pergaulan dengan orang lain,kurangnya sosialisasi diri dengan orang lain (keluarga, teman, sahabat, kenalan, dan lain sebagainya), juga akibat depresi, pelecehan, kekerasan, dan kondisi latar belakang sosial. Hal inilah yang kemudian orang kerap melakukan aksi bunuh diri.

Latar belakang sosial ekonomi, misalnya, tidak mampu memberi jaminan kepada anak untuk memenuhi kebutuhannya. Ketika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan sang anak, bukan tidak mungkin anak akan merasa hidupnya sangat susah untuk dijalani. Apalagi, ketika melihat temannya yang gaya hidupnya sangat mewah, pasti dia merasa iri. Perasaan iri dengan teman inilah yang kemudian anak memaksa orang tua untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Ketika orang tua tidak bisa memenuhinya, maka Ia merasa hidupnya tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

Padahal, pada prinsipnya orang tua tidak pernah membantah apa yang diminta oleh anaknya,tetapi hanya karena situasi (masalah ekonomi) yang membuat orang tua tidak bisa memenuhi permintaan anaknya. Hal lain,misalnya depresi. Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, kehilangan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan, (Davison, dkk, (2005). Barangkali pada situasi ini, anak merasa sedih karena orang tuanya tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Atau mungkin karena ada masalah dalam pergaulan, khususnya masalah asmara.

Pengawasan Orang Tua

Banyak orang berpikir bunuh diri adalah hal tabu dan tak perlu diperbincangkan. Namun, sesungguhnya orang-orang yang ingin bunuh diri itu justru perlu teman bicara yang bisa menolong dan menghindarkan mereka dari aksi nekat tersebut. Teman bicara yang paling dekat dengan mereka sebenarnya adalah orang tua.

Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan sehari-hari dan cinta yang telah diikrarkan khususnya kepada pasangan pernikahan, Freud (Bischof:1976). Freud juga menjelaskan bahwa seseorang dikatakan dewasa apabila mau dan mampu bertanggung jawab terhadap segala tingkah laku, pekerjaan dan karir yang dilakukan sehari-hari.

Dalam konteks ini, orang tua sebenarnya tidak hanya bertanggung jawab untuk memelihara, merawat, dan menjaga. Tetapi, orang tua juga harus dijadikan sebagai tempat anak untuk mengadu,tempat anak untuk bercerita dan tempat anak menyampaikan curahan hatinya. Hemat penulis, tidak ada orang lain selain orang tua untuk memberi pencerahan edukatif terhadap anak dan juga tempat anak memperoleh nilai-nilai. 

Dengan demikian, orang tua dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua yang dilakukan, baik memenuhi kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan edukasi untuk kehidupan keluarga sebagai wujud cinta terhadap anak-anaknya. Orang tua yang matang tidak takut mengabaikan kepentingan dirinya sendiri dalam mempertanggungjawabkan cinta yang diikrarkan.

Ronny T. Wirasto, Psikiater lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, dalam makalahnya yang berjudul Suicide Prevention in Indonesia: Providing Public Advocacy menyebut peristiwa bunuh diri di Indonesia banyak terkait dengan gangguan kesehatan mental, permasalahan keluarga, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, sikap tak menghormati agama, serta hubungan sosial yang buruk. Oleh karena itu, penting bagi keluarga secara intensif  untuk membimbing dan menolong mereka supaya tidak melakukan aksi itu. Orang tua harus mampu mengetahui situasi yang dialami anaknya. Ketika anak kelihatan murung, orang tau harus menanyakan apa yang terjadi dengan anaknya.

Sebab, ketika orang tua membiarkan anaknya untuk terus mengurung masalah, sangat dimungkinkan anak melakukan aksi bunuh diri. Oleh karena itu, orang tua sedapat dan sesering mungkin harus bisa menanyakan situasi yang dialami oleh anak.

Peran Sekolah

Lingkungan pendidikan, khusunya sekolah, mempunyai peran yang sangat penting untuk mengatasi aksi bunuh diri tersebut. Sekolah harus mampu memberi kesejukkan bagi siswa dan dijadikan sebagai tempat yang harmonis untuk membangun kehidupan siswa, juga dapat memainkan peranan penting dalam mencegah perilaku merusak diri tersebut. Sekolah berkewajiban membangun sistem nilai, ajaran-ajaran moral, agama dan sosial guna menyikapi dan  mengantisipasi tindakan bunuh diri pada kelompok usia sekolah.

Guru pada prinsipnya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi lebih dari itu, guru juga harus memainkan perannya sebagai pendidik. Sebagai seorang pendidik guru memiliki tugas untuk mengembangkan kepribadian dan membina budi pekerti serta memberikan pengarahan kepada siswa agar menjadi seorang anak yang berbudi luhur. 

Dengan demikian, siswa mampu mempertimbangkan segala hal yang ingin dibuatnya dengan memperhatikan dampak yang akan muncul.

Ada beberapa solusi yang ditawarkan penulis untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama, membangun kondisi dan suasana yang nyaman bagi anak. Dalam hal ini, orang tua harus mampu meyakini anak bahwa sekeras apapun hidup yang dijalani atau masalah yang dihadapi, keluarga adalah pelabuhan dan tempat yang paling nyaman dan aman di dunia ini.  Membangun kondisi dan suasana yang hangat dan akrab tidak selalu mengikuti kemauan anak, namun tetap melatih mereka untuk mengenali perasaan, emosi dan rasanya melalui penjelasan, dialog dan menggali informasi tentang situasi yang dialami anak.

Kedua, pada prinsipnya, anak ingin diakui keberadannya. Apapun yang dilakukannya, berapapun usianya, tetap harus diakui. Ketika anak tidak diakui keberadaannya, sangat retan melakukan aksi bunuh diri tersebut. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan perhatian penuh dan khusus guna mengatasi hal tersebut.

Ketiga, Guru harus mampu mengidentifikasi ”anak yang mengalami krisis” sejak dini. Ketika guru sudah menemukan masalah yang dihadapi, maka perlu melakukan konseling atau merujuk mereka ke pelayanan yang sesuai. Keempat, anak perlu dilengkapi dengan keterampilan sosial, membangun rasa percaya diri, saling berbagi situasi krisis dengan yang lain, mencari saran dan bahan pertimbangan untuk membuat pilihan dan terbuka untuk pengetahuan baru.

Kelima, Guru perlu menciptakan lingkungan yang sehat untuk interaksi yang positif diantara siswa dan guru.  Meningkatkan harga diri siswa dan membantu mereka mengatasi situasi stres dengan berbagi pengalaman hidup yang positif, bukan memberi dan menambah beban kepada mereka. Sekolah juga harus menjadi tempat yang sehat melalui kegiatan sekolah yang lebih baik, membina hubungan interpersonal yang bisa mencegah perilaku berbahaya yang akan dibuat siswa.

Oleh: George Gervasius Kodrati
Mahasiswa Prodi PBSI STKIP Santu Paulus Ruteng

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Menelisik Kembali Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mengawasi Anak
Menelisik Kembali Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mengawasi Anak
https://3.bp.blogspot.com/-BbRh4zFS_N0/Wh7P1LZS58I/AAAAAAAAAIk/ZAnyIGCNsIAVNV3qz0Z1y5XtYBLy0mQ5wCLcBGAs/s320/IMG_4674_1.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-BbRh4zFS_N0/Wh7P1LZS58I/AAAAAAAAAIk/ZAnyIGCNsIAVNV3qz0Z1y5XtYBLy0mQ5wCLcBGAs/s72-c/IMG_4674_1.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/menelisik-kembali-peran-orang-tua-dan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/menelisik-kembali-peran-orang-tua-dan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy