Marianus Sae, Ahoknya NTT?

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Marianus Sae, Ahoknya NTT?

24 November 2017

Mengacu kepada kedua hal tersebut, penulis tidak bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut benar dan hal tersebut keliru kalau memang kita benar-benar mendambakan seorang pemimpin baru yang berintegritas dalam memimpin NTT (Foto: victorynews.id)
Viralnya pemberitaan media yang menduga Marianus Sae bermasalah secara hukum dan moral mengindikasikan bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi dalam diri seorang Marianus. Bupati Ngada yang optimis didukung oleh PDIP (9 kursi) dan PKB (5 kursi) menuju Pilkada serentak 2018 itu diserang dengan dua isu yang sarat kepentingan. 

Pertama, berdasarkan pers realise yang dikeluarkan oleh Koalisi untuk Demokrasi Berintegritas di NTT (23/11), Marianus Sae dinilai masih menyandang status tersangka dalam kasus pemblokiran Bandara Turelelo-Soa, Ngada, Bejawa, NTT pada 21 Desember 2013. Menurut Paulus Gregorius Kune, perwakilan dari Koalisi untuk Demokrasi Berintegritas di NTT kasus ini sudah sekian lama ditangani oleh Polda NTT dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kementerian Perhubungan Indonesia. Namun, penanganannya lambat dan tidak ada kejelasan sampai sekarang.

Kedua, masih dari pers realise yang sama kasus moral yang diduga juga menjerat Bupati Ngada ini adalah menghamili mantan pembantunya, Maria Sisilia Natalia yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki bernama Reginaldus Flavius pada 7 Mei 2012. Untuk kasus ini menurut Paulus juga bahwa Bupati Marianus tidak bertanggungjawab dengan selalu membantah hal tersebut.

Untuk dugaan yang kedua, diperkuat oleh beredarnya video berjudul "Marianus Sae: Uang, Kekuasan dan Sex" di media sosial facebook dan mendapat tanggapan yang beragam dari netizen.

Bagaimana kita mesti bersikap?

Sebagai subjek demokrasi, target utama isu ini adalah masyarakat yang terutama mengidolakan Marianus Sae menjadi pemimpin NTT setelah masa kepemimpinan Frans Lebu Raya berakhir. Bagi penulis, kedua isu ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, bisa dimaknai sebagai bagian dari proses edukasi politik dengan target utama bisa meloloskan kepentingan mengenal masing-masing calon Pilkada yang diisukan maju sedalam-dalamnya. Sementara di sisi lain, pelemparan kedua isu ini ke publik cenderung lebih dimaknai sebagai upaya pembunuhan karakter seorang Marianus Sae jelang Pilkada 2018.

Mengacu kepada kedua hal tersebut, penulis tidak bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut benar dan hal tersebut keliru kalau memang kita benar-benar mendambakan seorang pemimpin baru yang berintegritas dalam memimpin NTT.

Namun meski demikian, patut kita pertanyakan juga kepada siapa saja yang dengan niat baiknya membongkar ini ke publik terutama soal waktu (timing) pelemparan isu.

Pertama kasus ditetapkannya Marianus Sae sebagai tersangka. Kasus ini terjadi pada tahun 2013, pada waktu itu berdasarkan pengamatan penulis Marianus menjadi sosok baru yang menyita perhatian publik lokal maupun nasional sebagai salah satu Bupati yang tegas dan terkesan out of the box. Banyak yang mendukung dan kagum dengan keputusannya memblokir Bandara Turelelo-Soa Ngada, Bejawa karena alasan yang menurut penulis sangat masuk akal. Pertanyannya adalah kalau kasus tersebut terindikasi sebagai perbuatan melawan hukum dan mengganggu aktivitas publik mengapa tidak dituntut untuk sesegera mungkin Marianus Sae diproses secara hukum dan dipenjara kalau perlu?

Kedua,  kasus amoral dengan mengamili pembantunya sendiri pada tahun 2012 tuntutan agar Marianus Sae mengakui perbuatannya, apa yang mau kita dapat? Tidak layak dijadikan sebagai seorang pemimpin, esensinya apa jika kinerja dan program kerjanya bagus? Sehingga bagi penulis, ini sungguh sangat menggelitik bagaimana mungkin kita mengurusi ranah privat seseorang untuk kemudian digoreng isunya agar niatnya melayani publik dengan baik terhalang?

Mengcopy komentar seorang pembaca berita tuntutan agar PDIP tidak mengusung Marianus Sae pada Pilkada NTT mendatang di kolom komentar media ini, "Bad news is good news, Marianus Sae tetap di hati masyarakat NTT".

Mari kita berpolitik dengan bijak agar kebijaksanaan politik mampu mengantar kita pada cita-cita luhur bangsa Indonesia pada umumnya, NTT khususnya. Marianus Sae, Ahoknya NTT? Biarkan masyarakat NTT yang menilainya. Salam..

Oleh: Andi Andur