Lodok, Cicing Menalar Tuhan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Lodok, Cicing Menalar Tuhan

9 November 2017

Budaya tidak selalu berada dalam ukuran ratio penciptanya lantaran nuansa mistis yang dikandungnya membutuhkan keterarahan jiwa pada sumber segala kreasi itu sendiri (Foto: Istimewa)
Budaya bukankanlah bagian dari kajian teoritis meski sering dijadikan sebagai obyek kajian ilmu pengetahuan. Terbentuk karena adanya dialektika kehidupan antara manusia dan sesamanya yang hidup dalam naungan alam ciptaan, bagian yang membentuk kesempurnaan dunia. 

Ketika manusia mulai berkreasi dan mematenkan dalam tutur dan tindakan maka disanalah budaya terbentuk mencari bentuk yang paling tinggi. Budaya tidak selalu berada dalam ukuran ratio penciptanya lantaran nuansa mistis yang dikandungnya membutuhkan keterarahan jiwa pada sumber segala kreasi itu sendiri.

Dalam pembagian tanah orang Manggarai, istilah lodok dan cicing sudah tidak asing lagi. Lodok adalah pusat, dan cicing menjadi batasan luar dari kebun. Antara lodok dan cicing terdapat langang garis batas kepemilikan individu dalam kesatuan  komunal yang disebut lingko.

Lodok sebagai pusat adalah simbol dari Sang Sumber Kehidupan. Titik awal segala ciptaan dan muara terakhir dari seluruh pencarian spiritual manusia. Apapun yang berasal dari sumber kehidupan tidak pernah mengandung calang (salah) dan cela (kelemahan) dan jika dalam perjalanan waktu manusia kehilangan arah maka maka ia pasti akan mencari sumber kebenaran dan keadilan. 

Munculnya keos atau kekacauan selalu disebabkan oleh individu. Egoisme dan materialisme mengantar manusia pada semangat langang-isme.  Adanya paki tau (saling membunuh) karena orang lebih mementingkan langang daripada lingko. Lodok dan cicing hanya dipandang sebagai pusat dan batasan materil yang nilai kesakralannya tidak lagi menyentuh nurani para pewaris kehidupan. Kesejahteraan bersama dikapling-kapling oleh semangat menumpuk harta. Keadilan menjadi kompetisi menang kalah diperadilan. 

Sebagai hasil karya manusia budaya membentuk entitasnya sendiri. Dalam entitas itulah eksistensi identitas manusia yang menghidupi dan juga menjadi pewaris dapat ditemukan. Dalam budaya terkandung jiwa dari sebuah peradaban. Jiwa itu mentransformsi diri dalam kata “do’ang” atau mantra, Wintuk atau tata cara dan tingkah laku, gauk atau sikap, pande atau perbuatan. 

Budaya hadir dalam simbol materil seperti niang (rumah adat), Pati tanah (pembagian tanah), towe (sarung), dan lain sebagainya. Semuanya itu mengandung pesan tersirat yang terus ditransformasikan oleh ratio setiap generasi tanpa harus membuat batasan salah dan benar. 

Merawat kebudayaan berarti merawat jiwa peradaban. Rusaknya keberagaman dalam rumpun kemanusiaan menjadi tanda terputusnya nalar ketuhanan dalam karsa materialisme. Cara berpikir ontologis mendominasi  pa’ang olon agu ngaung musin, sehingga natas tidak lagi berfungsi sebagai ruang dialog kehidupan yang mempersatukan melainkan sarana toto ombeng agu lomes (narsis dan eksis) individu.

Pocu ngasang data” gosib menjadi kurikulum baku budaya ci hutu (cari kutu) para wanita. Sementara mu’u luju dan lema emas (kesantunan dan seni dalam bertutur) menjadi topeng kemunafikan para lelaki untuk mendomunasi satu dengan yang lain.

Oleh: Yoseph S. A. Jemparut