Larangan Tangkap Ikan Paus di Desa Lamalera, Ini Tanggapan Ketua KEMADABAJA
Cari Berita

Larangan Tangkap Ikan Paus di Desa Lamalera, Ini Tanggapan Ketua KEMADABAJA

25 November 2017

Solusi yang ditawarkan Menteri Susi yang meminta kegiatan Leva diganti dengan hanya menonton ikan paus lewat sangat tidak masuk akal (Foto: Dok. Pribadi)
Pernyataan Kementrian Kelautan dan Perikanan mendapat kecaman dari sejumlah aktivis muda, termasuk komunitas mahasiswa KEMADABAJA (Keluarga Besar Mahasiswa dan Pemuda Lembata Se-Jabodetabek) terkait larangan atau statemen yang di keluarkan oleh Mentri Kelautan untuk tidak lagi menangkap ikan paus di desa Lamalera Kec. Wulandoni Kabupaten Lembata, NTT.

Choky Askar Ratulela, selaku ketua dari komunitas  Kemadabaja menyampaikan komentar dan penolakan dari larangan oleh Mentri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Mahasiswa dan pemuda Lembata di Jakarta yang disini diwakili oleh ketua Kemadabaja, Choky Ratulela merasa sangat kecewa dengan pernyataan Ibu Susi yang mengeluarkan pernyataab melarang tradisi penangkapan Ikan Paus (Baleo) di Lamalera. 

Choky menilai bahwa sebuah kebijakan atau sistem tidak bisa melarang atau membatasi kebiasaan adat istiadat, tradisi penangkapan ikan paus atau dalam bahasa lamalera disebut LEVA yang sudah ada dan berjalan selama 400 tahun yang lalu sebelum Indonesia merdeka dan sebelum Negara ini di dirikan. 

Dalam hal ini Choky menekankan bahwa Ibu Susi jangan melihat proses penangkapan ikan paus saja. Secara garis besar ini bukan seperti kasus-kasus pencurian ikan yang sering terjadi.

"Ibu Susi jangan samakan tradisi di Lamalera sebagai pelanggaran UU perlindungan ikan, karena ada banyak tahapan sebelum ritual ini dilakukan dan dilalui dari nelayan pergi ke gunung membuat seremoni ke batu paus dan meminta izin kepada leluhur".

Sistem atau peraturan yang berkaitan dengan keberlangsungan sebuah adat istiadat yang jelas, dan sudah ada sejak jaman dahulu kala, harus disosialisasikan terlebih dahulu. 

"Ibu Susi seharusnya turun langsung ke Lamalera, melakukan observasi, pendekatan serta komunikasi secara musyawarah. Tidak memandang hal ini dari segi peraturan saja  dan mempelajari bagaimana adat istidat ini berjlalan karena hal ini sangatlah berbeda dengan penangkapan ikan secara legal dan sistem bartel yang sudah ada sejak lama" lanjutnya.

Ini menjadi polemik atau kontroversi yang sudah lama terjadi di Lemalera, berbagai tanggapan pun muncul dari masyarakat local baik di Lamalera atau masyarakat Lembata pada umumnya. Ada yang pro dan ada pula yang  kontra. Pihak yang tidak mendukung kebijakan ini sudah jelas alasannya karena ingin mempertahankan adat istiadat dan tradisi yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang yang harus di jaga dan di lestarikan. Sementara pendapat orang yang mendukung kebijakan ini belum bisa memberikan jawaban yang jelas dan masuk akal soal kebijakan tersebut.

Jenis ikan paus yang di tangkap juga tidak sembarang paus, sperm whale dalam bahasa latin physeter macrochepalus atau yang dalam bahasa Lamalera dikenal dengan nama Koteklema adalah jenis paus jinak dan mudah di tangkap. Perburuannya pun tidak berlangsung sepanjang tahun ada peraturan adat dan kebijakan daerah setempat bahwa penangkapan hanya bisa dilakukan pada bulan-bulan tertentu. Masyarakat dan nelayan boleh menangkap ikan paus mulai dari bulan Mei hingga November, setelah itu tidak ada penangkapan dan perburuan. Apabila ada yang melanggar, maka akan ada hukuman yang di berikan baik hukum adat atau hukum pidana.

Solusi yang ditawarkan Menteri Susi yang meminta kegiatan Leva diganti dengan hanya menonton ikan paus lewat sangat tidak masuk akal. Hal ini kerena ada peralihan kebiasaan adat istiadat menjadi sebuah pertunjukan biasa yang akan terjadi. Sehingga bagi jelas seperti yang dikatakan Choky bahwa solusi yang tepat mengatasi persoalan ini adalah masyarakat harus tetap berpegang teguh pada adat dan istiadatnya namun dengan catatan harus bisa menjaga kelestarian serta unsur keunikan dan sakral dari tradisi ini agar tetap awet terjaga.

Oleh: Rista Meo
Mahasiswa STPI, Jakarta