Labuan Bajo:Penghargaan Adipura dan Kota Jorok
Cari Berita

Labuan Bajo:Penghargaan Adipura dan Kota Jorok

24 November 2017

Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat, sekolah, dan para pemerintah daerah atas aksi nyata upaya pelestarian lingkungan hidup dan hutan (Foto: Dok. Pribadi).
Penghargaan sertifikat Adipura kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan fenomena Sampah,mesti dilihat secara utuh dan obyektif.

Sebuah prestasi gemilang, ditorehkan oleh Pemerintah Manggarai Barat bulan Agustus yang lalu. Dimana Kabupaten paling Barat Pulau Flores itu mendapatkan penghargaan sertifikat Adipura dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya kategori Kota Kecil di Gedung Manggala Wanabati, Jakarta.

Bersamaan dengan penyerahan di bidang Lingkungan hidup lainnya, yaitu penghargaan Kalpataru, Adiwiyata,dan penghargaan Nirwasita Tantra. Untuk penghargaan Adipura, sebanyak 22 kabupaten/kota mendapatkan piala, dan 41 kota kecil yang mendapatkan sertifikat termasuk Labuan Bajo yang berada diurutan paling akhir. Di hadapan para Bupati/Wali Kota, Siti Nurbaya,memyampaikan terima kasih atas pencapaian ini.

Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat, sekolah, dan para pemerintah daerah atas aksi nyata upaya pelestarian lingkungan hidup dan hutan.

Acara tahunan Kementrian Lingkungan Hidup (LHK) semacam ini diberikan hanya kepada kota yang telah berhasil mewujudkan kota bersih, teduh, sehat, dan berkelanjutan dengan menerapkan prinsip tata kota yang baik (good governance).

Dengan serangkaian proses yang rumit dan ketat, yaitu melalui sebuah penelitian terhadap kebersihan yang tampak secara umum dan pengorganisasian Pemerintah terhadap warga kotanya dalam menggalakan usaha kebersihan lingkungan.

"Hari ini, semua usaha itu sudah terjawab, siapa pun yang dapat itu karena kinerjanya" tegas Siti Nurbaya dalam sambutannya.

Seperti buah nangka jatuh di tanah gersang, aroma penghargaan itu disambut meriah oleh pemerintah Manggarai Barat. Terharu, terpana, kota seumur jagung justru masuk dalam penilaian kota bersih oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Apa yang didapat adalah jawaban dari usaha yang telah digiatkan. 

Dalam kehidupan, dunia apa pun itu selalu berlaku prinsip "tanam-tuai". Pemerintah Manggarai Barat telah berupaya mewujudkan kota yang bersih dan hari ini fakta mengatakan itu dan tidak ada yang membantahkan.

"Ini adalah prestasi kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat telah berhasil mengelolanya menjadi lebih bersih", kata  Gusti Ch Dula, dihadapan unsur-unsur pemerintah Manggarai Barat.

Apa yang terjadi, pasca penerimaan Sertifikat Adipura berbeda dengan kenyayataan kota Labuan Bajo hari ini. Seperti yang diberitakan beberapa hari belakangan, raihan sertifikat kota Labuam Bajo, tak selinear dengam keadaan kota sesungguhnya.

Labuan Bajo, kota paling kumuh dan jorok 
Penataan tempat pembuangan sampah akhir yang amburadul dan ngawur berserakan dimana-mana menawarkan tampilan kota yang jorok serta tidak seindah seperti sertifikat Adipura. Kenyataan ini pun ditanggap serius oleh DPRD dalam sidang paripurna RAPBD 2018 beberapa saat yang lalu.

Merasa apa yang sedang digalang oleh pemerintah Mabar bahwa sudah melakukan usaha maksimal terkait sampah, lalu ada pemberitaan miring sampah di Labuan Bajo seperti tidak terurus.

"Labuam Bajo sebagai salah satu kota destinasi dunia, masak kami diam" terang Gusti Dula, dengan tetap menimpali penilaian yang benar-benar menyudutkannya.

Biarpun jorok, asalkan dapat penghargaan Sertifikat Adipura,sambungnya seperti sudah beredar di mana-mana. Apa yang terjadi, menurut saya kita harus melihatnya secara utuh dan menyeluruh dengan pernyataan itu.

Frasa jorok, sebagaimana pernyataan salah satu menteri saat peresmian Gua Maria di Flores Timur beberapa saat yang lalu adalah mengabaikan upaya yang sedang dilakukan. Ini benar-benar asal menyampaikam pendapat. 

Sementara Menteri yang bersangkutan,belum pernah datang duduk bersama lalu mencari sejumlah solusi untuk mengatasi masalah sampah tersebut. Bagaimana bisa, mendengar pengakuan secara sepihak dari orang-orang tertentu lalu dengan mudahnya mengambil kesimpulan.

Dari sudut pandang cara mengelola keutuhan pesan terhadap persoalan yang sedang terjadi, argumentasi pak Gusti sudah menunjukkam eksistensinya sebagai Bupati segudang pengalaman. Sebab,asas sebab-akibat telah diklarifikasi dengan baik.

Jorok, bagian dari reaksi kekecewaan Pemerintah kita, bahwa akan tidak pernah diurus sama sekali ditinggalkan. Sementara pada saat yang sama Pemda Mabar bersama DPRD menggencarkan sejumlah program, termasuk rencana membeli speed boat kecil utk menyangkut sampah dari tengah laut.

Sebagai anak bangsa, marilah mendukung Pemerintah kita, membangun Labuan Bajo butuh dukungan dan keterlibatan kita semua. Tebarkan ide-ide baik,seturut kemampuan kita bukan malah mencerca.

Oleh: Fabianus Dius
Penggiat Sosial Manggarai Barat Bali
Saat ini tinggal di Denpasar, Bali