Ketika Burung Si Pondik Tidak Bisa Berdiri

Untungnya, isteri cantik si Pondik bijak untuk urusan cinta dan berkeluarga. Tidak ia ceraikan si Pondik dengan burungnya yang sudah tidak berguna (Gambar: Istimewa)
Sejak kecil cita-cita si Pondik sangat sederhana, menjadi orang kaya. Sejak kecil juga ia mulai berpikir keras bagaimana cara supaya cita-citanya terwujud. Awalnya ia mengikuti saran sang ibu dengan cara berdoa, berbuat baik dengan orang lain dan menghormati ibu dan bapaknya. Seiring berjalannya waktu, sejalan dengan usia si Pondik yang sudah mulai menua ia kemudian berkenalan dengan beberapa alat canggih yang dikenalnya mampu menjadikannya kaya raya.

Ia tidak lagi ke Gereja, ia tidak lagi menghiraukan orang-orang disekitarnya yang berbicara dengan dia termasuk kedua orang tuanya. Ia sibuk tanya ke google mengenai cara-cara menjadi kaya. Dengan bermodal gawai pemberian ayahnya si Pondik berlahan mengalami perubahan 180 derajat. 

Pondik sudah mulai mengenal yang namanya cinta ketika ia masuk sekolah menengah. Kini cita-citanya pun bertambah satu, punya isteri cantik. Ia sangat aktif bermedia sosial. Tiada hari tanpa status di facebook, foto dan video bagus di instagram, cuitan motivasi di twitter dan merengek dibelikan kamera bagus untuk menjadi seorang youtuber.

Semua itu ia dapat dari hasil referensinya di google. Orang tua si Pondik pun kewalahan dan menyuruhnya merantau ke tanah Jawa untuk melanjutkan studi. Si Pondik menjadi anak yang teladan di kampusnya, datang lebih pagi dan selalu menyapa dengan ramah kepada siapa saja yang ia temui menjadi barang biasa yang selalu ia lakukan.

Karakter si Pondik yang lain dari mahasiswa seusianya mencuri perhatian seorang tenaga pengajar mata kuliah umum di kampus si Pondik. Diam-diam ia mengajaknya bercerita, melemparkan sejumlah pertanyaan basa-basi untuk mengakrabkan diri ternyata ampuh melunakkan hati si Pondik yang sudah mulai memetik hasil jerih payahnya menjadi seorang social media activism. Hal itu membuat sang tenaga pengajar semakin jatuh hati kepada bakat si Pondik.

Suatu hari, ketika sedang merangkai beberapa kalimat untuk media sosialnya si Pondik tiba-tiba dipanggil menghadap. Ia yang awalnya ragu dan cemas kemudian tersenyum puas ketika mendengar hendak diusung sebuah partai menjadi seorang anggota dewan di daerahnya. 

Pondik pun berubah halauan, ia tidak lagi menanggapi mention followernya di twitter. Beberapa anak usia beliau yang mengidolakannya pun harus pukul dada karena pesan mereka tidak dibalas sama sekali oleh si Pondik. Meski gosip meluas dan ada idola baru yang mengisi hati para fansnya, si Pondik acuh tak acuh. Ia masih sibuk melakukan kampanye dan transaksi sana-sini agar lolos menjadi anggota dewan. 

Baju partai pengusungnya benar-benar membuat si Pondik lupa diri. Masukan dari keluarga dan kawan tidak ia dengar, baginya orang muda harus berkarya. Berpolitik sejak usia muda bagi si Pondik adalah sesuatu yang luar biasa. 

Suatu ketika kabar buruk menghampiri, partai kehabisan uang akibat kampanye politik jelang pemilu yang sudah di depan mata. Kader partai termasuk si Pondik pun harus membayar sejumlah mahar politik jika masih mau diusung menjadi anggota dewan. Ia yang sudah bernafsu akhirnya membongkar tabungan agar bisa lolos. Konon katanya, setelah menjadi anggota dewan uangnya itu sangat kecil untuk dibandingkan dengan pendapatan mereka. Si Pondik tidak kehabisan akal, beberapa kenalan pengusaha yang pernah mengendors produknya melalui medsos si Pondik akhirnya mau membantu. Tetapi mereka meminta agar nanti ia harus mengakomodir segala bentuk tender dan proposal yang diajukan jika benar lolos.

Singkat cerita, si Pondik akhirnya menjadi anggota dewan. Gaji dan fasilitas yang sangat memadai memudahkan si Pondik membeli rumah idaman untuk ditinggali. Ia juga mendapat seorang isteri yang sangat cantik. Lebih cantik dari wanita-wanita panggilan yang biasa dicicipinya selama ini. 

Tagihan pun pelan-pelan muncul satu per satu. Hitung demi hitung gaji si Pondik tidak cukup melunasi janjinya kepada para donatur seperti apa yang disepakati sebelumnya. Tidak mau dipermalukan, akhirnya si Pondik mengajak teman-temannya menjadi mafia. Beberapa anggaran dimanipulasi, proyek-proyek berjumlah sangat besar dikelola sendiri, banyak penyimpangan yang mengindikasikan ia menjadi seorang koruptor.

Meski demikian, seberapa pun sering namanya disebut dalam ratusan persidangan Tipikor ia tidak pernah dipenjara. Sementara ibunya mengeluh soal subsidi listrik yang dihapus membuat masyarakat putus asa. Harga sembako yang mahal membuat mereka sekeluarga dan warga di kampung halaman hanya bisa makan enak pada saat acara Natal dan Pesta Paskah.

Bukannya mendengarkan ibunya si Pondik malah menghardik dengan berkata, "bukankah ini yang ibu inginkan dari anak-anak ibu? Menjadi orang yang sukses dan terpandang?". Ibunya hanya menangis tersedu-sedu, Pondik sepertinya tidak lagi bisa membaca pesan tersirat dari tatapan ibunya akibat gawai pemberian ayahnya waktu ia kecil. Ia lalu mengusir ibunya itu kembali ke kampung halaman.

Dalam perjalanan, ibunya menjadi seorang yang penuh rasa bersalah. Pikirannya tidak karuan, ia seperti orang gila. Jalan pulang tidak lagi diingatnya, ia hanya tahu merajut jerami membentuk bayi laki-laki tanpa kelamin. Sambil menangis ia menimang jerami itu sambari membayangkan wajah si Pondik kecil yang lucu. Air matanya habis merembes diantara tumpukan jerami hingga selangkang tak berkelamin itu. Ia berdoa lewat air matanya.

Beberapa hari setelah mengusir ibunya, Pondik merasakan sesuatu yang aneh dalam keluarga kecilnya. Ia acap kali mendapati isterinya murung di ujung ranjang setiap pagi. Wajah cantiknya tidak lagi memancarkan pesona seperti kekaguman si Pondik ketika ia mendesah nikmat kala bercinta. Isterinya kurang bergairah menatap selangkang si Pondik yang dihuni makhluk tak bermateri itu.

Untungnya, isteri cantik si Pondik bijak untuk urusan cinta dan berkeluarga. Tidak ia ceraikan si Pondik dengan burungnya yang sudah tidak berguna. Mungkin itu alasan mengapa ia sering mampir di rumah Ujang selepas lari pagi selama ini. Karena baginya, harta yang melimpah dan reputasi yang tinggi milik si Pondik tidaklah berguna jika burungnya tidak berdiri.

Kecuali ia mau berdamai dengan ibunya yang sekarang ini entah dimana.

Oleh: Ecclesia Christi 

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Ketika Burung Si Pondik Tidak Bisa Berdiri
Ketika Burung Si Pondik Tidak Bisa Berdiri
https://4.bp.blogspot.com/-fgkuP2imdwI/Wh8nuIlGmRI/AAAAAAAACR8/X8SFHGyZnGc7WVqnnrgFNdOBpyhhQD0fACLcBGAs/s320/Marjin%2BNews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-fgkuP2imdwI/Wh8nuIlGmRI/AAAAAAAACR8/X8SFHGyZnGc7WVqnnrgFNdOBpyhhQD0fACLcBGAs/s72-c/Marjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/ketika-burung-si-pondik-tidak-bisa.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/ketika-burung-si-pondik-tidak-bisa.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy