Guru Jangan Didik Orang Jadi Teroris

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Guru Jangan Didik Orang Jadi Teroris

25 November 2017

Menurut penulis, radikalisme agama dan gerakan mendirikan negara Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah merupakan satu kesatuan (Foto: Dok. Pribadi)
“Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju tercapainya negara adil dan makmur”. Pernyataan ini sering dilontarkan para pejuang kemerdekaan dan pendiri negara ini, terutama Proklamator Bung Karno.

Indonesia merdeka sudah 72 tahun. Namun, negara Indonesia yang sejahtera atau negara kesejahteraan Indonesia sebagaimana dicita-citakan founding fathers and mothers belum terwujud.
Saat ini Indonesia, berada dalam urutan ke-68 dari 100  negara termiskinan di dunia berdasarkan versi Bank Dunia, dengan perdapatan per kapita US$ 3,900. Indonesia berada  berada di bawah Congo Republic dengan perdapatan per kapita US$ 3,800 dan Djibouti dengan PDB US$ 3,80.

Berdasarakan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi 7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang.

Sementara jumlah penduduk miskin berdasarkan BPS,  per Maret 2017 mencapai 10,64 persen, turun tipis dibandingkan September 2016, yaitu 10,7 persen. Namun, secara nilai, jumlahnya justru meningkat menjadi 27,77 juta orang ketimbang 27,76 juta.

"Penurunan persentase penduduk miskin relatif lebih lambat dibandingkan periode-periode sebelumnya," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Padahal, kalau dilihat dari opportunity tidak ada alasan bagi negara ini untuk tidak maju (sejahtera). Sedikitnya ada dua  opportunity yang dimiliki Indonesia untuk bisa maju. Pertama, sumber daya alam (SDA) yang melimpah baik SDA yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi (migas), batubara serta jenis barang tambang lainnya dan yang bisa diperbaruhi seperti tamanan perkebunan (kelapa sawit, kelapa, kopi, cengkeh, kemiri, dll), hewan baik yang di darat maupun di air. 

Kedua, kuantitas sumber daya manusia (SDA) yang memadai. Sampai saat ini (2017) jumlah penduduk Indonesia 258 juta orang, dan angkatan kerja Indonesia sebanyak 132 juta orang.

Tantangan
Banyak tantangan (challenge) kalau tidak bisa dikatakan halangan (obstacle) atau ancaman (threat) yang membuat Indonesia tersendat untuk maju. Tantangan-tantangan itu seperti  pertama, sikap dan perilaku kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dari masyarakat Indonesia, terutama birokrat serta pejabat negara, yang masih merajalela sampai saat ini. Kedua, peredaran narkoba yang semakin masif dan sistematis. Ketiga, radikalisme agama serta usaha mengubah Dasar Negara Pancasila menjadi Negara Islam (Khilafah) dari sebagian orang Indonesia.

Menurut penulis, radikalisme agama dan gerakan mendirikan negara Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah merupakan satu kesatuan. Gerakkan merupakan merupakan hal yang membuat pemerintah terus menghabiskan energi untuk membangun yang lain demi kemajuan bangsa ini.

Mengacu pada data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2017, nyatakan, pertama, satu dari empat orang anak di sekolah di-bully (diolok, direndahkan, diancam) teman-temannya karena agamanya. Kedua,  79,5 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Ketiga, anak-anak disebut kafir karena beda agama.

Selanjutnya, survei Alvara Research Center dan Mata Air Foundation 2017, dinyatakan, pertama, 23,4 persen mahasiswa setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau Khilafah. Kedua, 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau Khilafah. Ketiga, 18,1 persen pegawai swasta menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila. Keempat, 19,4 persen PNS menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila. Kelima, 9,1 persen pegawai BUMN menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila.

Pernyataan, mengapa sampai ada siswa, pelajar, mahasiswa, PNS dan pegawai BUMN seperti itu ?
Sehari setelah Indonesia merdeka, 18 Agustus 1945, Dasar Negara Indonesia, Pancasila, dan Konstitusi Negara (UUD 1945) disahkan. Melalui perdebatan yang panjang para pendiri negara akhirnya sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhan Yang Maha Esa” disetujui. Piagam Jakarta yang mewajiban syariat-syariat untuk pemeluk Islam, tidak diterima sebagai sila pertama Pancasila. Pancasila terutama sila pertama merupakan sari pati dari ajaran agama-agama di Indonesia.

Tujuan dari negara Indonesia dinyatakan dengan jelas dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV, yakni (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh  tumpah darah Indonesia, (2)  memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.     

Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini merupakan tugas semua orang Indonesia. Namun, yang bertugas utama untuk itu adalah guru dan dosen. Jadi menjawab pertanyaan di atas salah satunya bahkan penyebab terbesar adalah guru dan dosen.

Dalam perjalanan bangsa ini, terutama di zaman reformasi ini, tidak sedikit guru dan dosen di Indonesia baik langsung maupun tidak langsung mendidik dan mengajar siswa dan mahasiswa menjadi hantu (ancaman) kalau tidak disebut teroris bagi yang lain, terutama bagi pemeluk agama yang berbeda. Bahkan sebagian guru dan dosen justru menjadi teroris dengan dalih memperjuangkan agama dan ingin mendirikan negara berdasarkan agama tertentu.

Guru dan dosen hendaknya mengajar dan mendidik murid, siswa dan mahasiswa menjadi insan yang berpikir terbuka, cinta kemajemukan. Guru dan dosen harus tekankan bahwa manusia adalah sama-sama diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai derajat dan hak yang sama. Yang berhak mencabut nyawa manusia hanyalah Tuhan sendiri.

Guru dan dosen harus banyak membaca sejarah kebangsaan dan negara, bukan hanya sejarah bangsa dan negara Indonesia. Guru dan dosen boleh rajin membaca Kitab Suci tetapi harus bisa memaknai sejarah dan konteks kata-kata kafir dalam dalam Kitab Suci. Kalau, tidak guru dan dosen akan mengajar yang salah kepada orang lain, terutama, murid, siswa dan mahasiswa. Guru dan dosen janganlah mendidik dan mengajar orang lain menjadi teroris!  Kalau guru dan dosen mengajar yang benar, maka negara kesejahteraan Indonesia tercapai.

Apa itu negara kesejahteran? Negara kesejahjeraan adalah negara dimana pemerintahnya terus bekerja untuk mensejahterakan warga negara. Pemerintah di negara seperti ini hanya konsentrasi untuk menyelesaikan soal kelaparan, kemiskinan, dan pengangguran (Isharyanto, 2016: 24).  “Konsentrasi” pemerintah tidak terganggu untuk mengurus manusia-manusia yang menjadi hantu untuk manusia lainnya, berusaha mengubah dasar negara.

Hari ini, Sabtu, 25 November adalah Hari Guru. Untuk saya mengucapkan “Selamat Hari Guru! Yang selama ini salah langkah dan tindak, segera bertobat! Jangan mendidik dan mengajar orang lain, menjadi hantu sesama manusia! Jadi teroris, jangan!"

Oleh: Edi Hardum, S. IP, SH
Wartawan dan advokat, tinggal di Jakarta