Guru Jangan Didik Orang Jadi Teroris

Menurut penulis, radikalisme agama dan gerakan mendirikan negara Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah merupakan satu kesatuan (Foto: Dok. Pribadi)
“Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju tercapainya negara adil dan makmur”. Pernyataan ini sering dilontarkan para pejuang kemerdekaan dan pendiri negara ini, terutama Proklamator Bung Karno.

Indonesia merdeka sudah 72 tahun. Namun, negara Indonesia yang sejahtera atau negara kesejahteraan Indonesia sebagaimana dicita-citakan founding fathers and mothers belum terwujud.
Saat ini Indonesia, berada dalam urutan ke-68 dari 100  negara termiskinan di dunia berdasarkan versi Bank Dunia, dengan perdapatan per kapita US$ 3,900. Indonesia berada  berada di bawah Congo Republic dengan perdapatan per kapita US$ 3,800 dan Djibouti dengan PDB US$ 3,80.

Berdasarakan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi 7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang.

Sementara jumlah penduduk miskin berdasarkan BPS,  per Maret 2017 mencapai 10,64 persen, turun tipis dibandingkan September 2016, yaitu 10,7 persen. Namun, secara nilai, jumlahnya justru meningkat menjadi 27,77 juta orang ketimbang 27,76 juta.

"Penurunan persentase penduduk miskin relatif lebih lambat dibandingkan periode-periode sebelumnya," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Padahal, kalau dilihat dari opportunity tidak ada alasan bagi negara ini untuk tidak maju (sejahtera). Sedikitnya ada dua  opportunity yang dimiliki Indonesia untuk bisa maju. Pertama, sumber daya alam (SDA) yang melimpah baik SDA yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi (migas), batubara serta jenis barang tambang lainnya dan yang bisa diperbaruhi seperti tamanan perkebunan (kelapa sawit, kelapa, kopi, cengkeh, kemiri, dll), hewan baik yang di darat maupun di air. 

Kedua, kuantitas sumber daya manusia (SDA) yang memadai. Sampai saat ini (2017) jumlah penduduk Indonesia 258 juta orang, dan angkatan kerja Indonesia sebanyak 132 juta orang.

Tantangan
Banyak tantangan (challenge) kalau tidak bisa dikatakan halangan (obstacle) atau ancaman (threat) yang membuat Indonesia tersendat untuk maju. Tantangan-tantangan itu seperti  pertama, sikap dan perilaku kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dari masyarakat Indonesia, terutama birokrat serta pejabat negara, yang masih merajalela sampai saat ini. Kedua, peredaran narkoba yang semakin masif dan sistematis. Ketiga, radikalisme agama serta usaha mengubah Dasar Negara Pancasila menjadi Negara Islam (Khilafah) dari sebagian orang Indonesia.

Menurut penulis, radikalisme agama dan gerakan mendirikan negara Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah merupakan satu kesatuan. Gerakkan merupakan merupakan hal yang membuat pemerintah terus menghabiskan energi untuk membangun yang lain demi kemajuan bangsa ini.

Mengacu pada data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2017, nyatakan, pertama, satu dari empat orang anak di sekolah di-bully (diolok, direndahkan, diancam) teman-temannya karena agamanya. Kedua,  79,5 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Ketiga, anak-anak disebut kafir karena beda agama.

Selanjutnya, survei Alvara Research Center dan Mata Air Foundation 2017, dinyatakan, pertama, 23,4 persen mahasiswa setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau Khilafah. Kedua, 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau Khilafah. Ketiga, 18,1 persen pegawai swasta menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila. Keempat, 19,4 persen PNS menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila. Kelima, 9,1 persen pegawai BUMN menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila.

Pernyataan, mengapa sampai ada siswa, pelajar, mahasiswa, PNS dan pegawai BUMN seperti itu ?
Sehari setelah Indonesia merdeka, 18 Agustus 1945, Dasar Negara Indonesia, Pancasila, dan Konstitusi Negara (UUD 1945) disahkan. Melalui perdebatan yang panjang para pendiri negara akhirnya sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhan Yang Maha Esa” disetujui. Piagam Jakarta yang mewajiban syariat-syariat untuk pemeluk Islam, tidak diterima sebagai sila pertama Pancasila. Pancasila terutama sila pertama merupakan sari pati dari ajaran agama-agama di Indonesia.

Tujuan dari negara Indonesia dinyatakan dengan jelas dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV, yakni (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh  tumpah darah Indonesia, (2)  memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.     

Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini merupakan tugas semua orang Indonesia. Namun, yang bertugas utama untuk itu adalah guru dan dosen. Jadi menjawab pertanyaan di atas salah satunya bahkan penyebab terbesar adalah guru dan dosen.

Dalam perjalanan bangsa ini, terutama di zaman reformasi ini, tidak sedikit guru dan dosen di Indonesia baik langsung maupun tidak langsung mendidik dan mengajar siswa dan mahasiswa menjadi hantu (ancaman) kalau tidak disebut teroris bagi yang lain, terutama bagi pemeluk agama yang berbeda. Bahkan sebagian guru dan dosen justru menjadi teroris dengan dalih memperjuangkan agama dan ingin mendirikan negara berdasarkan agama tertentu.

Guru dan dosen hendaknya mengajar dan mendidik murid, siswa dan mahasiswa menjadi insan yang berpikir terbuka, cinta kemajemukan. Guru dan dosen harus tekankan bahwa manusia adalah sama-sama diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai derajat dan hak yang sama. Yang berhak mencabut nyawa manusia hanyalah Tuhan sendiri.

Guru dan dosen harus banyak membaca sejarah kebangsaan dan negara, bukan hanya sejarah bangsa dan negara Indonesia. Guru dan dosen boleh rajin membaca Kitab Suci tetapi harus bisa memaknai sejarah dan konteks kata-kata kafir dalam dalam Kitab Suci. Kalau, tidak guru dan dosen akan mengajar yang salah kepada orang lain, terutama, murid, siswa dan mahasiswa. Guru dan dosen janganlah mendidik dan mengajar orang lain menjadi teroris!  Kalau guru dan dosen mengajar yang benar, maka negara kesejahteraan Indonesia tercapai.

Apa itu negara kesejahteran? Negara kesejahjeraan adalah negara dimana pemerintahnya terus bekerja untuk mensejahterakan warga negara. Pemerintah di negara seperti ini hanya konsentrasi untuk menyelesaikan soal kelaparan, kemiskinan, dan pengangguran (Isharyanto, 2016: 24).  “Konsentrasi” pemerintah tidak terganggu untuk mengurus manusia-manusia yang menjadi hantu untuk manusia lainnya, berusaha mengubah dasar negara.

Hari ini, Sabtu, 25 November adalah Hari Guru. Untuk saya mengucapkan “Selamat Hari Guru! Yang selama ini salah langkah dan tindak, segera bertobat! Jangan mendidik dan mengajar orang lain, menjadi hantu sesama manusia! Jadi teroris, jangan!"

Oleh: Edi Hardum, S. IP, SH
Wartawan dan advokat, tinggal di Jakarta

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Guru Jangan Didik Orang Jadi Teroris
Guru Jangan Didik Orang Jadi Teroris
https://3.bp.blogspot.com/-P23LfKA3W7c/WhmEWW-ll4I/AAAAAAAACMM/gCDEZuoZBWgqdsSdM-wbG3rRk20JDR7dgCLcBGAs/s320/Edi%2BHardum%2BMarjin%2BNews.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-P23LfKA3W7c/WhmEWW-ll4I/AAAAAAAACMM/gCDEZuoZBWgqdsSdM-wbG3rRk20JDR7dgCLcBGAs/s72-c/Edi%2BHardum%2BMarjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/guru-jangan-didik-orang-jadi-teroris.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/guru-jangan-didik-orang-jadi-teroris.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy