Gadis di Gerbang Efata
Cari Berita

Gadis di Gerbang Efata

9 November 2017

Tak berlebihan yang aku inginkan dari gadis itu, melainkan hanya memintanya untuk mencabut racun yang telah ia tanamkan sejak perjumpaan itu (Gambar: Istimewa)
Di depan sebuah gerbang “Efata”, aku berpijak. Aku masih ingat empat tahun lalu tepatnya di tempat aku berdiri saat ini, aku mengalami kejadian tak terlupakan. Sampai sekarang peristiwa itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Bahkan seringkali merasuk ke dalam pikiran hingga membuatku candu untuk berpaling pada waktu yang sama.

Disuatu pagi tepatnya, aku berangkat ke sekolah dengan tergesa-gesa. Aku sengaja berangkat lebih awal karena nomor terakhir PR Matematika belum aku selesaikan. Dan jelas keberangkatanku lebih awwal pagi itu tidak lain hanya ingin menuntaskan tugas itu yang terus menyiksa otakku sepanjang malam. Aku terus melangkah tanpa peduli situasi disekitarku karena dalam otakku hanya berusaha mencari metode yang tepat untuk  memecahkan soal nomor terakhir tugas Matematika yakni tentang “Persamaan Linear Dua Variabel”.  

Sambil melangkahkan kaki, aku mulai berspekulasi untuk memecahkan soal rumit itu. tanpa disadari tanganku juga secara spontan ikut bergerak ketika aku merumuskan sketsa pemecahannya “jika telor saya pakai variabel X, dan tomat saya pakai variabel Y, jadi...” Saya diam sejenak dan berusaha mengingat kembali materi persamaan linear yang diajar oleh ibu Even, guru matematikaku serta terus mencari skema pemecahannya. 

Sontak saya berteriak “Yapp, aku berhasil menemukan skema pemecahanya...”. Hap.. tiba-tiba semuanya berubah. Aku benar-benar menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Bukan ide tentang persamaan linear, melainkan sesosok gadis yang berjalan berlawanan arah denganku tersenyum melihat tingkahku yang aneh barusan. Malu bukan main jadinya. 

Aku sempat berpikir bahwa ia seharusnya tertawa keras dengan perut sakit melihat tingkahku itu, karena aku menyadari tingkahku amat konyol saat itu. Namun, gadis itu hanya tersenyum manis. Senyumanya itu begitu memikat. Seketika itu juga jantungku berdebar kencang, reaksinya lebih parah ketika aku menonton film horor. 

Aku berusaha mengendalikannya, ah malah semakin parah, detakannya semakin kencang ketika jarak semakin mendekat. Gadis itu berjalan pelan sambil memandang ke arahku. Akupun berjalan pelan dan tidak mau moment itu berlalu begitu cepat. Kakiku melangkah dengan detakan jantung yang begitu cepat, sesekali aku menggenggam erat tanganku sekedar meredakan detakan jantungku yang tajam itu. Huh, aku berpikir aku tidak bisa mengendalikannya secepat itu.

Aku terus berjalan pelan sambil menyembunyikan rasa grogiku yang tak karuan. Sesekali aku memandang wajah anggunnya. Rambutnya terurai dan dibiarkannya ditiup oleh angin nakal pagi itu. Sementara matanya yang sedikit basah memancarkan kesejukan dalam batinku. Aku tidak sanggup untuk memandang lama gadis itu, sebab semakin aku memandangnya detakan jantungku malah semakin kencang. 

Tepat di depan gerbang gedung Efata, posisi kami hampir sejajar. Saat itu aku hanya menunduk dan tak berani menatap gadis itu. Ada keinginan untuk menyapanya, tetapi jantungku terus berdebar seenaknya saja. Aku takut, kalau aku menyapa gadis itu suaraku akan kedengaran gemetar dan mungkin hal tersebut akan membuat gadis itu menertawaiku lebih hebat. Aku sungguh tidak mau kehilangan senyumannya yang pertama. 

Gadis itu berlalu tanpa sepatah kata atau kalimatpun yang keluar dari mulutku. Ketika ia berlalu, aku menemukan kekecewaan yang luar biasa. Aku terus memaki diriku sepanjang jalan dan mengolok nyaliku sebagi pecundang!. Setelah gadis itu berlalu dari tatapanku, kini aku berada dalam  ketakutan  bahwa aku tidak akan melihatnya kembali. 

Aku menyadari bahwa keberadaan gadis itu benar-benar mengubah situasiku bahkan persamaan linearku menjadi tidak berbobot lagi. Ia membuatku tersiksa selama beberapa detik dan menghapus ingatanku tentang persamaan linear. Aku memutuskan untuk menghentikan langkahku dan menoleh ke arah gadis itu. Namun, wujudnya yang anggun telah ditutupi kabut pagi yang membuat mataku tidak dapat melihatnya dengan jelas

Itulah pertemuan pertama dan terakhir dengan gadis yang memikat  itu. Aku tidak melihatnya lagi, walaupun beberapa kali aku menyempatkan diri untuk berangkat lebih awal ke sekolah sekedar ingin menjumpai gadis itu di depan gerbang Efata. Akan tetapi semuanya sia-sia, aku tidak menemukan gadis itu lagi. Dan sekarang setiap liburan semester aku menyempatkan diri melewati gerbang Efata ini, sekeder mengulang kenangan yang mendebarkan dengan gadis itu. Tak berlebihan yang aku inginkan dari gadis itu, melainkan hanya memintanya untuk mencabut racun yang telah ia tanamkan sejak perjumpaan itu.

Oleh: Ento Nalut
Kuliah di STFK Ledalero