FMU PGRI NTT, Kasus Dualisme PGRI Bentuk Mafia Pendidikan Besar-besaran

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

FMU PGRI NTT, Kasus Dualisme PGRI Bentuk Mafia Pendidikan Besar-besaran

MARJIN NEWS
30 November 2017

Menanggapi situasi ini Forum Mahasiswa Universitas (FMU)  PGRI NTT   sangat mengecam hal itu, dan menganggap itu adalah bentuk mafia pendidikan besar-besaran, baik yang dilakukan oleh Hendrikus Djawa maupun Sulaiman Radja  dan semuel Haning (Gambar: Istimewa)
Rilis pers
FORUM MAHASISWA UNIVERSITAS (FMU) PGRI NTT.
Jakarta 29 Nopember 2017

Pasca dualisme Universitas PGRI NTT antara versi Sulaiman Radja dan Semuael Haning dengan menyelenggarakan beberapa kali wisuda yang terdiri dari ribuan  wisudawan kini masih dipertanyakan soal legalitas ijazahnya lantaran kedua belah pihak menyelenggarakan wisuda dalam kondisi dualisme yang dipimpin oleh versi Rektor yang berbeda,  sementara berada dalam satu lembaga yang sama.  

Sebagai dampak dari dualisme tersebut, Kementrian Riset dan Teknologi Perguruan Tinggi mencabut izin Universitas PGRI NTT dengan IO 89/D/O/1999, melalui SK 208 lalu. Dengan mudah KEMENRISTEK DIKTI memberikan izin  baru gengan SK 288 bagi kedua belah pihak yang sudah bertikai dan mencoreng nama dan eksistensi Pendidikan tinggi di NTT.  

Pasca dikeluarkan SK 208 tentang pencabutan IO, bola api pun muncul kembali berupa kehadiran LSM Lembaga Pemantau Pengawas Trias Politika (LP2TRI) yang dipimpin oleh Hendrikus Djawa dengan mewisudakan calon sarjana mahasiswa eks Universitas  PGRI NTT dalam dua tahap masing-masing pertanggal 14 Oktober 2017, sebanyak 129 orang dan 14 November 2017 sebanyak 66 orang di Hotel Aston kupang. 

Menanggapi situasi ini Forum Mahasiswa Universitas (FMU)  PGRI NTT   sangat mengecam hal itu, dan menganggap itu adalah bentuk mafia pendidikan besar-besaran, baik yang dilakukan oleh Hendrikus Djawa maupun Sulaiman Radja  dan semuel Haning.  

Kami sebagai mahasiswa mengecam tindakan elit-elit kampus yang sudah mengorbankan, menelantar, dan memeras mahasiswa dengan memprioritaskan uang tanpa memperjuangkan legalitas kami.  Bagi kami baik HD maupun SR dan SH sama saja,  tak ada bedanya.  HD mengatasnamakan PGRI NTT mewisudahkan 184 wisudahwan saat IO universitas sudah dicabut izinnya,  tetapi SR dan SH mewisudahkan ribuan wisudahwan paska dualisme di Universitas PGRI NTT sejak tahun 2014 dalam status Universitas pembinaan,  dan non aktif.  Jadi semua tindakan itu adalah bentuk mafia pendidikan tinggi di NTT. 

Maka dari itu, sebagai perjuangan lanjutan dari FMU PGRI NTT  melalui tim perutusan mahasiswa dan alumni dengan bantuan hukum dari Pelayanan  Advokasi Untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia (PADMA  INDONESIA),  menyerahkan laporan terkait kasus  Universitas PGRI NTT ke OMBUSMAN dan KOMNASHAS. Penyerahan laporan ke komnasham pada 12.00 WIB (29/11) di ruangan pelayanan pengaduan masyarakat. Usai dari Komnashas langsung  Ombusman pada pukul 13.00 WIB. Laporan pun di terima baik oleh  kedua instansi dan menyatakan sikap untuk menangani kasus ini secepat mungkin. (TH/MN)