Eka Kurniawan: Cantik itu Luka, Jelek Apalagi?
Cari Berita

Eka Kurniawan: Cantik itu Luka, Jelek Apalagi?

22 November 2017

Pelan dan ritme cerita yang tidak terburu-buru juga cukup membantu siapa saja yang membaca CIL begitu sangat menikmati imajinasi reflektif pesan-pesan kehidupan dari seorang Eka Kurniawan (Foto: Dok. Pribadi/Andi Andur)
Sebelum muncul persepsi yang keliru soal judul tulisan ini, pertama-tama saya hendak memberitahukan bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan itu terkotak antara cantik dan jelek. Karena bagaimana pun manusia tercipta 'menurut gambar dan rupa Allah' (bdk. Kej:26-27). Membedakan yang cantik dan jelek menurut saya adalah sebuah tindakan menzolimi kodrat manusia dan terutama sang pencipta itu sendiri.

Pertama kali membaca karya seorang Novelis hebat Indonesia, Eka Kurniawan berjudul "Cantik Itu Luka" (CIL), penulis tertantang habis-habisan untuk melahapnya sampai tuntas. Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadja Mada, Yogyarta ini melalui coretan penanya mampu membius para pembacanya bahkan melalui tanda baca sekali pun.

Kepiwaian Eka memainkan emosi dan menyatu bersama realitas masyarakat sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang mampu membumikan konsep berbeda tentang bagaimana konstruksi sosial akan sebuah pandangan tertentu yang lazim terjadi benar-benar menjadi sebuah masalah baru untuk kemudian mengubahnya benar-benar bijak.

Melalui sosok Nyai Ayu, Eka menyelamatkan diri dari tuduhan menggurui pembaca dengan cara-cara yang elok. Pelan dan ritme cerita yang tidak terburu-buru juga cukup membantu siapa saja yang membaca CIL begitu sangat menikmati imajinasi reflektif pesan-pesan kehidupan dari seorang Eka Kurniawan.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 28 November 1975 itu memang pantas terpilih sebagai salah satu "Global Thinkers of 2015" dari Jurnal Foreig Policy dan pantas mendapat sanjungan dari majalah terkenal HORISON edisi Maret 2003 yang kira-kira bunyinya begini:

"Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel karya pengarang Indonesia kelahiran 1975 dan alumnus Filsafat UGM ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin. Kecakapan Eka mengisahkan kejatuhan sebuah keluarga incest dengan titik pusat pengisahan pada tokoh Dewi Ayu (lahir dari ayah Belanda dan ibu Nyai) dalam gaya berkisah yang dengan enteng mencampuradukkan realisme dan surealisme, mengawinkan kepercayaan-kepercayaan lokal dengan silogisme filsafat yang membobol semua tabu, dan memberikan hormat yang sama pada realitas sejarah dan mitos, merupakan pencapaian luar biasa mengingat novel ini merupakan novel pertamanya. 

Di akhir masa kolonial sebuah Suratan yang aneh memaksa Dewi Ayu, seorang perempuan elok, memasuki kehidupan yang tak pernah dia bayangkan: menjadi pelacur. Kehidupan sebagai pelacur terus dijalaninya sampai ia memiliki tiga anak gadis yang cantik. Ketika ia mengandung anaknya keempat ia berharap anaknya buruk rupa. Itulah yang terjadi. Si buruk rupa itu ia beri nama si Cantik. Sebagaimana layaknya novel-novel kuat, tokoh-tokoh dalam novel ini perkembangan karakter dan fase hidupnya dikawal dengan teliti dari awal hingga akhir sehingga kemungkinan terjadinya desepsi dan akronisme peluangnya tertutup sama sekali." 

Bagi Eka Kurniawan, cantik itu luka. Kalau jelek ia akan bertambah cantik.

Oleh: Andi Andur