DRAMA SETYA NOVANTO

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

DRAMA SETYA NOVANTO

17 November 2017

Keputusan KPK mengeluarkan dan menetapkan tersangka ketua DPR RI itu setelah mengamati  dan mencermati  fakta  persidangan untuk dua terdakwa mantan pejabat kementrian dalam negeri [Irman dan Sugiharto] (Foto: Dok. Pribadi)
Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] menetapkan ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk  berbasis elektronik [e-KTP]. Keputusan KPK mengeluarkan dan menetapkan tersangka ketua DPR RI itu setelah mengamati  dan mencermati  fakta  persidangan untuk dua terdakwa mantan pejabat kementrian dalam negeri [Irman dan Sugiharto]. Namun saat dipanggil oleh KPK ketua DPR RI ini mengaku sedang menjalankan tugas Negara sebagai ketua DPR RI dan mangkir dari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Beredarnya foto SN pada tanggal 28 September lalu memperlihatkan SN tengah dirawat karena sakit dan sedang setengah duduk dengan wajah tertutup masker oksigen. SN dirawat di RS Premier, Jakarta Timur. Berita SN masuk rumah sakit pun mendapat respon kurang baik dari warga net, bahkan mereka terkesan marah dan mengeluarkan berbagai komentar yang mengatakan bahwa SN hanya berpura-pura  untuk menghindar dari panggilan KPK.

Masyarakat beranggapan ketua DPR RI itu sengaja membohongi publik dengan alasan sakit yang bertujuan untuk mangkir dari panggilan KPK, SN pun dicap penakut dan pengecut. Alasan sakit yang diderita SN sangat tidak masuk akal, tidak ada pernyataan resmi dari dokter bahwa SN mengalami penyakit tertentu. Kalau pun SN mempunyai riwayat sakit yang sangat parah, kenapa tidak dirawat ke luar negeri saja yang alat dan dokternya lebih canggih dan terlatih?

Anehnya lagi SN terlihat sembuh total dari sakitnya setelah memenangkan praperadilan atas KPK. Hal ini sangat mencoreng nama baik DPR dan Partai Golkar, ini hanya membuat citra keduanya buruk di mtata masyarakat. Seharusnya DPR mencopot SN atau dipaksa mundur karena sangat tidak etis seorang tersangka masih berstatus pejabat negara. 

Apalagi pejabat tinggi sekelas ketua DPR. Golkar sendiri tampaknya tidak menunjukkan ketidakberanian mengambil sikap tegas pada SN. Seharusnya petinggi Partai Golkar mencopot SN dan memulihkan nama baik Partai Golkar. Hal ini akan mendapat respon baik dari masyarakat dan nama Partai Golkar kembali harum.

Pada Kamis, 16 November 2017 lagi-lagi public dikagetkan dengan berita kecelakaan SN di Jl. Permata Berlian, Jakarta Selatan. Kronologi kecelakaan sampai sekarang masih diselidiki oleh pihak kepolisian, mobil SN dikabarkan menabrak tiang listrik dan mengakibatkan mobil SN penyok di bagian bemper depan.

Kecelakaan ini mengakibatkan SN cedera di bagian kepala dan membenjol seperti BAKPAO. Tetapi ada beberapa kejanggalan yang dilihat dari kecelakaan ini: Pertama, jenis mobil yang ditumpangi oleh SN dikategorikan kendaraan mewah dan tingkat safetynya tidak diragukan lagi. Selain itu, posisi duduk SN yang sangat aman karena duduk diposisi tengah sehingga sangat kecil kemungkinan mengalami cedera yang parah.

Ini akan menjadi pertanyaan kepada pabrik penjual mobil yang ditumpangi oleh SN, karena kalau tidak safety, percuma dijual mahal dan dikategorikan barang mewah. Berarti ada upaya pembohongan publik oleh pabrik tersebut.

Kedua, ajudan SN yang duduk di kiri depan tidak mengalami cedera apa pun sementara SN yang duduk di bangku tengah mengalami cedera kepala yang sangat parah dan dikabarkan mengalami gegar otak.

Sangat tidak masuk akal, atau mungkin saja SN waktu itu tidak duduk di bangku belakang seperti pejabat lain, melainkan duduk di dalam kap mesin. Kalau faktanya demikian berarti SN akan mengalami cedera yang cukup parah dan kecelakaan ini bukan skenario.

Oleh: Emanuel Odi