Di Tepi Sungai Air Mata

Wajah mulai memerah, perasaan bagai kota yang dilanda banjir yang siap memporak-porandakan segala keadaan yang telah tertata rapi, pikiran terbang menembus awan dan jantung serasa berdegup lebih cepat dari sebelumnya (Gambar: Istimewa)
Senin pagi, hari pertama minggu itu, bumi nampak gelap, awan kelabu menaungi dunia. Atau mungkin mataharinya yang enggan mendaki bukit di ufuk timur dan mungkin pula hanya perasaanku saja yang masih terbawa oleh pahitnya pertarungan hati tadi malam. Hati terasa di belenggu oleh muatan yang begitu dahsyat yang tak mungkin untuk bertahan lama. Wajah memerah seperti telah menghabisi semangkok cabeh rawit dan perasaan pun ikut memanas.

Seperti biasanya, dia datang dengan wajahnya yang cantik dan ditambah lagi senyum manis penghias wajahnya itu. Namun bagiku hari itu jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia menghampiriku yang tengah berdiri laksana sebatang pohon muda yang tidak mudah goyah dan mengajakku untuk pergi ke sebuah tempat yang bernama Sekang Gedek yang bersebelahan dengan kampungku.Tempat itu mejadi awal jumpa kami ketika panen tahun lalu. Di tempat itu dia menyuruhku untuk menulis semua apa yang ingin aku gapai dalam hidupku di masa yang akan datang Dan dia juga menulis apa yang menjadi hal yang dia inginkan di masanya yang akan datang sambil tidak memberitahu satu sama lain, lalu di kuburkan bersamaan dengan penuh rasa cinta yang dilambangkan oleh tanah liat.  Sebuah cita-cita lugu yang yang sempat aku sematkan di kertas lusu itu.

Aku ingin menjadi seorang profesor yang mendapat gelar di luar negeri, aku ingin mempunyai uang banyak hingga bisa mengelilingi dunia. Dan aku tidak mau perasaanku tertumpah padanya takut  aku tidak sempat membahagiakanya karena kemiskinanan yang melanda hidupku. Aku hanyalah bocah petani yang terus berkarya di bawah matahari”.

Namun, semua cita-cita lugu itu telah di hanguskan oleh sebuah kalimat yang keluar dari ponselku tadi malam, yang mungkin membawa zat penghancur dan membuat hatiku hancur berkeping-keping. Hendakku cari di mana lari urat-urat yang lainnya. Wajah mulai memerah, perasaan bagai kota yang dilanda banjir yang siap memporak-porandakan segala keadaan yang telah tertata rapi, pikiran terbang menembus awan dan jantung serasa berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Di tambah lagi senyum pemikat para lelaki itu ia pamerkan di bibirnya membuat hati terasa di cabik-cabik. Bahwa aku mencintainya. Kata ini mungkin pas untuk melukiskan hatiku saat itu.

“Tapi, aku masih belum berhenti berpikir mengapa selama ini dia dengan segala kecantikannya nekat menghampiri hatiku yang begitu jauh dari perbandingan apapun di dunia ini. Kecantikannya tak mungkin aku definisikan dengan segala yang aku punya. Kesempurnaan telah menjadi miliknya seorang, yang meskipun hanya sebatas sahabat”. Gumanku dalam hati.

Dia menghampiriku yang masih duduk termenung sambil menatap layar ponsel.
“Selamat pagi...” Katanya dengan nada yang halus.
Aku kira kata-kata itu mengandung suatu unsur ataukah berupa zat-zat adiktif sehingga dengan cepat ia menerobos perasaanku dan menyusuri lorong-lorong hatiku yang kosong oleh kejadian tadi malam.
“Ha..i.. Selamat pagi...” Jawabku terbata-bata dicampur rasa gugup. Bagiku hari itu sungguh berbeda.
“Ada apa ya..???” Kataku sambil berpura-pura melirik kesamping agar terlihat sok cuek.
“Bukankah engkau memutuskan untuk tidak menemuiku lagi..???” lanjutku.
“Iya.. Aku memang mengatakan itu tadi malam. Dan saat ini aku mau katakan bahwa kau harus mutusin persahabatan kita.” Lirihnya.
Tidak ada suara setelah itu. Diam menjadi penguasa diantara kami berdua. Wajah yang tadinya aku lihat tampak bersinar, kini telah berubah. Mata yang sering memancarkan cahaya keakraban telah berubah menjadi genangan air yang sedikit demi sedikit keluar lewat sudut matanya.
“Mengapa engkau berbicara seperti itu..!!! Bukankah engkau yang mengatakan bahwa persahabatan tidak mengenal jarak..??” Lirihku dengan nada yang agak tinggi.
“Iya... Semuanya iya. Tapi aku mau ke Jerman. Orang tuaku menginginkan aku untuk melanjutkan studi di sana.” Tegasnya.
“Iya.. Aku tahu kamu akan ke Jerman. Memangnya di Jerman engkau tidak bisa berkomunikasi  lagi denganku . ?? Sambarku

Serentak saat itu hati terasa di cabik dan seakan dicincang-cincang untuk dijadikan perkedel. Tak ada suara setelah itu. Lagi-lagi diam menjadi penguasa. Lalu-lalang orang serasa tidak berguana. Tidak bisa menghibur hati insan yang kian meronta. Kegeramman menjadi bagian paling penting dalam menyelesaikan masalah. Rasio menjadi bahan tawaan yang tak berdaya. Kemudian dia pergi. Entah ke mana aku tak peduli, yang pasti aku masih melihat dia melangkah hingga tatapan akhir, dia menghilang dari kerumunan penghuni dunia.

Sejak saat itu aku tidak bertemunya lagi. Barat bagiku untuk serentak melupakannya. Hari-hari kulalui terasa tidak berwarna, kamar menjadi tempat yang paling tenang untuk berefleksi. Siapa yang salah..??? aku atau dia.?? Menyendiri menjadi pilihan yang tepat. Semua kenangan terasa pahit untuk dikenang. Senyum yang sering ia bungkuskan hanya untukku tidak ada lagi. Canda tawa yang menjadi awal sua kami di Sekang Gedek telah berakhir bersama perginya waktu. Dia menghilang dan menjadi misteri bagiku, kapan dia pulang untuk memeluk kembali hati ini yang kian kedinginan oleh sendunya angin.

Lima tahun kemudian. Dan dalam perhitunganku dia sudah selesai sarjana di Jerman dan yang pasti dia telah kembali. Aku memutuskan untuk menemuinya. Hari itu begitu cerah dan bersahabat. Ia sungguh milikku. Sepertinya sang surya paham dengan situasi hatiku saat itu. Dengan penuh rasa syukur aku berjalan dengan seorang tukang ojek menyusuri lorong-lorong kota sambil senyum-senyum sendiri yang merupakan senyum termanis yang pernah aku keluarkan. Dalam benakku dia sudah pulang dan mungkin kebetulan dia belum mampir ke Sekang Gedek kami .

Tak ku sadari kami meluncur jauh hingga berhenti di halaman istana Sang Dewi. Wajah semakin berseri menandakan sebentar lagi si pemusnah beban akan ketemu. Sambil mencoba bersikap sopan aku mengetuk pintu.
“Tok..Tok..Tok.. Hallo...”
“Tok..Tok..Tokk.. Hallo. Selamat pagi..”
Sesaat kemudian munculah seorang wanita yang agak tua dengan kulit yang agak keriput. Tepatnya tante Nia, mamanya felly..
“Selamat pagi tante...”
“Hay.. Rian, Selamat pagi..” Kamu apa kabar..??
“Baik Tan... kalau Tante..??”
“Baik..  Kamu kok jarang-jarang datang ke sini..!!! Sibuk  ya..!!”
“Iya tante..  Tante maaf ya, Felly sudah pulang. Dia ada to tante..??” Lanjutku..
Serentak saat itu suasana berubah. Dia kelihatan sedih, matanya bagai awan kelabu yang dengan sigap meluncurkan hujan yang deras. Tak terasa air matanya keluar bersamaan dengan raut wajahnya
“Tante kok nagis..” Tanyaku.
“Memangnya kamu tidak tahu.?? Jawabnya
“Tahu apa tante..?? 
“Felly tidak ada nak Rian.. Dia sudah pergi dua minggu yang lalu..”
”Apa.?? Memangnya dia pernah datang libur ya tante..”
“Aduh.. Jadi, aku telat dong tante.??”.   Sambil menepuk kening tanda menyesal

“Bukan.. Dia sudah pergi meninggalkan kita semua, pergi menghadap Sang Kuasa. Kanker serfiks yang merenggut nyawanya.. Dan ini surat yang sempat ia tulis sewaktu di Sekang Gedek kalian dan yang satunya juga dia tulis sewaktu di Rumak Sakit untuk nak Rian. “Katanya.. Tolong berikan surat ini untuk Rian karena dia masih di Jerman. Sambil menyodorkan subuah amplop untukku.

Wajah yang tadinya penuh kegirangan kini berubah sampai tiga ratus eman puluh lima derajat. Hati seakan tak meneriama kenyataan. Mengapa harus seperti ini. Bukankah engkau pernah berkata bahwa kita harus bersama. Dengan mencoba menahan rasa dan air mata, perlahan aku membuka surat itu di atas kuburnya yang bersebelahan dengan rumah.
Sekang Gedek, 11 Maret 2008
“Aku ingin membahagiakan orang yang aku sayangi selama ini dan dia adalah nana ganteng yang sealalu mejadi motivasiku”.

Rumah Sakit, 20 Agustus 2017   

Dear: Nana Ganteng
Nana Rian, maafkan aku yang membohongimu. Aku sebenarnya tidak ke Jerman, aku sakit.  Aku mengidap penyakit kanker yang tak mungkin disembuhkan. Aku tidak mau menyibukanmu dengan keadaanku. Karena itu maafkan aku, biarkan aku berjalan dalam damai. Sampai jumpa di alam sana Rian dan terima ksih atas motivasimu selama ini. I Love You Rian
Semoga engkau tetap mewujudkan mimpimu di Sekang Gedek. Aku sudah membacanya
God bless you nana ganteng
From: Felly


Dengan penuh rasa sesal aku tersungkur di atas kubur yang tak berdaya itu sambil berteriak histeris. “Tuhan.... Nyatakan kasihMu padaku saat ini. Kembalikan dia dalam pelukanku meski hanya satu detik agar aku bisa mengatakan bahwa aku juga sayang padanya. Aku juga sayang kamu Fellyyyyyyyyyyy...!!!” Suara mengema, hingga aku yakin Tuhan  mendengarkan jeritanku.
                       
Oleh: Arfey Silefster
Mahasiswa  STFK Ledalero  dari biara Camillian


*Sekang Gedek: Pondok reot yang dindingnya menggunakan anyaman bamboo
*Nana: Panggilan kesayangan untuk laki-laki di Manggarai
*Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan saja

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,146,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,539,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1032,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Di Tepi Sungai Air Mata
Di Tepi Sungai Air Mata
https://1.bp.blogspot.com/-5CQIuXjV0N0/WiCALkkfoSI/AAAAAAAAAJ8/XQnjslCBZZYP1mawKOQgL6PwlXd0b8OcQCLcBGAs/s320/Di%2BTepian%2BAir%2BMata%2BMarjin%2BNews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-5CQIuXjV0N0/WiCALkkfoSI/AAAAAAAAAJ8/XQnjslCBZZYP1mawKOQgL6PwlXd0b8OcQCLcBGAs/s72-c/Di%2BTepian%2BAir%2BMata%2BMarjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/di-tepi-sungai-air-mata.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/di-tepi-sungai-air-mata.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy