Dari Lembah untuk Penjaga Damai

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Dari Lembah untuk Penjaga Damai

7 November 2017

Aku tahu engkau bergulat dengan batinmu, karena sesal dengan cinta dan tiupan cinta yang engkau harapkan telah hilang oleh waktu (Foto: Lidya Ganggur/marjinnews.com)
Di suatu senja, kita pernah bertemu. Waktu mempertemukan kita dalam kisah, dan setelah kau pergi ada kisah yang mati. Di jalan setapak kecil menuju rumahmu, di sana kita saling menyapa. Namamu Fatima, anak seorang kaya di kotamu.  Bahasa sapaan kita tidak sesingkat yang ku kira. 

Di lorong kecil itu, kau mencoba mengenaliku sebagai orang asing yang mencari sahabat. Saat ku lemparkan kata pertama kali kau menongok lalu melirik dan memberi jawaban dari setiap pertanyaanku. Namun senja berlalu, kau pun pergi dengan seribu sesal di dadaku. Hanya nama dan alamat rumahmu yang tersimpan di memoriku yang ku bawa pergi bersama senja. 

Nama itulah yang ku bawa pergi bersama cerita indah yang ku dapat di kotamu, sejak senja itu mendarah bersama jiwaku.  Senja di kotamu, seribu rindu mengalir menarikku kembali ke sana. Ku ingat di suatu senja di kotamu. Ketika kau mengujungiku di penginapan sederhana dekat lorong rumahmu. Sosokmu yang sederhana, ayu nan cantik tak ku sangka muncul di hadapanku kembali setelah senja kemarin berlalu. 

Hari itu kau berbeda. Aku jatuh pada senyuman nakalmu yang mengubah cerita senjaku di kotamu. Ku kenang kau dalam setiap ceritaku, hingga di sudut-sudut waktu, sosokmu ku rindukan walau senja itu telah berlalu. Fatima, nama yang kulafalkan dari pertama kali kita bertemu. Tak berani aku menyebut namamu kembali lewat bahasa di mulutku, hanya lewat bisikan halus hatiku berkata tentang namamu. 

Di kotamu, aku melirik begitu banyak keindahan tapi tak terbayang aku berhenti pada sosokmu. Sosok yang menggelora saat sajak masih fajar, namun di sini telah terhenti kata-kata manis membual dalam cerita. Cerita masa lalu yang penuh dengan keraguan dan penuh dengan angan-angan. Waktuku untuk bercinta telah terlapuk bersama sang pengubah nasib. 

Dulu saat usiaku masih seumuran jagung, aku sering berkelakar dengan cinta, bercengkarama karena kata-kata di dalamnya mengandung erotis. Namun, sayangnya, cinta yang dulu ku agungkan telah terekam jejak oleh hambarnya kata romantis. Aku ingin mengubah arah dari selatan menuju sang timur, karena kata orang timur melambangkan Matahari. Dengan matahari semua insan melihat keindahan dunia, bersamanya juga para pembual tertangkap dalam cahaya hingga lalu terendam teriknya sang panas. 

Aku telah muak dengan cinta dan bahkan ketika dia mendekat aku ingin pergi dari hadapannya hingga suatu pagi, ketika ku nongol di tepian jalan Wae Tera ada sosok permaisuri yang ingin mengganggu kenyamanan batinku, namanya Chintya. Dari kejauhan Aku mengenal aroma wajahnya karena sebelumnya dia pernah berjumpa denganku, dia pun langsung mendekat dan mencoba melepas tanya “Deh...kamu ko, sudah berbeda ya. Dulu kamu sangat semangat ketika berjumpa denganku?” kata-katanya menyindir seperti tikaman sembilu dalam hatiku. 

Aku merasa bingung mau jawab apa dengannya, aku mencoba berkelana dengan dunia ide dan untungnya ideku tidak tertidur, dengan sigap mukaku sempoyong menjadi senyum walaupun terpaksa. Senyuman itu, sebenarnya sebagai jembatan gaip supaya dia tidak mengetahui masalah yang ada dalam diriku. Aku pun berusaha meyakinkan dia dengan kata-kata lembut. “Tidak, ka. Aku sebenarnya tidak enak badan, aku masih semangat koh berjumpa dengan kaka”. Permaisuri itu pun mengangguk-anggukkan kepala. 

Setelah itu, aku dan dia saling menunggu pertanyaan selanjutnya, ibarat mobil dan motor bernongol akibat lampu merah menyala. Dalam dekapanku berharap semoga saja dia tidak bertanya inti terdalam masalah tentang dunia percintaanku. Aku tertegun merenung dalam diri, apakah Tuhan mengetahui masalah yang menimpa diriku ini, sungguhkah Tuhan mencobai hambanya yang tak mengenal diri, gumanku dalam hati. 

Ketika aku masih memikirkan tentang hal itu, tiba-tiba Chintya yang ku anggap permaisuri bertanya lagi “Aku tahu engkau bergulat dengan batinmu, karena sesal dengan cinta dan tiupan cinta yang engkau harapkan telah hilang oleh waktu. Namun, aku hanya menyarankan bahwa inti terdalam ketenangan batin jika engkau tidak melawan suara hati, karena hatimu berkata lain”. Kalimat panjang yang Chintya daraskan menusuk pori-poriku dan bahkan nafsu untuk menjawab pertanyaan telah melemahkan semangat kelakianku. 

Aku kini berada dalam zona bahaya yang sebentar lagi tersingkap untuk bercerita dengan alam semesta bahwa aku telah berjanji untuk melepaskan dunia percintaan, apalagi Chintya telah merangsang adrenalinku. Waktu terus berjalan sesuai seleranya dan Chintya pun menghindar dari hadapanku. Sekarang aku sendirian ditemani oleh sang angin dan saudari bumi. Kata-kata Chintya masih menggerogoti, menguntit naluri batinku dan menyiksaku dengan kata pedasnya. 

Aku terlelap dengan kata-kata suntuknya, dan mulai memikirkan, mengapa Chintya tega mengeluarkan kata-kata seperti itu, mungkinkah dia mengetahui masalahku. Aku bertempur dengan suara hati dan membawa kata-kata Chintya dalam tidur malam. Dan hari itu pun berlalu.

Saat mentari pagi ingin keluar dari peraduannya aku tersentak membangunkan diri, lalu meletupkan kidung pagi dengan hafalan doa Bapa Kami. Pagi itu memang berbeda dengan sebelumnya, di mana ku teringat akan homili seorang pastor ordo Camilians bahwa ‘manusia harus membumikan cinta dan melangitkan kedamaian’ puitis tetapi menyimpan sejuta tanda-tanya tentang eksistensi manusia. Aku teringat akan kata-kata Chintya ‘bahwa berusahalah berdamai dengan diri, jangan melawan suara hati, hati menjadi tempat berteduhnya kedamaian’. 

Air mataku meleleh karena teringat akan janji yang mangkal bersama geramnya emosi, membatu bersama jiwaku yang kerontang tak mengenal apa makna terdalam dari cinta. Kini jiwaku berubah rupa dari jeruji menjadi penjelajah kedamaian. Aku tidak lagi berani membohong diri untuk melepaskan cinta dari dekapan jiwa, namun ku genggam cinta menjadi senjata ampuh melawan nafsu birahi. Sebagai ucapan terima kasihku untuk Pastor dan Chintya, kutuangkan sajak sederhana:

Untuk Sang Damai

Derai air mata, dalam dirimu menyimpan sejuta makna
Dari bening rupamu, menjernihkan jiwaku yang hampa
Untuk memahami dan dipahami  laksa damai
Tentang jiwa penangkal bait suci 
Tertikam sajak pembual cinta
Kini, bahtera sajak damai telah melebur dalam diriku 
Dan engkau sang pemberontak, berbaliklah
Dalam rupamu yang hampar,
Aku tak’an menengok wajahmu

Oleh: Agust Gunadin 
Pegiat Sastra di Rumah San Camillo-Maumere