Citra Sekolah, Wibawa Guru, dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Pendidikan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Citra Sekolah, Wibawa Guru, dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Pendidikan

27 November 2017

Konotasi lulus seratus persen sebagai bagian dari upaya menjaga nama baik sekolah meski tidak objektif akhirnya mengabaikan objektifitas UAN dan hasil UAN itu sendiri (Foto: Dok. Pribadi).
Hari Sabtu, 25 November 2017 kemarin, Indonesia merayakan Hari Guru Nasional (HGN) ke-72. Tak bisa dipungkiri, peran guru sangat strategis dalam ikut mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru menjadi sosok yang penting dalam menggerakkan arah masa depan dan kemajuan negara. Guru sangat berperan penting dalam mewujudkan generasi bangsa yang sejahtera, tanpa guru, semua orang tak akan bisa menjadi sukses, baik pejabat, maupun pengusaha besar yang kaya raya. 

Sementara itu guru juga merupakan faktor penentu pentransferan ilmu pengetahuan kepada siswa, tanpa guru siswa tentu saja akan mengalami kesulitan dalam belajar. Mengandalkan media pembelajaran saja akan sulit dalam penguasaan materi tanpa bimbingan guru. Guru yang penuh kerja keras membimbing, mendidik, dan rela memberikan ilmu yang dimilikinya kepada pelajar sebagai penerus generasi bangsa. Bisa dilihat bahwa guru memiliki banyak peran yang harus dikerjakan bersamaan. 

Pendidikan dikatakan bermutu bila ada keseimbangan antara dua unsur yaitu pertumbuhan intelektual dan moralitas.  Pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia yang berpengetahuan dan tahu apa yang baik dilakukan (Mochtar Buchari 2005), untuk mencapai harapan itu lingkungan pendidikan yaitu sekolah dan peran para guru tidak bisa diabaikan.

Ketika kualitas pendidikan merosot, pemerintah, guru, penyelenggara sekolah dan masyarakat umumnya menilai dengan ukuran dari rata-rat hasil UAN. Dalam skala nasional, NTT dikenal sebagai provinsi yang menempati urutan paling belakang dari presentasi rata-rata nilai UAN. Maka ketakutan akan beberapa upaya pembalikan citra ini kadang tidak objektif.  Hasil ujian dimanipulasi atau guru-guru membantu mengerjakan soal–soal dalam UAN, kunci jawaban soal dibocorkan.

Munculah istilah atau konversi  (perubahan) nilai dan segala bentuk kecenderungan lainnya  seakan-akan tindakan ini dibenarkan agar citra sekolah tetap terjaga. Konotasi lulus seratus persen sebagai bagian dari upaya menjaga nama baik sekolah meski tidak objektif akhirnya mengabaikan objektifitas UAN dan hasil UAN itu sendiri.

Sekolah dalam hal  ini para guru dan pengelola sekolah malu kalau lulusanya tidak mencapai seratus persen, tetapi mereka tidak malu membocorkan soal dan memanipulasi hasil ujian. Ada kontradiksi disini, di satu sisi mereka berusaha menjaga citra dan nama baik sekolah tetapi di sisi lain mereka mengaburkan atau merusak citra sekolah sebagai institusi yang mengajarkan kebenaran dan kejujuran. Ketika hasil UAN dijadikan titik tolak penentu mati-hidupnya nasib siswa dan ukuran kualitas sekolah  maka orientasi pengajaran di sekolah hanya difokuskan pada hasil UAN yang maksimal semua anggota komunitas sekolah dipacu mengupayakan berbagi cara demi suksesnya UAN.
Dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar-mengajar pada khususnya.

Aktivitas pelajaran di sekolah sehari-hari hanya untuk latihan soal-soal. Siswa tidak lagi diajarkan menguasai konsep pelajaran  dan menganalisis  kenyataan. Soal ujian semester dan mid semester tidak lagi disusun untuk melatih kemampuan bernalar, menguji wawasan dan kereatifitas siswa, tetapi soal pilihan ganda yang melatih siswa membuat spekulasi. Bila tindakan di atas terus merajalela maka bukan  tidak mungkin mutu pendidikan akan merosot sangat jauh dan kualitas out-putnya tidak bisah diharapkan karena tidak memiliki kematangan akademik dan moralitas.

Merosotnya mutu pendidikan disebabkan situasi lingkungan sekolah itu sendiri. Satu kelemahan bahwa sekolah tidak tampil sebagai lingkungan dimana para siswa merasa kerasan berada dan belajar di sana, bebas berkembang sesuai kemampuannya.

Merasa kerasan berarti  merasa aman, bebas berkembang sesuai dengan kemampuannya. Yang terjadi justeru sebaliknya, siswa merasa terbebani karena aturan dan kebijakan yang diciptakan kurang sesuai dengan dunia mereka. Para siswa juga tidak bisa belajar dengan baik karena batin diliputi rasa takut berhadapan dengan gurunya sendiri yang tidak hanya keras tapi kasar.

Panggilan menjadi guru adalah tugas luhur karena dengan itu mereka membantu orang tua menuaikan tugas mendidik anak dan yang bertindak atas nama masyarakat hendak mempersiapkan generasi muda menjadi generasi yangt bertanggung jawab. Guru yang secara luas berfungsi sebagai pendidik merupakan salah satu faktor yang sangat dominan dalam proses belajar mengajar.

Dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar-mengajar pada khususnya.

Namun keluhuran tugas ini  diplesetkan karena motivasi guru dan komitmen yang rendah, mental yang beranggapan bahwa mengajar atau tidak mengajar tiap bulan tetap dapat gaji ditambah pula beberapa kurikulum terakhir yang sangat menekankan keaktifan dan belajar mandiri siswa menjadi tameng memperkuat kemalasan guru. Hal ini juga semakin diperkuat dengan adanya pergantian berbagai jenis kurikulum yang mewajibkan siswa untuk secara sadar dan secara aktif untuk belajar secara mandiri.

Oleh: Febriano Kabur
Pelajar SMA Widya Bhakti Ruteng