Bias Gender Dalam Pendidikan


Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses dalam sistem pembelajaran di sekolah, tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga (Foto: Dok. Pribadi)
Pemikiran dan konsepsi tentang kemasyarakatan di masa mendatang. Sejarah manusia dalam memerangi ketidakadilan sosial telah melahirkan analisis dan teori sosial yang hingga saat ini masih berpengaruh dalam membentuk sistem kemasyarakatan. Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas sebuah permasalahan gender adalah membedakan konsep seks (jenis kelamin) dan konsep gender. Kiranya menghadapi permasalahan gender yang begitu banyak sangat diperlukan analisis gender. 

Dalam sejarah pemikiran manusia tentang ketidakadilan sosial dianggap suatu analisis baru. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma, adat, kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat. 

Sebenarnya dalam permasalahan bias gender, tidak hanya pihak perempuan yang dirugikan, tetapi pihak laki-laki juga mengalami hal demikian. Dalam realita sosial masyarakat saat ini di perkembangan zaman yang begitu cepat, permasalahan gender akhir-akhir ini marak terjadi di dunia pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi terminal intelektual, kini menjadi tempat persinggahan ketidakadilan gender. 

Problematika gender dalam dunia pendidikan acap kali terjadi antar siswa sendiri dan para guru serta siswa baik itu laki-laki atau perempuan. Sampai saat ini belum bisa ditemukan suatu konsep apa yang bisa untuk menemukan suatu keadilan gender.

Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses dalam sistem pembelajaran di sekolah, tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Bila diselami lebih dalam lagi, pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media, metode, serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa ternyata sarat dengan bias gender. 

Dalam realitas sosial masyarakat tertentu, terdapat kebiasaan masyarakat yang tidak mendukung atau bahkan melarang perempuan untuk mengikuti pendidikan formal. Bahkan ada nilai dan anggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah atau mengejar impiannya, karena toh nantinya tugas perempuan hanya di bagian dapur (ruang domestik). 

Pandangan seperti inilah yang mengakibatkan perempuan menjadi terpuruk dan dianggap rendah oleh kaum laki-laki, parahnya lagi perempuan  merasa tidak percaya diri dengan keperempuanannya (derajatnya).

Realita yang kita jumpai pada masyarakat tertentu terdapat adat kebiasaan yang tidak mendukung dan bahkan melarang keikutsertaan perempuan dalam pendidikan formal. Bahkan ada nilai yang mengemukakan bahwa “perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi karena akhirnya ke dapur juga.” Ada pula anggapan seorang gadis harus cepat-cepat menikah agar tidak menjadi perawan tua. 
Paradigma seperti inilah yang menjadikan para perempuan menjadi terpuruk dan dianggap rendah kaum laki-laki. 

Lalu, apa yang menjadi problematika gender dalam dunia pendidikan? 
Saya beranggapan bahwa  dalam aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, seperti aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, agama dan lainnya dapat dilihat bagaimana ketimpangan gender antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan masih banyak dalam realita. Salah satu aspek yang menunjukkan adanya bias gender dalam pendidikan dapat dilihat pada perumusan kurikulum dan juga rendahnya kualitas pendidikan. 

Dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 dinyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran”. Walaupun pernyataan pasal tersebut mengandung arti bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama dalam mengecap pendidikan formal, namun dalam kenyatannya masih ada anggapan yang menghambat wanita untuk tidak ikut serta dalam pendidikan formal. 

Implementasi kurikulum pendidikan sendiri terdapat dalam buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolah. Realitas yang ada, dalam kurikulum pendidikan (agama ataupun umum) masih terdapat banyak hal yang menonjolkan laki-laki berada pada sektor publik sementara perempuan berada pada sektor domestik. Dengan kata lain, kurikulum yang memuat bahan ajar bagi siswa belum bernuansa netral gender, baik dalam gambar ataupun ilustrasi kalimat yang dipakai dalam penjelasan materi. 

Dalam buku ajar, banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat  yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Sekiranya dalam mengatasi problematika ketidakadilan gender dalam dunia pendidikan yang sudah mengalami transformasi yang begitu berkembang, seharusnya membangun pendidikan berperspektif gender di dalam dunia pedidikan dengan cara pemenuhan kebutuhan praktis gender. Kebutuhan ini bersfifat jangka pendek dan mudah dikenali hasilnya. 

Namun usaha untuk melakukan pembokaran bias gender harus dilakukan mulai dari rumah tangga dan pribadi masing-masing hingga sampai pada kebijakan pemerintah dan negara, tafsir agama bahkan epestimologi ilmu pengetahuan.

Oleh: Hisynta Merdeka Ayu Heppi

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Bias Gender Dalam Pendidikan
Bias Gender Dalam Pendidikan
https://4.bp.blogspot.com/--Z6LmBdSAKA/WgOiDuHcOXI/AAAAAAAAB7Y/J3HJQPb_Q1o1QBHJYXcxCvWWVulKGoziQCLcBGAs/s320/Heppi%2BMarjinNews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/--Z6LmBdSAKA/WgOiDuHcOXI/AAAAAAAAB7Y/J3HJQPb_Q1o1QBHJYXcxCvWWVulKGoziQCLcBGAs/s72-c/Heppi%2BMarjinNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/bias-gender-dalam-pendidikan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/bias-gender-dalam-pendidikan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy