Aku dan Angin

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Aku dan Angin

9 November 2017

Disinilah cinta insan mencari keteduhan, dan berharap menjauh dari semua bungkusan indah dan megahnya ilusi perkotaan, berusaha untuk bertanya pada alam yang mengungkap semua ilusi peradaban (Foto: Dok. Pribadi)
Hijaunya dedaunan ini membentuk wajah hutan bakau yang terawat baik. Inilah gambaran alam yang pantang menipu setiap pandangan yang akan menilai keindahan. Bertanya pada ruput, lirik lagu Ebit G Ade menjadi pengingat, bahwa alam tidak pernah berbohong.

Sepasangan kekasih mencari keteduhan dibawah rindangnya hutan bakau, berusaha menemukan susana cinta yang natural ditengah kicauan burung tekukur, dan nyanyian burung pipit, serta suara sayub manusia yang membentuk paduan suara alam, suara yang memang pantang untuk berbohong.

Disinilah cinta insan mencari keteduhan, dan berharap menjauh dari semua bungkusan indah dan megahnya ilusi perkotaan, berusaha untuk bertanya pada alam yang mengungkap semua ilusi peradaban.

Aku duduk di tepi telaga, menyaksikan semuanya. Angin berhembus menyentuh kulitku dengan lembut menyentuh kulitku menemaniku sepanjang pencarian.Sebuah pohon cemara membiarkan punggungku bersandar santai,sambil bergoyang di tiup angin memberikan sentuhan yang membuatku merasa nyaman untuk bersandar. 

Sore ini memang alam begitu ramah. Mentari tidak begitu kejam membakar kulit, dan debu tanah begitu tertib karena dijaga oleh hijaunya rerumputan. Hanya angin yang bermain kesana kemari memberi kesejukan pada siapapun yang mendambakannya. Burung-burug pipit bertengger di dahan bakau anakan yang mungil dan berwibawa sambil bersiul tiada henti menemani jiwa mencari keteduhan dan mengobati hati yang terluka  dunia. 

Lalu angin dalam kelembutan suaranya tiba -tiba berbisik, lihatlah semuanya, lihatlah para pekerja Iliahi itu, ia menunjuk seekor burug pipit mungil yang sedang melompat di antara dahan -dahan kecil. Merekalah tabib yang ditugasi untuk menyembuhakan dunia ini, mereka memanggil kembali jiwa-jiwa yang hilang untuk menemukan tuannya dan merawat jiwa -jiwa yang sakit agar tidak mati ditelan rakusnya dunia. 

Hutan kecil ini memang tempat hiburan bagi raga manusia, ia melanjutkan. Tapi sebenarnya inilah rumah sakit bagi jiwamu,jiwa yang mencari keteduhan dan kehangatan sentuhan alam yang bisa mengantarnya kembali pada cinta Ilahi.

Oleh: Yoseph Stenly Agung Jemparut