1% Katolik 1% Indonesia
Cari Berita

1% Katolik 1% Indonesia

13 November 2017

Orang muda dididik untuk paham substansi pentingnya memperjuangkan nasib sendiri bukan sekedar soal mengisi kantong dan memuaskan dahaga perut sendiri (Dok. Pribadi). 
Menjadi Indonesia tidak perlu setengah-setengah. Mental manusia merdeka harus ditunjukan dalam tindakan dan gerakan nyata. Bukan soal membuktikan eksistensi pribadi tetapi menguji sejauh mana iman kekatolikan kita benar-benar  merupakan “sabda yang menjadi daging”. Meniti karier sebagai politisi bukanlah pilihan mudah, mungkin bukan soal kariernya tetapi soal tujuan apa yang ingin dicapai dari kekuasaan yang sudah direbut secara demokratis.

Politik praktis tidak semudah politik idealisme semasa mahasiswa, ketika angan-angan dan mimpi ditopang oleh kebebasan tanpa ikatan, saat tuntutan untuk bertindak tidak menjadi prioritas, dan tindakan kritik pembangunan menjadi bagian dari pembelajaran. Saat ini ketika idealisme harus dilahirkan menjadi anak manusia yang hidup dan merasa sebagai bagian dari kesatuan masyarakat bangsa dan negara maka  hanya tindakan nyata yang bisa mengubah wacana, dan sentuhan langsung mengubah prasangka menjadi dialog yang lebih beradab dan mempersatukan.

Saat ini politik di republik kita bertumpu pada kepentingan golongan dibanding ketulusan mengabdi untuk bangsa dan negara. Tidak sedikit politisi yang menjadikan politik sebagai ladang, mencari makan dan menumpuk harta. Situasi semakin diperparah karena tidak sedikit juga orang baik yang bungkam, dan hanya berani meratapi situasi daripada mengambil tindakan nyata untuk menginstrospeksi dan mengoreksi sistem politik yang korup.

Semua yang diputuskan saat ini berawal dari impian yang ditanamkan dalam sejarah masa lalu. Jalan pergerakan yang panjang sebagai aktivis mahasiswa, dan teladan orang tua sebagai aktivis gereja di Tanjung Balai karimun menjadi guru bisu yang menanam pengaruhnya lewat tindakan daripada retorika yang menjemukan. Tantangan tidak pernah lari dari kehidupan, dan keiklasan untuk menghadapinya justru secara perlahan mengupas tabir kebodohan dan ketakuatan ras dan agama menjadi keberanian manusia merdeka yang bertindak dan berpikir magis melampaui batasan manusia zamannya. Inilah yang saya sebut sebagai dialektika hidup, bukan sekedar roda nasib yang menempatkan posisi kita diatas dan di bawah, di kanan, dan kiri tanpa ada tujuan yang jelas. 

Kaderisasi selalu bertujuan untuk membentuk laskar pemberani, menghasilkan manusia berjiwa besar dan menjadi petarung handal di zamannya bukan untuk kesejahteraannya sendiri, melainkan kesejahteraan semua orang siapapun itu. Orang muda dididik untuk paham substansi pentingnya memperjuangkan nasib sendiri bukan sekedar soal mengisi kantong dan memuaskan dahaga perut sendiri. 

Membesarkan pemimpin butuh proses. Setiap kader harus mulai dari hal kecil, berani untuk menjadi pemimpin dalam lini terkecil mulai dari tingkat RT, RW, ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua omk, ketua ormas, belajar mengorganisisr kebutuhan umat melalui dewan stasi, dewan paroki, dan juga komisi-komisi keuskupan. Disanalah wahana untuk mengandi sebagai abdi dan belajar untuk memimpin dan memberi inspirasi bagi dunia.

Tantangan di masa depan semakin besar. Kemajuan teknologi bukan hanya disikapi secara cerdas, juga perlu untuk membentuk jiwa yang arif dan bijaksana agar mampu menempatkan kemajuan itu bagi pertumbuhan kesadaran berbangsa. Perkembangan yang begitu pesat dan sepertinya tak terkejar oleh generasi muda kita jangan sampai menciutkan nyali untuk terus berjuang menjadi laskar pemberani dan pejuang kebajikan. Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu meberi inspirasi bukan mereka yang terampil merebut kuasa. Memberi inspirasi butuh karakter kepribadian yang matang, punya visi yang jelas, dan menjadi teladan dalam gerakan melalui ide dan tindakan yang cemerlang. 

Pada masa mendatang Pemerintah tidak lebih dari petugas administrasi, karena polisi dan tentara tidak perlu lagi berteriak dan mengacungkan senjata pada warga negara yang sadar hukum. Inilah masa cemerlangnya peradaban. Ketika kepatuhan tidak lagi menjadi sesuatu yang dibanggakan tapi hanya bagian lain dari kesadaran bahwa kita hidup bersama dan kepatuhan ialah bagian dari cara kita menghargai keberadaan manusia lain dan menjaga eksistensi pribadi kita. Namun cemerlangnya peradaban bukan berarti gambaran dari sempurnanya peristiwa sejarah manusia dimana surga dunia sudah tercapai dan perjuangan kemanusiaan terhenti. 

Disinilah peran generasi muda dibutuhkan, ketika dunia berjalan laksana mesin yang tak berjiwa, teratur dan terukur, namun rapuh dan rentan, maka laskar- laskar muda yang sudah disiapkan sejak dini akan muncul sebagai mercusuar baru. Di kala dunia kehilangan makna, dan manusia mencapai titik kritis kemanusiaan, disitulah mereka yang sudah disiapkan memberi makna dan muncul sebagai pemimpin inspirasi. Mereka akan menjadi tabib bagi peradaban yang setengah sakit, guru bagi manusia yang mencari kebenaran, dan pemimpin bagi siapapun yang mencari kepastian.

PMKRI berada pada posisi sebagai wahana mesu diri. Jiwa-jiwa muda harus dilatih dalam kawah candradwimuka agar lahir manusia -manusia ideal, dan mampu berdialektika dengan zamannya. Sebagai organisasi beralaskan nilai -nilai kekatolikan, persaudaraan, dan intelektualitas untu memperjuangkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati dengan metode kaderisasi yang terukur maka PMKRI akan menghasilkan nabi-nabi baru, rasul-rasul zamannya, yang bernubuat dengan tindakan dan menginspirasi dengan teladan.

Komunikasi lintas generasi tidak boleh terputus. Hanya dengan komunikasilah nilai -nilai itu bisa diwariskan dan terus didialektikakan dalam nuansa peradabannya sendiri. Sebagai orang yang berperoses lebih dulu, kita sebagai senior jangan hanya bisa menasihati tetapi bertanggungjawab untuk memberi teladan pada adik-adik kita yang sedang menempa diri dan membutuhkan guru yang inspiratif. Kita mungkin tidak perlu banyak mengeluh tentang dunia dan mereka, sudah saatnya kita menjadi kakak yang merengkul dan menguatkan proses perjuangan mereka. Pada saat inilah persaudaraan sejati lintas generasi diuji. Mengoreksi mereka sebagai saudara muda dan saling membantu apabila mereka tersesat, tentunya dengan keteladanan bukan hanya dengan kata. 

Sehingga, menjadi bahan refleksi kita bersama bahwa apakah kita sudah benar-benar menjadi soko guru untuk anak-anak muda kita melalui keteladanan dan gerakan yang berbeda dengan yang lainnya. Bagi saya secara pribadi kalimat indah “100% Katolik, 100% Indonesia” setidak tidaknya dapat terlaksana jika kita sudah benar-benar mencapai tahap refleksi paling dalam soal “1% Katolik, 1% Indonesia” sebagai acuan untuk menemukan sejauh mana kita sudah menjadi soko guru untuk kawula-kawula muda Gereja dan tanah air kita yang tercinta ini. Sebab barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. 

Religio Omnium Scientiarum Anima
Pro Ecclesia et Patria

Oleh : Vinsensius Awey 
PMKRI Bandung 90
Anggota DPRD Kota Surabaya 2014–2019