Vinsensius Awey, Orang Muda Harus Belajar dari Yesus Tanpa Kepala Milik Orang Gila
Cari Berita

Vinsensius Awey, Orang Muda Harus Belajar dari Yesus Tanpa Kepala Milik Orang Gila

22 October 2017

Suasana reses ketiga tahun 2017 DPRD Komisi C Kota Surabaya, Vinsensius Awey pada Kamis (19/10) kemarin. Reses dalam rangka mendengarkan aspirasi mahasiswa ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari beberapa kampus di Surabaya.
Surabaya, marjinnews.com-Dalam reses ketiga yang dilaksanakan pada, Kamis (19/10) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) komisi C Kota Surabaya, Vinsensius Awey menekankan pentingnya peran kaum muda terutama mahasiswa dalam upaya pemerataan pembangunan. Menurut Vinsensius, label agen of change yang melekat dalam diri kaum muda bukan hanya sebuah titel tetapi lebih kepada bagaimana orang-orang muda Indonesia terlibat secara langsung dalam membangun bangsa dan negara. 

"Adik-adik sekalian adalah agen perubahan. Agen perubahan itu jangan hanya menjadi label yang melekat dalam diri kita, tetapi lebih kepada bagaimana kita mengoptimalkan talenta yang diberikan Tuhan untuk memberikan sumbangsih dalam membangun bangsa dan negara kita" ujar Vinsensius dalam reses bertajuk yang muda yang berkarya itu.

Dalam kesempatan yang sama, hadir juga seorang pemateri dari PMKRI Cabang Surabaya membahas tentang bagaimana mahasiswa bersikap dalam bermedia sosial secara wajar. Bagi Andi Andur mahasiswa yang sudah hampir dua tahun lebih menjadi blogger itu, media sosial adalah pisau bermata dua. Bisa dipakai untuk hal-hal yang baik, bisa juga dipakai untuk hal-hal buruk. 

"Penting bagi kita anak muda memahami media sosial yang sesungguhnya. Bagaimanapun, media sosial merupakan fenomena dualisme penggunaan. Dia seperti pisau bermata dua, bisa dipakai untuk mengiris bahan makanan bisa pula dipakai untuk merampok. Sehingga akan sangat bijak jika kita tidak hanya tahu tetapi juga paham soal media sosial itu sendiri" Jelas Andi dalam pembukaan materinya.

Vinsensius juga mengingatkan orang-orang muda untuk selalu mengutamakan cinta kasih dalam setiap karya sehari-hari. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Sekretariat Paroki HKY Lantai 2 Jln. Polisi Istimewa, Surabaya tersebut ia juga menceritakan pengalamannya bertemu orang gila yang pandai melukis. Cerita itu menjadi bagian terpenting bagi dirinya untuk terus berkarya meneladani Tuhan.

"Adik-adik sekalian, negara hancur itu karena banyak orang baik seperti kalian memilih diam dan bungkam. Padahal cukup dengan menghayati arti cinta kasih dalam pelayanan sehari-hari kita semua sudah menunjukkan bahwa kita tulus memajukan negara dan bangsa kita tercinta ini" ujar Vinsensius.

"Ada sebuah cerita yang membuat saya sangat terinspirasi sampai sekarang ini. Ada seorang gila, ia pandai melukis dan menempelkan karyanya disebuah dinding rumah sakit. Gambarnya biasa tetapi istimewa. Maria Magdalena membasuh kaki Yesus, namun Yesus dalam gambar tersebut tidak berkepala. Waktu itu saya marah dan memaksanya menjelaskan mengapa ia menggambar demikian, bukankah itu sebuah penistaan? dengan gayanya yang khas orang gila itu sambil marah-marah menjawab, 'Yesus itu sangat baik, pelacur pun mau dirangkulnya. Jika engkau tanya soal kepalaNya, tambahkan sendiri kepalamu disitu supaya engkau meneladani dia'. Saya terharu, dan merenung sejenak sehingga kemudian menyimpulkan bahwa Yesus adalah teladan kita dalam berkarya" lanjut Vinsensius dalam penutup kegiatan Mendengar Aspirasi Mahasiswa itu. (AA/MN)