Sumbangsih Orang Muda Katolik untuk Gereja dan Tanah Air Menuju Bonus Demografi
Cari Berita

Sumbangsih Orang Muda Katolik untuk Gereja dan Tanah Air Menuju Bonus Demografi

31 October 2017

Dalam era digital yang serba canggih dan inovatif dengan berbagai macam teknologi terbarukan yang tidak bisa disangkal kehadirannya, penulis optimis bonus demografi tersebut merupakan sebuah kesempatan untuk kemajuan bangsa dan Gereja bukan sebuah kekhawatiran (Foto: Dok. Pribadi)
Pada tahun 2020–2030 Indonesia mengalami Bonus Demografi, dimana pada masa itu usia produktif masyarakat Indonesia (usia 15-64 tahun) berada diposisi 70% yang artinya generasi kita (Orang Muda Katolik) saat ini menjadi andalan untuk menopang 30% usia kurang produktif. 

Melihat kesempatan tersebut sebagai Orang Muda Katolik (OMK), kita perlu mempersiapkan diri baik itu berupa kualitas intelektual maupun kualitas mental yang  berdaya saing. Pengaruh globalisasi menyebabkan peta persaingan kita lebih luas bahkan menjangkau hampir seluruh orang muda di belahan dunia.

Selain itu, kematangan spiritual sebagai bagian dari Gereja yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa harus juga dikedepankan agar setiap orang muda kita semakin setia terhadap panggilan masing-masing dalam berkarya untuk kemuliaan nama-Nya. Hal ini bagi penulis mampu menghindarkan kita supaya tidak terpengaruhi oleh budaya-budaya asing atau perilaku-perilaku yang kurang berkenan bagi sesama, lingkungan dan dihadapan Allah. 

Dalam era digital yang serba canggih dan inovatif dengan berbagai macam teknologi terbarukan yang tidak bisa disangkal kehadirannya, penulis optimis bonus demografi tersebut merupakan sebuah kesempatan untuk kemajuan bangsa dan Gereja bukan sebuah kekhawatiran. 

Perkembangan yang sedemikian cepatnya sangat berpengaruh terhadap penyediaan lapangan pekerjaan. Kebutuhan ekonomi yang ditandai dengan banyak permintaan barang dan jasa membuat kita bisa memprediksi bahwasannya, momen bonus demografi tahun 2020-2030 yang berpuncak tahun 2045 persaingan untuk merebut peluang kerja semakin menjadi-jadi, pertaruhan kualitas intelektual, mental dan religiusitas bukan sesuatu yang bisa dihindarkan.

Untuk kondisi saat ini penulis optimis pemerintah mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai menuju tahun bonus demografi tersebut. Hal ini dapat kita saksikan dengan menelisik betapa masifnya pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia dibawah pemerintahan Jokowi-JK selama beberapa tahun terakhir.

Sebagai Orang Muda Katolik kita harus aktif ambil bagian dalam kesempatan tersebut. Hal ini bisa kita mulai dengan hal-hal kecil seperti: aktif terlibat dalam komunitas-komunitas maupun Kelompok Kategorial seperti PMKRI dan lainnya, ikut berdinamika bersama Orang Muda Katolik lainnya dalam menempa diri lewat pendekatan spiritualitas katolik maupun intelektualitas yang sesuai dengan tuntutan jaman. 

Manfaat yang bisa kita peroleh dengan aktif di Kelompok Kategorial di Keuskupan masing-masing adalah perjumpaan dengan Allah dalam rupa Orang Muda Katolik lainnya yang berasal dari semua golongan maupun suku-suku yang ada di Indonesia, yang artinya kita mendapatkan kesempatan ganda, selain dapat bekerjasama sejak dini juga untuk memupuk persaudaraan sehingga pada saat perjumpaan dikemudian hari tidak ada rasa canggung lagi walau sekedar bersua sapa. 

Oleh karena itu, perubahan zaman ini tidaklah harus mengkikis nilai-nilai kekatolikan kita melainkan diusakan untuk lebih merekatkan nilai-nilai kekatolikan tersebut lewat pembangunan persaudaraan sejati antar Orang Muda Katolik generasi milenial sejak di bangku sekolah maupun perkuliahan.
 
Oleh: Clarissa A. D. N. Pawdaag
Mahasiswa UNPAR, Bandung
Anggota Aktif PMKRI Cabang Bandung
 

Editor: Andi Andur