SOCIETY: Ada Pergeseran Makna Penggunaan Miras Bagi Remaja di Cibal, Manggarai

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

SOCIETY: Ada Pergeseran Makna Penggunaan Miras Bagi Remaja di Cibal, Manggarai

16 October 2017

Kebiasaan remaja di kec. Cibal mengkonsumsi miras tentunya membawa dampak buruk terutama dalam pertumbuhan dan relasi sosial remaja itu sendiri (Gambar: Istimewa)
Warga Cibal dan Cibal Barat yang berdomisili di Yogyakarta dan tergabung dalam ikatan paguyuban Solidaritas Keluarga Cibal Yogyakarta (SOCIETY) menilai banyaknya masyarakat khususnya di kecamatan Cibal dan Cibal Barat kab. Manggarai, NTT masih keliru soal kegunaan dari minum keras atau miras (tuak).

Menurut ketua divisi humas SOCIETY, Awik takdir  pada dasarnya  penggunaan minuman keras (tuak) dalam kebudayaan masyarakat Manggarai adalah sebagai pemersatu atau simbol perdamaian, tapi seiring berjalanya waktu penggunaan miras (tuak) semakin disalahgunakan. 

"Biasanya di Manggarai tuak dijadikan pemersatu atau sebagai simbol perdamaian, pada saat tertentu jika terjadi konflik antar masyarakat dalam kehidupan sehari-hari tuak akan dijadikan salah satu prantara untuk menjalankan proses perdamaian, entah knpa semakin kesini tuak disalahgunakan oleh masyarakat" jelas Awik.

Menilik dari tradisi masyarakat Manggarai pada umumnya bahwa penggunaan miras (tuak) ini hanya untuk prosesi adat seperti penti, teing hang, pentang pitak atau acara adat lainya dan diberlakukan hanya untuk orang-orang dewasa. Fenomena tersebut rupanya mengalami pergeseran makna terutama dalam penggunaanya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ketua divisi akademik SOCIETY Vicky Purnama pada bulan Agustus kemarin di wilayah kecamatan Cibal dan sekitarnya, penggunaan miras sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada diri masyarakat, bahkan tidak bergantung pada acara adat tertentu. Ironisnya penggunaan miras tidak lagi memperhatikan usia dan menyentuh kesemua kalangan terutama kalangan remaja. 

"Kemarin pada bulan Agustus, saya berlibur ke Cibal Manggarai. Saya melihat penggunaan miras sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat disana, bahkan miras kerap kali disalahgunakan, tidak jarang anak-anak dibawah umur yg mengkonsumsi miras dan melakukanya di jalan raya. Bagi saya itu sesuatu yg sangat buruk terutama bagi masa depan mereka” jelas Vicky.

“Saya melihat disana hampir 75% keributan dilakukan oleh orang mabuk karna MIRAS dan masih pada usia sekolah" lanjutnya.

Mengacu pada pandangan Muagman (1980) dalam Sarwono (2006) mendefinisikan remaja berdasarkan definisi konseptual World Health Organization (WHO) yang mendefinisikan remaja berdasarkan 3 (tiga) kriteria, yaitu: biologis, psikologis, dan sosial ekonomi.
1. Remaja adalah situasi masa ketika individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai kematangan seksual
2. Remaja adalah suatu masa ketika individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. 
3. Remaja adalah suatu masa ketika terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Kebiasaan remaja di kec. Cibal mengkonsumsi miras tentunya membawa dampak buruk terutama dalam pertumbuhan dan relasi sosial remaja itu sendiri. Pada hakekatnya kurangnya kedewasaan dalam mengkonsumsi miras akan berpengaruh pada perilaku anak tersebut, misalnya: menjadi biang keributan, dan menjadi contoh yang buruk bagi generasi berikutnya.

Solidaritas Keluarga Cibal Yogyakarta dalam diskusi yang dilaksanakan pda Minggu 16 oktober 2017 di sekeretariat SOCIETY Jl. Sukun Yogkarta berharap PEMDA Manggarai bekerja sama dengan masyarakat untuk mengatasi hal ini. Mereka (anggota society red.) menawarkan solusi kepada pemerintah untuk mengeluarkan PERDA tentang pembatasan penggunaan alkohol terutama bagi remaja dan atau pelajar.

Selain itu, dibutuhkan juga pengawasan orangtua dan juga sekolah terhadap kebebasan anak-anak terutama dalam pergaulan.

Warga Cibal Yogyakarta berharap masalah seperti ini segera diatasi supaya bisa menciptakan generasi tanpa alkohol.  Karena bagaimanapun juga mereka adalah masa depan bangsa yang harus dibina baik fisik maupun mental. 

"Kami ase kae cibal Yogyakarta sangat berharap PEMDA bisa bekerja sama dengan masyarakat untuk mengatasi hal ini. Kami ingin generasi muda di Cibal terlahir sebagai generasi bebas alkohol. Bagi kami itu sesuatu yang membanggakan" kata ketua SOCIETY, Demian Sengga. (ET/MN)