Sang Pujangga Malam
Cari Berita

Sang Pujangga Malam

24 October 2017

Pada hakekatnya cinta adalah  sebuah pengembaraan. Tak berhenti, dia selalu butuh jawaban. Arsi yah dia adalah pujangga malam malamku tempatku menimba sejuta kenyaman. (Gambar: Istimewa)
Ketika sebuah kesempurnaan adalah tujuan,sesuatu yang dimiliki dinilai tak ada artinya, ketika cinta dinilai dari segi logika saat itu, cinta hanyalah sebuah permainan belaka, ketika cinta adalah sebuah misteri, takdir akhir tak mudah diprediksi, karena cinta pada hakikatnya adalah sebuah pengembaraan yang tak pernah kita pahami.
            ***
Senja itu kembali dalam nuansa pilu, meracik kisah yang tak mampu kudefinisikan. Ruang ini hampa, menjebakku dalam sekat yang bernama kebingungan. Lantas cinta apa yang harus aku pilih? Aku mengagumi dia yang berada ta jauh dari sisiku. Setiap hari tak ada waktu yang terlewatkan untuk berpapasan dengannya. Senyumnya manis, raut wajahnya ramah membuat ku tak malu tuk melepas senyum walaupun hanya sedikit saja. 

Rasa tak bisa dipungkiri, mulai bersemayam dan punya posisi sendiri. Ruang itu bertahta atas nama Cinta yang tak bisa kupahami sendiri. Satu sisi aku sudah berkenalan dengan kakaknya. Jarak yang jauh tak menjadi masalah bagi kami untuk berkomunikasi. Aku menilainya sempurna saat kumembandingkan dua sosok laki-laki itu. Kakaknya memiliki wajah yang luar biasa tampa dibandingkan adiknya, tapi kehangatan yang mengaliri diriku untuk semua situasi yang aku miliki semuanya berasal dari dia.Yah sumber kehangtan itu dari Arsi.

Kebingungan melandaku, ketika suatu hari aku dipanggil orangtuaku. Kakaknya ingin segera melangsungkan pernikahan, hatiku sakit tak mampu dibendung. Ada rasa sakit yang terasa, sesuatu yang tak bisa kujabarkan, dia hanya seperti angin yang hadir tuk menyejukan, dia bukan segala yang kupunya, hanya beberapa kali  aku bertemu dengannya tapi kenapa jejak pilu nampaknya sangat terasa. 

Sebenarnaya rasa bahagia yang harus kurasakan saat ini, pernikahan  adalah sebuah moment yang selama ini aku tunggu, tapi kenapa kabar ini semacam pilu yang harus kutanggung, yang mengikatku pada sebuah kehampaan tanpa ujung. Ini konsekuensi yang harus kuterima, aku sudah berkenalan dengan kakaknya dan biarkan ini menjadi sebuah sebuah beban yang kutanggung, biarkan logikaku  saat ini yang ambil kendali. Biarkan Tuhan yang pada akhirnya menjadi penentu akhir ceritaku, biarkan kehampaan yang terasa karena pada akhirnya aku hanya penerima keputusan sang khalik yang penentunya.

***

Sebuah cerita punya masanya masing-masing.Masa depan adalah sebuah prediksi,masa depan adalah sebuah misteri karena aku tak mampu meramal apa yang akan terjadi dalam perjalanan hidupku. Aku punya mimpi sebuah masa  depan seperti cerita dongeng yang kubaca, semua akhir cerita membahagiakan punya daya tarik sendiri untuk bangkitkan gairah dari pembaca. Dan akhirnya dongeng adalah sebuah dongeng kisah nyata adalah sebuah kenyataan yang harus kuterima. Andre meninggal, meninggalkan jejak pilu yang sangat menyakitkan, mimpi yang coba kubangun pada akhirnya hancur berkeping tanpa ada yang tersisa, sebuah alasan untuk bertahan pada mimpi yang ingin terwujud nyatanya ahncur tak tersisa.

Aku seorang janda yah seorang janda, status yang harus kusandang sekarang. Sebuah gelar yang akan terus melekat menjadi identitasku. Aku juga calon ibu bagi anak yang nantinya akan lahir. Ini memilukan aku ibu tanpa ayah. Membesarkan bayi ini hanya seorang diri, tanpa peneguh yang akan terus menguatkan langkahku.

Tapi Tuhan masih berpihak padaku, pada sejumput kisah yang pasrah kulalui. Keputusan dari mertuaku untuk menikahkan ku dengan Arsi adik Andre. Sebuah keputusan yang yang menenangkan tapi penasaran juga ada. Apakah cinta yang dulu, masih sempat terbalas dari laki-laki yang duduk di depanku saat ini. Aku melihat ekpresi dari raut wajah Arsi, aku tak mampu menebak apa yang dipikirkannya, aku malu pada semua situasi yang melibatkan kesulitanku dengan orang lain.

Aku mencintai yah bahkan sebelum dan sesudah Andre meninggal,tapi apa yang terjadi padaku sekarang tak menjamin bahwa semua akan baik-baik saja. Aku terjebak dalam situasi yang tak mampu aku sangkal bahwa situasi ini membuatku gugup dan takut.” Ya aku mau menggantikan Andre menjadi suami Isna”, ucap Arsi.

Aku tak mampu berkata untuk sepersekian detiknya, aku terharu dan bahagia, lidah ku kelu untuk menjawab apa yang ditanyakan ibunya. Aku takut bila Arsi terpaksa menerima keputusan ini, aku adalah seorang ajnda, calon ibu bagi bayi yang sekarang aku kandung. Kutarik napas dalam-dalam mengumpulkan semua kekuatan yang kumiliki.

“Iya,aku mau”, kata itu berhasil meluncur dari mulutku. Awal petualanagn baru bagiku pun segera dimulai, menjadi istri dari adik suamiku sendiri.

Waktu bergulir, usia anakku sudah tiga tahun .rasa bahagia tak bisa kupungkiri. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal. “Apakah Arsi mencintaiku? Apakah semua yang ia lakukan aats dasar kasihan?” 

Rasa penasaran yang kumiliki itu semakin menjadi-jadi. Hingga suatu senja aku memberanikan diriku untuk bertanya. Aku tak ingin semua semakin dalam lagi dia terlibat dalam hidupku.

“Aku malu padamu Arsi, pada semua yang sudah kita lalui. Aku merenggut kebahagianmu, kataku dengan sembari tak mampu emnahan tangis.” 

“Sudah, engkau tak usah merasa bersalah, aku mencintaimu sama seperti masa gadismu dulu.” Katanya. Ketenangan membanjiri hatiku. Ada sejumput beban yang lepas dari hatiku, sesuatu yang selalu mengikatku selama beberapa tahun ini. Aku lega bahkan luar biasa aku bebas, aku ingin menari sekarang pada kenyataan yang sudah kuterima.

Saat itu aku percaya Tuhan telah menyiapkan akhir cerita bahagia sama seperti yang kuharapakan, hanya saja jalan yang kulalui agak berbeda dari yang ku mau karena pada hakekatnya cinta adalah  sebuah pengembaraan. Tak berhenti, dia selalu butuh jawaban. Arsi yah dia adalah pujangga malam malamku tempatku menimba sejuta kenyaman. Dia akhir ceritaku sampai aku mengakhiri kisahku dalam pengembaraan ini.

Nama : Angela Seriang
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Sanata Dharma