Ruteng Bunuh Diri

"apa yang merekonstruksi pikiran anak-anak muda kita hingga berlaku kanibal terhadap dirinya sendiri?" (Foto: Dok. Pribadi/Tini Pasrin)
Kasus bunuh diri di Ruteng, Manggarai kian hari kian marak. Ibu kota kabupaten Manggarai tengah itu dipenuhi banyak sekolah dan biara. Sehingga gelar kota pelajar dan kota sejuta biara bukanlah hal yang tidak bisa dibuktikan. Hal ini tentu menjadi suatu keindahan.

Akan tetapi kita semua harus mulai was-was dan risih dengan kondisi kota yang semakin hari seakan tidak menunjukkan citranya sebagai keindahan, dia menjelma jadi kota berbunga bangkai. Pelajar bahkan mahasiswa akhir-akhir ini diberitakan seakan mengidap penyakit ketagihan bunuh diri. Enam kasus akhir-akhir ini tentu masuk dalam angka besar untuk ukuran Ruteng Manggarai.

Kasus yang masih hangat-hangatnya adalah kasus bunuh diri seorang siswi kelas 2 SMP Karya Ruteng dengan sorotan pada cara bunuh dirinya yang tragis dengan cara membakar diri seperti yang diberitakan oleh beberapa media.
 
Lalu pertanyaan "apa yang merekonstruksi pikiran anak-anak muda kita hingga berlaku kanibal terhadap dirinya sendiri?" Kiranya menjadi pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang.
 
Dari segi psikis kita bisa melihat umur-umur seperti korban memang tidak terlalu cerdik untuk keluar dari masalah. Belum adanya kemampuan menerima masalah untuk diselesaikan dengan pikiran yang logis dan memberi peranan kepolosan mereka dalam melihat masalah tentu akan menimbulkan tekanan batin. 

Apalagi ketika kurang adanya keterbukaan untuk menceritakan masalah pribadinya. Sehingga masalah ini dibungkus, dipendam lalu menumpuk dan suatu ketika akan meledak jika direnungkan kembali dengan timbulnya rasa takut yang luar biasa dan mulai berhalusinasi dan mencari jalan pintas dengan cara mengkanibalkan diri sendiri.
 
Pandangan psikis ini tentu bisa kita pertimbangkan, lalu mari kita keluar dan melihat ke lorong-lorong. Seperti kasus yang terjadi pada anak STIKES beberapa bulan lalu, media memberitakan bahwa beliau dalam tanda petik bunuh diri. Namun ada isu-isu bahwa beliau dibunuh dan sudah dilaporkan ke pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti. Akan tetapi sampai sekarang kelanjutannya belum jelas. Atau memang sudah tidak diselidiki lagi. 

Entahlah, kalau memang ini modus pembunuhan, pembunuhnya pasti merasa tenang. Ternyata gampang saja untuk membunuh di kota Ruteng, dikelabui sedikit pasti sudah bisa lolos. Miris, tetapi patut kita pikirkan bersama. Kalau kita kaitkan dengan kasus yang sedang hangat-hangatnya sekarang kita harus berani untuk bisa keluar dari satu pandangan. Bagaimana jika yang katanya bunuh diri itu sebenarnya hanya sekedar pengalihan isu dari kejadian sebenarnya bahwa dia dibunuh?. 

Dari segi kriminologi sidik jari akan terhapus dengan api dan air. Walaupun kita pasti punya pertanyaan yang bisa kita jawab bersama juga, "apakah masyarakat Manggarai sudah sejauh itu pikirannya?" Kita tau pasti itu, lalu kemungkinan-kemungkinan kecil pun bisa kita pertimbangkan bersama.

Pihak berwenang ataupun kita sendiri yang tidak bisa menjadi pemberi kepastian di tengah persimpangan jalan dalam masalah seperti ini tentu menjadi penghambat besar.

Kita sangat mudah menemukan berbagai masalah tetapi di saat bersamaan kita seakan tumpu untuk melihat solusi. Entah dari segi pengalihan isu yang akan diganti dengan berbagai berita baru tidak sampai satu minggu setelahnya, masyarakat seakan diajak mengikuti gelombang suam-suam kuku. Berita itu hangat hanya ketika kejadian. Perilaku masyarakat kita sendiri yang mungkin menjadi ladang yang bagus bagi aparat terleha-leha untuk santai.
 
Sehingga yang perlu kita rombak adalah dari segi sistem. Kita hidup dalam sistem dimana media dan aparat menjadi tolak ukur sebuah masalah. Media seharusnya dirombak lagi dari segi yang hanya memprioritaskan kecepatan daripada ketepatan harus jadi perhatian bersama, lalu teman-teman media juga harus berani memulai,memproses dan mengakhiri masalah itu hingga tuntas. Tentu akan ada kepuasan di dalam benak pendengar dan bisa mempengaruhi masyarakat untuk ikut terlibat bersama. Bukan hanya sekedar update berita baru lalu ditanggalkan lagi setelahnya seperti yang sudah-sudah. Totalitas, itulah kata-kata yang kira-kira tepat untuk menggambarkan apa yang sebenarnya dan seharusnya dilakukan.
 
Poin berikutnya adalah sistem yang perlu dirombak adalah pertanggungjawaban tugas dari aparat. Kita sebagai masyarakat ataupun aparat sendiri harus berani mengambil sikap. Kalau kinerja kerja seseorang ataupun tim tidak bisa dibuktikan, yah harus diganti atau sekurang-kurangnya memakai metode lain. Masih Ada kasus yang dicerna dengan baik kok, kenapa itu tidak menyeluruh? Kembali lagi, tidak apa-apa terlambat yang terpenting akurat. Bagaimana masyarakat bisa diajak berpikir ke arah solusi kalau aparat tidak menekankan aksi penyelesaian yang menggebrak banyak orang? Karena pada dasarnya masyakat polos untuk mengikuti pola suam-suam kuku tadi. Karena memang kurang atau bahkan tidak ditindaklanjuti lagi.
 
Pemenuhan sisi rohani dalam diri remaja sangat perlu ditekankan. Pergi ke tempat ibadah untuk anak-anak biasa di luar asrama tentu sangat minim. Mengapa? Beribadah dilihat sebagai kejenuhan. Tidak ada yang menarik mungkin bagi mereka selain khotbah Romo muda atau Romo berjiwa muda yang memaparkan khotbahnya dengan menarik, atau hanya sekedar ketika ada baju baru untuk segera dipamerkan. Sehingga menyadari motif ini sekolah dan biarawan/biarawati memiliki peran yang sangat besar. 

Penulis masih ingat ketika bersekolah di SMAK Setia Bakti Ruteng, ada tugas dari guru agama kami Ibu Servy yang mewajibkan kami meminta tanda tangan pemimpin misa setiap ada misa. Hal ini mungkin terlihat seperti pemaksaan, tetapi hal ini sangat efektif dan sangat membantu pelajar untuk setidaknya benar-benar fokus ketika di Gereja. Karena disitu harus diterakan juga tentang inti bacaan dan lain sebagainya. 

Lalu bagaimana menanggalkan kebosanan dari pelajar? Kegiatan outdoor dari biarawan/i atau seminar-seminar dengan perlombaan dan dikemas dengan hadiah menarik yang bekerja sama dengan sekolah yang sudah pernah dilakukan kiranya lebih ditingkatkan lagi. Ketika pengetahuan tentang agama bisa dicerna dengan baik oleh setiap pelajar, dengan sendirinya tindakan mereka akan lebih menurut pada hati nurani.
 
Kita sangat bisa menemukan solusi bersama dengan tidak bermodal 2 uang koin untuk menutup telinga kiri dan telinga kanan. Kelumpuhan satu pihak sangat bisa membuat "Ruteng bunuh diri". Solusi ini adalah keterlibatan kita bersama. Mari Selamatkan generasi muda. 

"Berikan aku 10 pemuda, akan ku guncang dunia."(Soekarno).
Pemuda adalah jantung.

Oleh: Tini Pasrin marjinnews.com

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Ruteng Bunuh Diri
Ruteng Bunuh Diri
https://3.bp.blogspot.com/-KwebSii7HW4/WYs36vCROxI/AAAAAAAABHs/ujnFHplD42MFJJ0ax0IRufiuHH2f8oqmgCPcBGAYYCw/s320/Tini_Pasrin_MarjinNews.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-KwebSii7HW4/WYs36vCROxI/AAAAAAAABHs/ujnFHplD42MFJJ0ax0IRufiuHH2f8oqmgCPcBGAYYCw/s72-c/Tini_Pasrin_MarjinNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/ruteng-bunuh-diri.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/ruteng-bunuh-diri.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy