Puisi-puisi Agust Gunadin, Sang Gembala
Cari Berita

Puisi-puisi Agust Gunadin, Sang Gembala

5 October 2017

Hanya dengan orang-orang berhati damailah yang boleh menerima kejadian buruk dengan lega (Gambar: Istimewa)
Wajah Pengap Kota Tua

Ini bocah,
yang tinggal di bawah kolong langit-langit
sungai kali mati
digilas riuh tapak kaki dewa orde terakhir katanya.

Lalu, lintas kota tua
Lalu, lantas bocah muda rupa
Lalu, lantar di senja

Mengemis buih-buih yang dianugerahi malam
pada setetes embun pagi
Denging dan dengung
amuk nyamuk hinggapi mimpi, hinggapi sepi.
Tak pernah sekali pun ia sekadar mengeluh
pada seniman yang menamparnya
ke Mahakarya
Rumah camillian, 07/08/2017


Gundukkan Asmara

yang sayup, yang kuyup
menetes dari langit yang resah berdesah
awan putih yang makin lama makin habis disapu kikis
jalan-jalan gundul-telanjang basah
debu-debu lebur-lepur
berserak lalu nyatu jadi lumpur

gunung-gemunung denyut “bakal muntah hasrat membakar bilik
tempat burung tengger di pohon tua” kata si pembaca ulung
segala yang lapis jadi lepuh
lacur gunung, jadi padang gunduk gersang
sepanas luapan sedingin kematian

di seberang perahu mendayung-mendayu-merayu lekuk gelombang
yang sayu, yang sayup, yang kuyup
Pantai, 18/08/2017

Nasihat

potong kukumu malam-malam
potong rambutmu malam-malam
biar kita dikutuk kelam
biar kita dirundung petaka

potong kukumu diam-diam
potong rambutmu diam-diam
biar amarah di sunyi bungkam
biar amarah disulut neraka
Pau, 15/09/2017

Puing-puing kenangan

Mengerucut gunung hendak menikam langit,
menggunduk bukit, bergentayangan arwah-arwah api dalam luapan
petuah sirene mengiblat jeput jiwa-jiwa ke pangkuan langit
menyisakan kenangan. Kenangan yang tertinggal di mata mu
lalu mati dalam pelukan. Gelak tawa cilik di padang ilalang,
dekapan-dekapan dalam bilik yang tertinggal. Tak bertuan.
Dalam puing-puing tinggal petang dan kabut
dibawa petang yang kalut.

Kita hanya mendaur ulang sisa-sisa cerita yang terhambur
dan pengap dalam ingatan. Arwah-arwah di hatimu yang
kau gubah menjadi derita, kini membawa api
yang siap terhuyung.  
Camilian, 12 September 2017

Oleh: Agust Gunadin
Pegiat sastra San Camillo, tinggal di rumah filsafat Biara Kamilian-Maumere