PEMUDA DAN TAKARAN SUMPAHNYA KINI (?)

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

PEMUDA DAN TAKARAN SUMPAHNYA KINI (?)

26 October 2017

Menjadi pertanyaan refleksi kita bersama sebagai pemuda, sejauh mana peran dan tanggungjawab meneruskan sumpah yang diikrarkan pada tangga 28 oktober 1928 di ulang tahun yang 89 ini? (Foto: Dok. Pribadi)
Sejarah jangan dijadikan berhala masa lalu, tetapi sejarah terus di jadikan kompas yang memacu ditengah derasnya arus waktu. Demikian catatan Najwa Sihab dalam sebuah episode talk show-nya di sebuah stasiun swasta nasional. Sumpah Pemuda yang merupakan peristiwa bersejarah dikenal sebagai salah satu tonggak bersatunya bangsa Indonesia. Para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul bersama di Kongres Pemuda. 

Pada saat itulah dihasilkan tiga hal penting: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada Kongres Pemuda ini pula lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan oleh Wage Rudolf Soepratman melalui gesekan biolanya. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah contoh nyata keterlibatan pemuda secara aktif dengan mengusung misi yang sama. Memang tidak dapat kita pungkiri Masa depan suatu bangsa adalah tergantung kepada generasi muda yang saat ini sedang tumbuh berkembang menyerap berbagai macam ilmu.

Bila dulu sumpah pemuda dijadikan sebagai alat pemersatu, maka seharusnya kini dijadikan sebagai cambuk bagi pemuda Indonesia untuk berbuat yang lebih baik demi kemajuan negara. Menjadi pertanyaan refleksi kita bersama sebagai pemuda, sejauh mana peran dan tanggungjawab meneruskan sumpah yang diikrarkan pada tangga 28 oktober 1928 di ulang tahun yang 89 ini? 

Di era reformasi ini banyak orang yang menaruh harapan kepada pemuda dengan kadar intelektual di atas rata-rata pemuda biasanya yaitu mahasiswa. Harapan ini tentu sangat wajar karena pemuda (mahasiswa) dipundak mereka inilah agen of change, agen of control, dan agen of intelectual dititipkan. Sejarah membuktikan gerakan mahasiswa pada 1966 menjadi awal kebangkitan mahasiswa secara nasional.  

Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ini memunculkan Tri Tura (Tiga tuntutan rakyat), yakni: Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya; perombakkan Kabinet Lamira; dan turunkan harga sembako. Serangkaian demonstrasi yang dilakukan akhirnya berujung pada Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang menandai akhirnya Orde Lama dan membuka Orde Baru. Pemuda lagi-lagi menunjukkan perannya pada tahun 1998. Mahasiswa menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). 

Peristiwa 1998 ini juga diiringi dengan berbagai tindakan represif pemerintah yang mengakibatkan tragedi-tragedi seperti Tragedi Cimanggis, Tragedi Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, serta Tragedi Lampung. Tindakan represif ini mengakibatkan tewasnya aktivis mahasiswa, sipil dan ratusan korban luka. Paling fenomenal adalah ketika mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR. Pada akhirnya Presiden Soeharto saat itu melepaskan jabatannya sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru menuju reformasi. 

Tiga point penting yang diikrarkan 28 oktober 1928 menjadi rujukan untuk mahasiswa mengikrarkan sumpahnya juga. Dalam sumpah mahasiswa kita kenal ada tiga point penting yang diikrarkan yaitu. 

1. Mengakui tanah air yang satu tanah air tanpa penindasan. 
Menjadi pertanyaan refleksi: sudahkah tanah air kita tanpa penindasan? Sedangkan kita menyaksikan hukum masih pandang bulu, suara-suara dikebiri, kekayaan alam dikuasai asing, yang miskin makin miskin yang kaya tambah makmur, anak pejabat mendapat beasiswa anak petani menyumbang pajak untuk disubsidi ke anak pejabat serta masih banyak lainnya.

2. Mengakui bangsa yang satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. 
Sudah adilkah kita saat ini? Ketika kita menyaksikan korupsi meraja lela, pejabat merengengek mobil baru, generasi bangsa di pelosok negeri sekolah beratap ilalang beralaskan tanah, hulu hiruk pikuk dengan kepentingan sedangkan hak hilir terus dikebiri, keadilan kita sepertinya terus di perkosa tapi mengapa kita seakan menikmati pemerkosaan itu?

3.mengakui bahasa yang satu bahasa tanpa kebohongan. 
Benarkah hari ini kita jauh dari kebohongan? Ketika, papa merengek minta hadiah, yang terhormat sidang sambil tidur, korupsi merajalela mempersalahkan kekuatan setan yang lebih dari kekuatan malaikat, membangun koalisi, memperkuat oposisi karena (katanya) demi rakyat. 

Beberapa point refleksi di atas menurut saya adalah bentuk gugahan nurani kepada kita sebagai penerus bangsa ini, agar momentum sumpah pemuda tidak sekedar seremonial, tetapi ada kontribusi lebih dari sekedar seremonial. 

Sebuah perubahan memang sulit tetapi tidak berubah itu lebih fatal. Seharusnya kita hari terus berproses dalam sebuah keniscayaan karena generasi kita sebelumnya telah menitipkan pada kita cara dari sebuah perjuangan. Masih mampukah kita hari ini sebagai pemuda mendengar yang luput dari pendengaran mereka, melihat yang luput dari penglihatan mereka dan menjamah yang luput dari tangan mereka? Selamat hari sumpah pemuda 28 oktober 2017. 
Bagimu negeri jiwa raga kami.

Oleh: Rus Lepe