Pemuda dalam Konteks Literasi dan Pengguna Media Sosial
Cari Berita

Pemuda dalam Konteks Literasi dan Pengguna Media Sosial

29 October 2017

Kita bisa bisa menggunakan konsep literasi dalam bentuk teks, dan sebagai sebuah ladang praktik literasi. Opini dan argumen yang bersifat membangun bisa disalurkam melalui media sosial (Foto: Istimewa)
Pada sebuah perempatan itu, lampu merah adalah penanda aktivitas, merah adalah waktu bekerja, hijau adalah saat bermain, mengobrol dan bercanda.  Potret pemuda masa kini dalam konsep literasi belum sepenuhnya dipahami.  Penerapan literasi dalam ruang lingkup pemuda masih perlu ditingkatkan lagi. Prinsip pada zona nyaman perlu kita tinggalkan. 

Penerapan literasi oleh kaum muda  lebih cenderung sebagai pengagum literasi yang membuatnya tetap menikmati peristiwa tanpa ingin  menyelam lebih jauh lagi untuk menghasilkan pemikiran baru yang diterapkan dalam praktik literasi. Hakikat peristiwa literasi kegiatan yang menggunakan teks yang terjadi dalam konteks sosiokultur yang unik dan sedangkan praktik literasi adalah himpunan peristiwa literasi yang terjadi secara berpola atau berulang.

Pemuda cenderung hanya larut dalam kegiatan literasi yang menggunakan teks, dan mengabaikan praktik literasi. Tak dapat disangkal, pemuda memang mengambil bagian dalam dunia  literasi, tetapi praktik literasi masih sangat kurang. Seperti perumpamaan di atas pemuda masih dalam sebuah masa pengembaraan, kita masih berada di perempatan.banyak hal yang perlu pemuda lakukan yang dianalogikan dengan lampu warna hijau dan merah.

Kegiatan literasi termasuk dalam lampu merah sebagai wadah untuk bermain, mengobrol dan bercanda. Lewat literasi tiga poin bisa diselami. Literasi sebagai wadah untuk bermain dalam artian dunia literasi digunakan sebagai ajang permainan ide, opini yang mampu menghadirkan stigama baru tentang sesuatu hal. Literasi sebagai wahana mengobrol dengan membangun interaksi dengan orang lain sebagai penunjang  praktik literasi.

Literasi dapat disalurkan melalui media sosial. Media sosial adalah gambaran dari literasi. Kita bisa bisa menggunakan konsep literasi dalam bentuk teks, dan sebagai sebuah ladang praktik literasi. Opini dan argumen yang bersifat membangun bisa disalurkam melalui media sosial. Dalam konteks ini literasi memperdaya media sosial untuk menciptakan sebuah produk berkualitas yang bisa dirasakan manfaaatnya oleh  khalayak umum.

Pemuda bisa memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk berekspresi dalam bentuk aksi dan praktik yang berkualitas, bukan menggunakan media sosial sebagai ajang provokasi yang bersifat menghancurkan dan memicu timbulnya sebuah paradigma yang dipertentangkan oleh orang lain.

Literasi sudah lama dinilai sebagai salah satu tolak ukur bangsa yang modern. Lirik sebagai sebuah keterampilan maupun praktik sosial, mampu membawa hidup seseorang ke tingkat yang lebih baik. Memiliki kemampuan literasi yang memotivasi kita untuk kemudian terjun langsung  praktik literasi sebagai upaya membawa sebuah tingkat yang lebih baik. Kalau kita mencoba menyelam jauh tentang praktik literasi, lahirnya akademis, penulis-penulis hebat, penyair dan pencipta lagu adalah langkah awal praktik literasi.
Lebih jauh kita dapat berpendapat bahwa memotivasi para akademis, penyair dan penulis terjun ke praktik literasi tertentu juga dapat diawali motif ekonomi seperti perbaikan taraf ekonomi. Kehadiran media sosial yang semakin canggih tentu terus membawa kita pada sebuah peradaban bahwa segala sesuatu itu mudah dan baik adanya. 

Tindakan nyata menggunakan media sosial secara bijak sebagai implementasi literasi dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Membudayakan praktik literasi berbasis media sosial bisa saja kita lakukan. Orang sering mengatakan bijaklah menggunakan media sosial, media sosial juga dapat mendatangkan keuntungan.

Sebagai kaum muda cerdas teknologi peribahasa ini dapat kita terangkan sebaiknya. Menciptakan identitas diri dapat melalui praktik literasi di media sosial. Anggapan media sosial sebagai provokasi yang bersifat menghancurkan lambat laun menyelam menjadi sebuah praktik nyata yang dapat membangun.

Akhir kata,  mengentas kemiskinan melalui literasi, keluar dari penderitaan melalui bijak menggunakan media sosial. Pemuda bangkit melaju dalam zona informasi mencoba meraba praktik literasi. (Komunitas Pecinta Literasi Jogja)