Partai Politik Gagal Memberikan Pendidikan Politik
Cari Berita

Partai Politik Gagal Memberikan Pendidikan Politik

30 October 2017

Partai politik sekarang gagal dalam memberikan pendidikan politik nilai dan membumikan demokrasi substansial (Foto: Dok. Pribadi)
Watak warisan orde baru yang militeristik, diktator dan primordial sampai era reformasi sekarang ini memanglah berganti wajah tetapi tidak dengan sistem pemerintahan kita. Demokrasi yang dijalankan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar di dunia sama sekali tidak menghilangkan gugup dan gagapnya penguasa dalam menanggapi persoalan kemanusiaan, malah keblinger termehek-mehek dengan segala tetek-bengeknya membungkam suara minoritas yang ingin mengungkap sejarah kelam masa lalu.

Partai politik sekarang gagal dalam memberikan pendidikan politik nilai dan membumikan demokrasi substansial. Pendidikan politik yang diberikan justru kian meneguhkan anggapan bahwa politik itu kotor dengan manuver politik yang selama ini dilakukan politisi partai.

Pendidikan politik oleh parpol akhirnya tak lebih dari pembodohan masyarakat yang mengatasnamakan rakyat, bangsa, negara demokrasi untuk melegitimasi langkah politis mereka dalam meraih kekuasaan pemerintahan.

Di Indonesia fungsi-fungsi parpol diatur dalam Undang-Undang (UU) nomor 31 tahun 2002 tentang partai politik. Secara gamblang UU itu mengatakan, parpol memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat; perekat persatuan dan kesatuan bangsa; penyerap, penghimpun dan penyalur  aspirasi masyarakat; partisipasi politik warga negara; dan rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan publik.

Sudah menjadi rahasia umum, kehadiran parpol benar-benar terasa hanya pada saat-saat menjelang pemilu. Pada masa-masa itu parpol menjadi begitu populer di kalangan masyarakat  sehingga mereka tampil  seolah-olah ingin menjadi juru selamat dunia akhirat bagi masyarakat yang tertindas. 

Begitu pemilu selesai, bulan madu parpol-rakyat pun usai. Parpol menarik diri, lalu sibuk menyuarakan kepentingan intern partai atau kelompok elite partai. Partai tiba-tiba asing lantaran aktivitas dan isu-isu politiknya tidak menyentuh kepentingan masyarakat.

Partai menjadi lupa akan fungsi yang sebenarnya, fungsi pendidikan politik parpol belum menunjukkan hasil yang signifikan bagi peningkatan kesadaran politik masyarakat. Justru partai politik menuai kritik. Karena parpol cenderung mengutamakan kepentingan kekuasaan atau kepentingan para elite parpol ketimbang kepentingan untuk memajukan masyarakat, bangsa dan negara.

Ironisnya, pendidikan politik yang kerap dikumandangkan para elite parpol hanya sebuah slogan tak bermakna. Kondisi ini menuntut setiap partai politik untuk mengoreksi sejauhmana orientasi dan implementasi visi dan misi parpol secara konsisten  dan terus-menerus.

Seyogianya kiprah partai politik di Indonesia bisa menampilkan diri sebagai agen pencerahan. Sebab partai politik mengemban peran dan fungsinya yang kalau saja dijalankan secara konsisten akan membawa perubahan pada peningkatan kesadaran politik masyarakat. Tetapi pada kenyataannya partai politik hanya memberikan pendidikan politik untuk mereka yang menjadi generasi partainya saja, tanpa mempedulikan fungsi yang sebenarnya, yaitu memberikan pencerahan politik terhadap masyarakat.

Gambaran semacam ini memberikan kita ruang kritis mengkritisi dan keharusan yang mendesak dalam membangun partai alternatif yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat, bukan malah menamakan diri partai alternatif tapi menjalankan program kerja borjuis yang jauh dari kepentingan rakyat.

Sampai saat ini belum ada partai yang betul-betul mewakili suara rakyat  atau memperjuangkan hak rakyat yang terdaftar dan lolos ikut pemilu.

Oleh: Herbert Saputra Kandang