NEGARA TANPA PEMUDA

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

NEGARA TANPA PEMUDA

19 October 2017

Secara eksplisit memang perjuangan Pemuda terhenti setelah indonesia merdeka, tetapi secara implisit era baru ini justru memberikan tugas yang lebih sulit bagi Pemuda Indonesia, yaitu selain menjaga keutuhan NKRI juga sebagai ujung tombak yang memperjuangkan nasib rakyat Indonesia. (Foto: Dok. Pribadi)
Apalah artinya pemuda, ketika sangsaka telah berkibar?
Apalah artinya pemuda, jika  suaranya tak terdengar?
Apalah arti pemuda, jika tak di berikan mimbar?

Ungkapan diatas memiliki maknanya masing-masing sesuai dengan alhasil dari implementasi nyata yang dapat di lihat dari dobrakan-dobrakan para pemuda Indonesia di tiap zaman.
Apalah artinya pemuda, ketika sangsaka telah berkibarTidak bisa di pungkiri bahwa Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah sumpah yang kedua yang pernah terdengar dan ditulis dalam lembaran sejarah Indonesia yang memiliki tujuan sama yaitu mempersatukan NKRI setelah sebelumnya sumpah Palapa yang di ikrarkan oleh Gajah Mada di zaman kerajaan Majah Pahit yang menjadikan kerajaan Majah Pahit sebagai kerajaan Maritim.
Begitupun sumpah pemuda tahun 1928 yang tujuanya memberikan semangat  bagi para pemuda dan pemudi Indonesia untuk berjuang bersatu menjaga keutuhan republik Indonesia dari obrakan para penjajah, dan bukti nyata dari perjuangan ini,  pada 17 Agustus 1945 negara Indonesia Merdeka dari para penjajah dan sangsaka Merah Putih berkibar di tiap pelosok Nusantara.
Secara eksplisit memang perjuangan Pemuda terhenti setelah indonesia merdeka, tetapi secara implisit era baru ini justru memberikan tugas yang lebih sulit bagi Pemuda Indonesia, yaitu selain menjaga keutuhan NKRI juga sebagai ujung tombak yang memperjuangkan nasib rakyat Indonesia.

Apalah artinya pemuda jika  suaranya tak terdengar?“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tetapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri” (Ir. Soekarno)
Inilah yang terjadi setelah indonesia Merdeka yaitu melawan saudara sendiri, Saudara sendiri yang menduduki kursi kekuasaan, serta memberi berbagai kebijakan dan aturan bagi lapisan masyarakat Indonesia. Dalam memerangi saudara sendiri ini, peran pemuda sangat penting dalam hal mengawasi kebijaka-kebijakan yang dibuat, serta bersatu melawan kebijakan-kebijakan yang tidak adil bagi rakyat Indonesia.
Alhasil dari peran pemuada di zaman itu, dapat kita lihat dalam kisah kelam tragedi Trisakti Mei 1998. Runtuhnya Orde Baru adalah salah satu bukti nyata keberhasilan pemuda Indonesia di era 90an dalam tugasnya menjaga kesatuan NKRI serta sebagai sosok yang memperjuangkan Nasib Bangsa dari kebijakan Saudara Sendiri.
Tidak bisa di pungkiri, bahwa sebagian besar Pemuda yang dulu berkrumun dalam barisan Mei 1998 itu, kini menduduki mimbar kekuasaan Negri Kita.

Apalah arti pemuda jika tak diberi mimbar
 
‘Ketika kecerdasan tidak laku, yang diutamakan adalah isi saku, maka sangat tidak mudah begi pemunda untuk menjadi pelaku”
Mimbar kekuasaan semua diisi oleh elit-elit  politik yang sebagian besar berambut uban dengan sapaan Tuan, para pemuda hanya sebagi saksi sambil bersorak memberi dukungan. Ini adalah tontonan yang lumrah yang kerap kali kita tonton dalam acar di televisi, sungguh memalukan yang secara tidak sadar para elit politik mengejek para kaum muda, seolah pemuda sangat tidak dianggap dizaman sekarang, tidak pantas untuk bersaing di dunia politik. Ataukah ini cara mreka agar tidak ada lagi pemuda yang yang seperti mereka? Yang merobohkan Orde Baru, lalau mereka kuasai mimbar?
Semua sadar bahwa negara Indonesia kerap kali dikenal oleh dunia luar karena prestasi para pemuda yang mapu bersaing di dunia internasional, tetapi dalam negeri mereka tidak dipandang sebagi pejuang,  tetapi kuda yang di tumpang elit politik yang banyak uang demi mendulang suara saat terompet pemilu berkumandang.
Dimana lagi mimbar yang pemuda tempati? ketika seluruh mimbar terisi dengan politik uang, surat kabar di penuhi iklan partai politik, media sosial milik partai politik, maka tak heran saya katakan pemuda hanyalah kuda dari mereka yang beruban. Di dunia teknologi modern ini hampir semua pelakunya adalah kaum muda, tetapi mereka di jadikan kuda dari elit politik. Bahkan ketika pemuda membantah tulisan ini salah satu faktor didalamnya adalah kepentingan politik, dan malu untuk menelanjangkan diri.
“Tubuh terkunci dalam ruang, Mulut dibungkam dengan uang, Hingga nafas sesak, dipenuhi dahak”
Oleh: Plafianto Jonokaro Himpi