Merefleksi Soe Hok Gie dalam Puisi Mandalawangi-Pangrango

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Merefleksi Soe Hok Gie dalam Puisi Mandalawangi-Pangrango

26 October 2017

Sistem demokrasi di Indonesia yang datang silih berganti tenyata belum mampu membawa Indonesia ke situasi yang diidam-idamkan. (Gambar: Istimewa)
Soe Hok Gie 
Pria pecandu alam, yang kematiannya terkubur kaku di alam bebas. Pria yang selalu gaduh terhadap rezim yang bebal yang suka condongkan senjata di mulut rakyat yang lapar di atas tumpukkan sampah para koruptor dan segala pelacuran kepada keadilan. Namun tidak sekadar itu. 

Ketika Jakarta menjadi anyir oleh catatan yang disusun golongan yang menang dalam pergumulan politik, perebutan kekuasaan, baik secara berdarah ataupun tidak. Soe Hok Gie menentang segala kebebalan rezim itu dari dalam jubah mahasiswanya dan berusaha untuk terus menghidupkan independensi mahasiswa. Gie menentang tokoh-tokoh mahasiswa (dikenal dengan Angkatan '66) masuk ke dalam pemerintahan. 

Visi Gie pada saat itu adalah mahasiswa baru menjadi pelopor gerakan moral. Bagi Gie Mahasiswa adalah pengemban amanat penderitaan rakyat tanpa harus berselingkuh dengan pemerintah apalagi rezim yang mencoba meninabobokan pergerakan mahasiswa.

Impian Gie untuk membangun Indonesia lebih adil, makmur, sejahtera, masih sangat relevan untuk saat ini karena masih larut dalam mimpi. Sedangkan dari cita-cita Gie hingga saat ini bangsa kita belum menikmati keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Sistem demokrasi di Indonesia yang datang silih berganti tenyata belum mampu membawa Indonesia ke situasi yang diidam-idamkan.

Berangkat dari pemikiran Gie dalam menegakkan sikap dan independensi mahasiswa tersebut kini kita harus kembali menawarkan ruang gerak mahasiswa yang waras akan kondisi kekinian. Pada kondisi kekinian kita boleh menjadi teman pemerintah namun bukan tunduk di bawah selangkangan pemerintah. 

Jika pada konteks hari ini mahasiswa beramai-ramai menduduki lembah Mandalawangi dalam asupan gizi yang diberikan oleh rezim entah menambah album dan perpaduan suara persatuan dan persaudaraan pemuda dalam rahim NKRI, di samping membangun pola pikir dan daya saing tentang kewirausahaan pada era sekarang lalu melebur dengan pola yang ditawarkan rezim, dan kita kuburkan keburukan skenario pemerintah tentang penderitaan rakyat di lembah Mandalawangi?

Hal demikian sudah disuguhi Gie dalam puluhan tahun tentang bersahabat dengan alam. Tatapi Gie bukan digerakkan oleh rezim. Ia tahu betul bagaimana cara pemuda belajar dengan alam tanpa harus mengantongi sepeserpun pemberian dari pemerintah hanya untuk menduduki lembah Mandalawangi. Gie mendekati diri kepada alam adalah untuk merefleksikan realitas yang dihadapinya atas pelacuran politik dan politisi yang buta nurani.

Gunung dan lembah yang dingin bagi Gie adalah dunia yang sesungguhnya. Darinya ia belajar kebajikan, dari lembah dan puncak yang dingin Gie belajar melihat ke bawah, ke dasar nurani rakyat. kota-kota yang menjadi ruang pertumbuhan gedung-gedung dan merenggut hijaunya alam. Gie mendekatkan diri pada alam adalah untuk tidak melacurkan kemanusiaan.

Kecintaan Gie pada alam sama halnya cinta kepada kemanusiaan. Cinta kepada tugasnya sebagai pengemban amanat rakyat, kebebasan tanpa terkungkung dalam pola pemerintahan, dan berani mengatakan yang salah.

Mandalawangi-Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun
ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali ke dalam rimbaanmu, ke dalam sepimikiran
dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara
tentang manfaat dan guna
aku berbicara kepadamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau ke dalam keberadanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan
menyelimuti Mandalawangi
kau datang kembali
dan berbicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya,
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah"

dan antara ransel-ransel kosong
dan api unggun yang membara
aku terima itu semua
melampaui batas-batas hutanmu
melampaui batas-batas jurangmu
aku cinta padamu pangrango 
karena aku cinta pada keberanian hidup

Soe Hok Gie
19/7/1966.

Sembari menikmati dingin dan tanda tanya tentang kemanusiaan mari kita merenung.
Salam dari bawah lembah Mandalawangi.

Oleh: Yogen Sogen