Menonaktifkan Kebertubuhan dalam Teknologi

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Menonaktifkan Kebertubuhan dalam Teknologi

24 October 2017

Dalam perkembangan selanjutnya teknologi menjadi salah-satu masalah krusial peradaban manusia. Di mana, manusia tidak lagi menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif. Manusia bertendensi mengurungkan teknologi dalam makna ketidakbertubuhan (Gambar: Istimewa)
The world is flat, (Thomas L. Friedman).
Berbagai aktus telah melekat dalam tubuh teknologi dan penilaian etis terhadap eksistensi teknologi pun menjadi ambivalen. Kenyataan ini, menjadi babak baru yang muncul ketika wajah teknologi dibumerangi oleh banyak kepentingan dalam melegalkan berita hoaks, ciutan kebencian atas nama agama, dan permainan politik untuk menjatuhkan lawan politik. Semua orang yang masuk dalam percaturan ini, mengidentifikasikan diri dalam sifat anonim. 

Tulisan ini hanya mengulas salah satu kekurangan(privatio) dalam tubuh teknologi yaitu tentang makna kebertubuhan dan penulis tidak bermaksud menghilangkan nilai positif dalam tubuh teknologi..

Kehilangan makna kebertubuhan dalam teknologi
Sejarah eksistensi teknologi pada mulanya digunakan dalam komunitas tertentu, yaitu untuk kalangan militer Amerika Serikat. Teknologi itu dibuat dalam satu jaringan yaitu dinamakan dengan ARPANET. Tujuannnya untuk menjaga keamanan dan kestabilan negara dalam mengatasi perang dingin yang terjadi pada saat itu, serta menangkap area yang rawan terkena nuklir. Namun seiring perubahan zaman, teknologi tidak hanya digunakan untuk kalangan militer saja, tetapi merambah sebagai sumber informasi dan komunikasi. 

Dalam perkembangan selanjutnya teknologi menjadi salah-satu masalah krusial peradaban manusia. Di mana, manusia tidak lagi menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif. Manusia bertendensi mengurungkan teknologi dalam makna ketidakbertubuhan. Hal inilah yang menjadi satu kekurangan besar dalam tubuh teknologi. Walaupun, teknologi memberikan kemudahan bagi peradapan manusia, di mana manusia mampu mengakses segala sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini dengan menggunakan internet. 

Melalui internet, manusia sanggup berkomunikasi satu sama lain tanpa berjumpa secara fisik. Dengan kata lain bahwa, kehadiran internet merupakan sebuah peristiwa yang efeknya nyata tapi tidak nyata sebagai fakta. Artinya suatu objek tertentu hadir secara nyata tetapi faktanya masih menjadi dipertimbangkan, karena objeknya secara kenyataan hadir tetapi kehadirannya melalui media.  

Senada dengan konsep tubuh dalam filsafat Dreyfus bahwa hal yang hilang dalam kehadiran jarak jauh (Dunia Maya) ialah cengkeraman optimal terhadap dunia, di mana penguasaan menubuh tidak terealisasi.  Oleh Karena itu, Dreyfus mengomentari bahwa teknologi sebagai Teleprence sekaligus juga Teleabsence, kehadiran tapi sekaligus ketidakhadiran.  

Kenyataan ini menunjukkan bahwa media teknologi tidak  bisa mewakili kehadiran manusia secara fakta, teknologi hanya membantu manusia untuk hadir dalam media, bukan hadir dalam realitas sesungguhnya, yaitu antara subjek dan objek hadir dalam ruang dan waktu yang sama.  Teknologi tidak bisa merasakan situasi mood seseorang, ketika ada satu masalah tertentu yang terjadi dalam diri seseorang. Padahal, unsur yang paling penting dalam membangun suatu kepercayaan diri seseorang, apabila kedua pihak hadir dalam ruang dan waktu yang sama, kini dan di sini (Hic et Nunc)  bukan hanya hadir dalam  dunia maya tetapi harus hadir dalam realitas sesungguhnya tanpa diperantarai oleh media teknologi.   

Oleh karena itu, penulis mencoba memberikan pandangan konstruktif bahwa, pertama ruang teknologi tidak bisa mewakili secara mutlak kehadiran seseorang, teknologi hanya sebuah wadah untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi. Kedua, perlunya kehadiran dalam ruang dan waktu yang sama agar bisa membangun suatu kepercayaan diri, karena dalam tubuh teknologi antara subjek dan objek tidak hadir dalam ruang yang sama. Ketiga, dengan kehadiran secara fakta antara subjek dan objek bisa merasakan situasi tertentu. Dengan demikian, penilaian terhadap teknologi tidak secara mutlak bernilai positif, namun dalam tubuhnya masih ada  kekurangan (privatio) yang perlu dirasakan oleh semua pengguna teknologi.  

Oleh:  Agustinus Gunadin 
Pegiat Kata di Pondok San Camillo