Mengapa Gerakan Literasi Sekolah Itu Penting?
Cari Berita

Mengapa Gerakan Literasi Sekolah Itu Penting?

30 October 2017

Sebuah gerakan nasional bisa mencapai hasil yang bagus apabila dilaksanakan secara bersama-sama bukan perseorangan (Foto: Dok. Pribadi)
Gerakan literasi adalah program unggulan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan akhir-akhir ini. Program ini dijalankan melalui Direktorat Jendral Bina Bahasa yang diimplementasikan dalam kurikulum 2013 di sekolah. Program literasi sekolah diperkuat dengan gerakan penumbuhan budi pekerti sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satunya dengan kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjadikan peserta didik mempunyai kebiasaan membaca dan terampil membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.

Apa sebenarnya gerakan literasi itu? Literasi mungkin telah menjadi istilah yang populer bagi banyak orang. Namun tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Sebab Literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang. 

Berangkat dari sini, maka perlu kiranya diuraikan apa sebenarnya makna dari Istilah Literasi itu. Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin 'literature' dan bahasa inggris 'letter'. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf atau aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya "Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).

Sementara itu, National Institute for Literacy mendefinisikan Literasi sebagai "Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. 

Di lain sisi, Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimilikidalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Ilham dari hadirnya gerakan membaca dari pemerintah Indonesia melalui kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) tentu bukan karena kecendurungan bahwa mengganti rezim pemerintahan maka akan mengganti program, akan tetapi lahir dari kenyataan bahwa minat baca dari masyarakat Indonesia secara umum masih rendah tak terkecuali para pelajar mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. 

Membaca seharusnya menjadi kebutuhan hakiki dari setiap kaum terpelajar sebagai generasi penerus bangsa. Minat baca yang rendah dari masyarakat Indonesia ditandai dengan peringkat yang selalu mengekor dari urutan-urutan negara lain di dunia. Fakta inilah yang menjadi pijakan dari KEMENDIKBUD untuk menghidupkan gerakan membaca.

Secara kultural masyarakat kita belum mempunyai budaya literasi yang tinggi, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti.Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

PENTINGNYA LITERASI
Sekolah memiliki peranan yang mendasar dalam gerakan literasi secara nasional. Hal ini dikarenakan sekolah sebagai komunitas intelektual yang melibatkan beberapa unsur seperti peserta didik, guru, dan orang tua murid. Sebuah gerakan nasional bisa mencapai hasil yang bagus apabila dilaksanakan secara bersama-sama bukan perseorangan.

Kedua, sekolah dimaknai sebagai sebuah proses untuk perubahan melalui belajar. Oleh karena itu literasi adalah kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap peserta didik untuk menunjang proses perubahan. Sekolah merupakan ujung tombak dari terselenggaranya gerakan literasi karena siswa menjadi pembaca aktif.

Masa depan Indonesia ada ditangan generasi muda yang didominasi oleh pelajar. Oleh karena itu pelajar menjadi motor penggerak literasi di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan sebauh bangsa sangat bergantung pada seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh warganya dan Kepemilikan pengetahuan itu bisa terjadi melalui literasi. Oleh karena itu, membaca memiliki beberapa manfaat.

Pertama, membaca bisa digambarkan sebagai jembatan yang menghubungkan anda ke masa lalu menuju masa depan. Kehidupan manusia pada hakekatnya adalah sebuah referensi termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dengan membaca kita sebenarnya sedang berpetualang kemasa lalu.

Kedua, Membaca adalah proses mental untuk menggali informasi dan ilmu pengetahuan dalam bentuk apa saja. Memiliki banyak informasi dan ilmu pengetahuan akan membantu kita untuk menguasai bidang kehidupan ini. Kita tidak akan tertinggal oleh kemajuan teknologi dengan segudang ilmu pengetahuan yang telah kita peroleh.Ketiga, dengan membaca maka kita akan bisa menulis. Menulis adalah ketrampilan berbahasa manusia yang paling tinggi  sehingga tidak semua orang memiliki kecakapan ini. Tulisan sebenarnya merupakan uangkapan rasa atau pikiran dalam bentuk teks. Pikiran-pikiran yang kita tuangkan itu merupakan muara dari pengetahuan yang kita peroleh melalui kegiatan membaca.

Sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa kita juga tidak terlepas dari peranan literasi dari para pendiri bangsa kita. Bapak proklamator kita Sokarno dikenal dengan julukan orator hebat bahkan disegani oleh dunia. Ide cemerlangnya bukan semata-mata lahir dari rahim pemikirannya melainkan melalui rangkain pergumulan bersama gagasan-gagasan dari parah tokoh dunia melalui buku-buku yang dibacanya.

Konteks ini seolah menegaskan kembali fakta bahwa membaca mempunyai peran yang sangat penting untuk menghasilkan pemikiran baru sehingga bagsa kita saat itu keluar dari belenggu penjajahan. Disaat yang sama juga, bagi Soekarno menulis merupakan senjata ampuh untuk meneriakan kemerdekaan dikala mereka disekap dan dikurung oleh penjajah. Inilah yang menggambarkan manfaat literasi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Bertolak dari pentingnya membaca maka sekolah harus menjadi wadah dari gerakan literasi. Namin AB Ibnu Solihin, seorang motivator bidang pendidikan memaparkan kiat-kiat agar gerakan literasi sekolah bisa berjalan dengan efektif yang penulis kutip dari motivator pendidikan.com. Kiat-kiat itu seperti diskusi hasil buku, membaca senyap 15 menit setiap hari, perpustakaan kelas, pengadaan buku bacaan berkualitas, kunjungan ke pameran buku, kunjungan ke perpustakaan daerah, kunjungan ke penerbitan buku terdekat, program Tantangan membaca buku, lomba menulis dan penerbitan buku, dan yang terakhir reading award.

Memang sedikit sulit jika kesepuluh kiat itu diterapkan disekolah karena terkendala kondisi seperti yang berada di pedalaman. Akan tetapi dengan sedikit konsistensi untuk melakukan sebagian yang kita bisa maka niscaya generasi bangsa Indonesia tidak hanya memperbaiki urutan rekor minat baca yang jelek melainkan melahirkan generasi emas sebagai andalan bangsa diera globalisasi ini.

Marilah kita mengikuti inspirasi akan pentingnya membaca yang dilontarkan oleh Rolla Tyias Amalia dalam opini “Membangun Kebiasaan Membaca” yang ditulis oleh  Mulia Donan (Florespost.com, 24 September 2017) bahwa budaya membaca lebih penting dari pada sekolah dalam tujuan mencapai kesuksesan. Suka membaca tanpa bersekolah masih memiliki peluang dalam mencapai kesuksesan, karena membaca membuat pola pikir kita luas dan tajam, meningkatkan kreativitas kita dalam bekerja dan bisa menciptakan lapangan kerja guna mencapai kesuksesan. Sedangkan tidak suka membaca tapi bersekolah, maka peluang untuk mencapai kesuksesan akan lebih kecil.

Penulis : Maksimilianus Galawanto
Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 6 Kota Komba