Menangkal Pesan Kebencian Jelang Pilkada dan Pemilu

Penggolongan pesan kebencian sebagai salah satu bentuk diskursus yang tidak sopan, bahkan tidak etis itu menyebabkannya dilakukan secara tersembunyi (Foto: Dok. Pribadi)
Beberapa waktu lalu (4/10) media ini sudah berupaya melakukan edukasi publik dengan menampilkan beberapa tahapan Pilkada serentak untuk seyogyanya dapat dipakai sebagai pedoman keterlibatan masyarakat dalam menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan atas tindak tunduk pra-pesta demokrasi kita tahun depan.

Berbicara demokrasi yang diwujudnyatakan dalam praktek pemilu dan pilkada bukan hanya soal integritas dan kenikmatan janji kampanye dalam kemasan visi misi para paslon yang terlibat sebagai petarung, tetapi juga soal bagaimana kekuasaan dan uang itu dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mendapat kesempatan menduduki kursi panas kepemimpinan.

Berbagai cara akan dilakukan, termasuk hal-hal yang merugikan orang lain sekalipun. Dalam tulisan ini saya hanya menyoroti soal bagaimana pesan kebencian (hate speech) yang amoral masih marak dilakukan oleh sekelompok orang untuk tujuannya pribadi, kelompok dan golongan. Sejauh ini memang belum terlalu nampak, tetapi bisa kita baca dalam kitab sejarah pemilu dan pilkada sebelumnya.

Apa itu pesan kebencian?
Menurut Rita Kirk Whillock dalam esainya yang berjudul "Ethical Considerations of Civil Discourse: The Implications of the Rise of Hate-Speech" (dalam Denton, ed., 2000) mengatakan bahwa pesan kebencian pada hakikatnya adalah "anihilasi retoris" terhadap lawan. 

Artinya, meskipun hanya melalui kata-kata, pesan kebencian itu bertujuan meniadakan atau mematikan lawan. Akibatnya, dialog atau diskursus menjadi macet. Tak ada kesediaan untuk menghargai dan mendengarkan lawab bicara. Tak ada kesediaan untuk terbuka, untuk belajar, dan berubah.

Hal ini dalam bahasa Erich Fromm, pesan kebencian memanifestasikan necrophily atau "kecendrungan terhadap orang mati", karena sejatinya mematikan lawan dan sekaligus mematikan diri sendiri. Mematikan lawan, karena tak menghargai dan tak mendengarkan lawan bicara. Mematikan diri sendiri, karena membuat diri sendiri tertutup, tak berubah dan tak berproses (Alois A. Nugroho, Kanisius: 2016). 

Internet menjadi pilihan
Penggolongan pesan kebencian sebagai salah satu bentuk diskursus yang tidak sopan, bahkan tidak etis maka pesan seperti itu dilakukan secara tersembunyi. Whillock menganggap internet sebagai media yang paling cocok untuk menyebarkan pesan kebencian sehingga disebut "functioning anarchy".

Selain itu dilihat dari biaya, internet merupakan media paling murah dibandingkan media konvensional lainnya (koran dan televisi). Apalagi dengan perkembangan media sosial yang tak terbendung mengakibatkan pesan kebencian semacam ini akan menembus sekat-sekat geografis dengan biaya yang efisien.

Ada setidaknya alasan mengapa internet begitu potensial memproduksi pesan kebencian. Pertama, biayanya relatif murah. Kedua, internet merupakan media yang relatif lebih terdesentralisasi. Ketiga, anonimitas dalam internet relatif lebih terjamin.

Bagaimana kita bersikap?
Pendapat soal lemahnya kemampuan literasi sebagai alasan mengapa pesan kebencian itu lebih cepat membumi sebenarnya tidak selalu benar. Dalam memahami ciri-ciri kampanye berisi pesan kebencian melalui dunia maya atau internet itu tidak terlalu sulit, bahkan cenderung lebih mudah. Ciri-ciri tersebut antara lain:

Pertama, dibandingkan kampanye positif (yang berpusat pada diri sendiri), kampanye negatif lebih banyak mengandung informasi yang menyesatkan, menyimpan atau sekurang-kurangnya tidak lengkap.

Kedua, kampanye negatif sering melibatkan komunikator yang tidak mudah diketahui publik, yang menyembunyikan diri, atau biasa kita sebut "lempar batu sembunyi tangan".

Ketiga, kampanye negatif cenderung meningkatkan sinisme dan menurunkan partisi publik dalam berdemokrasi.
Setelah memahami ciri kampanye negatif bermuatan pesan kebencian, langkah apa semestinya yang harus kita lakukan untuk menunjang keterlibatan kita seperti tertulis diawali tulisan ini? Tidak lain adalah dengan meningkatkan kecerdasan kritis kita melalui cara-cara berikut:

Pertama, kampanye negatif yang rasional itu cenderung mendasarkan diri pada alasan-alasan yang nalar. Sementara kampanye negatif yang tidak rasional itu mendasarkan diri pada alasan-alasan yang tidak punya relevansi logis, yang lebih melihat figur kandidat, bukan ide-ide dan kebijakan-kebijakannya.

Kedua, Perlu dibedakan antara kampanye negatif yang berbicara tentang kegagalan ide-ide dan kebijakan-kebijakan lawan sebagai policy maker dengan kampanye negatif yang menyerang hal-hal remeh dalam kehidupan pribadi lawan.

Sehingga perlu dibedakan kampanye negatif yang menyangkut ide, kebijakan, dan agenda dengan kampanye negatif yang semata-mata berbicara tentang image atau citra. Bila hanya citra yang dipersoalkan, maka politik sebagai uoaya menciptakan kebaikan publik memang telah kita turunkan derajatnya menjadi sekedar hiburan semata (ibid.)

Oleh: Andi Andur
Anggota PMKRI Cab. Surabaya-Sanctus Lucas

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Menangkal Pesan Kebencian Jelang Pilkada dan Pemilu
Menangkal Pesan Kebencian Jelang Pilkada dan Pemilu
https://1.bp.blogspot.com/-QQDp8kTn2GY/WdadtNd7wrI/AAAAAAAABiw/Mfg1i2Wp4j8-0zlqmzL0BiffMbygH_J0QCLcBGAs/s320/Andi%2BAndur%2BMarjin%2BNews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-QQDp8kTn2GY/WdadtNd7wrI/AAAAAAAABiw/Mfg1i2Wp4j8-0zlqmzL0BiffMbygH_J0QCLcBGAs/s72-c/Andi%2BAndur%2BMarjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/menangkal-pesan-kebencian-masa-kampanye.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/menangkal-pesan-kebencian-masa-kampanye.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy