Makna Simbolik Belis Manggarai (Tanggapan atas Opini Tini Parsin)

Bruidschat atau mas kawin adalah sejumlah harta yang oleh pihak lelaki diberikan kepada kaum kerabat gadis dengan tujuan untuk memuaskan hati mereka dan meredamkan rasa dendam, karena salah seorang gadis di antara mereka dilarikan atau bruidchaking (melarikan anak gadis). (Foto: Indah Jemidin/floresa.co)
Dalam kata awal opininya saudari Tini Parsin mengatakan bahwa: ketika membicarakan atau membincangkan hal-hal yang berbau sensitif selalu saja timbul gejolak dalam hati yang tentunya memunculkan banyak pertanyaan, kecaman hingga kebingungan. Gejolak yang serupa juga membuat benak saya selaku kaum adam Manggarai menjadi kian menggelitik. Perasaan demikian jelas muncul sebab hal sensitif yang diperbincangkan itu bukan soal basa-basi kehidupan real seseorang atau sekelompok orang yang tidak mempunyai latar belakang yang jelas melainkan menyangkut pribadi manusia yang telah terbungkus dalam payung teduh kebudayaan sebagai simbol citra dan jati diri. Baiklah mari kita ikuti alur pembicaraan yang disharingkan oleh saudari dalam opininya tersebut. Perlu diketahui bahwa kehadiran saya lewat tulisan ini bukan dari sisi pro atau kontra melainkan saya mencoba menyumbangkan satu dua pikiran sebagai bahan diskusi lebih lanjut.

Belis atau mas kawin sebagaimana yang ditayangkan dalam pembicaraan kita saat ini merupakan sebuah fenomena aktual dan faktual diperbincangkan oleh sebagian besar manusia yang bernaung dalam rumah kebudayaan yang mana di dalamnya terkandung warna dan filosofi adat-istiadatnya masing-masing. Belis Manggarai dalam khazanah pembicaraan kita adalah sebuah problem yang mesti dituntaskan seiring dengan berjalannya waktu. Sampai di sini kita mesti akui bahwa kebudayaan tak pernah statis dalam alunan sang waktu melainkan ia dinamis dan mengalami progres in se seiring waktu melahirkan banyak peradaban baru. Singkatnya bahwa waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya (tempora mutantur et mutamur illis).  

Oleh karena itu, untuk menyikapi atau menerima tawaran perkembangan yang terjadi kita mesti melihat kembali substansi dari belis itu sendiri. G. Wilken seorang atropolog (1847-1891) dalam tulisan-tulisannya pernah memuat tentang belis sebagai survival dari masa peralihan antara masyarakat yang matriarkat ke yang patriarkat. Perlu diketahui bahwa G. A. Wilken adalah penganut pandangan yang mengatakan bahwa dalam sejarah perkembangan masyarakat manusia telah terjadi evolusi, yakni perubahan dari tingkat promiskuitas, dari matriarkat ke patriarkat dan parental sebagai tingkat tertinggi. Dalam pandangannya ini beliau mencamkan bahwa istilah patriarkat, matriarkat sudah ditinggalkan, dan lebih banyak menggunakan istilah patrilineal dan matrilineal. 

Bruidschat atau mas kawin adalah sejumlah harta yang oleh pihak lelaki diberikan kepada kaum kerabat gadis dengan tujuan untuk memuaskan hati mereka dan meredamkan rasa dendam, karena salah seorang gadis di antara mereka dilarikan atau bruidchaking (melarikan anak gadis). Jika tidak demikian, setiap lelaki yang hendak menjadikan seorang gadis sebagai calon isterinya harus mendatangi dan berdiam di rumah keluarga gadis itu. Kenyataan ini tentu tidak disenangi dan menjengkelkan sehingga dirasa perlu untuk melarikannya ke rumah lelaki. Atas dasar pertimbangan ini,  Wilken berpendapat bahwa maskawin adalah suatu zoengave atau silih dan bukan suatu leoopprijs atau harga pembelian (Dr. Hans J. Daeng: 2008). 

Setelah mengikuti jalan pikiran Wilken tersebut dapat dikemukakan bahwa maskawin itu adalah keseluruhan prosedur penyerahan barang yang oleh adat telah ditentukan sesuai dengan lapisan dan kedudukan sosial masing-masing sebelum seorang pria secara resmi mengambil seorang gadis sebagai isterinya. Namun, pandangan spekulatif Wilken tidak sepenuhnya diterima, karena di balik maskawin itu masih tersimpan sejumlah nilai lainnya. Nilai-nilai itu mencakup keseluruhan moral dan etika kebudayaan masyarakat yang menggambarkan jati diri pria dan wanita di dalamnya.

Entitas nilai yang paling tinggi di balik upacara pemberian maskawin di Manggarai adalah untuk menghadirkan kembali perkawinan yang sakral sebagaimana yang diwariskan sejak dahulu. Nilai ini dapat disajikan melalui filosofi besarnya maskawin atau belis bukan atas dasar berapa banyak yang diinginkan tetapi atas dasar pertimbangan nilai-nilai simboliknya. Misalnya dalam tata upacara adat perkawinan kita di Manggarai ada simbol khusus yang selalu digunakan oleh para sesepuh adat yakni: angka 2, 5 dan 7. Angka-angka ini konon memiliki makna simbolik tersendiri. Angka 2 dipakai sebagai angka dasar untuk kerbau dan itu merupakan tanda keselarasan. 

Angka dasar untuk kuda adalah 5; bagi orang Manggarai, kuda adalah simbol rejeki dan manifestasi harapan terhadap hidup perkawinan itu. Angka 7 adalah simbol kesempurnaan tertinggi dan kegenapan. Hewan yang dijadikan bagian dari maskawin/belis bukanlah tanpa arti. Kerbau umumnya menjadi hewan kurban dan mempunyai nilai magis; kuda dilihat sebagai sumber rejeki, antara lain berupa keuntungan dalam hidup perkawinan, khususnya dalam jumlah anak yang dilahirkan. Babi umumnya disembelih pada upacara-upacara adat dan dihadiahkan sebagai balasan untuk maskawin yang diserahkan oleh pihak keluarga lelaki, dilihat pula sebagai lambang kesuburan (Dr. Hans J. Daeng: 2008; 6-7).

Namun seiring bergulirnya waktu, nilai-nilai simbolik yang termaktub melalui hewan kurban yang dipakai dalam tata upacara pemberian belis tersebut kebanyakan telah disubstitusikan dengan uang. Tentu esensinya menjadi berubah, sebab orang lebih banyak memikirkan nilai besar kecilnya uang bukan nilai magis yang terkadung dalam hewan kurban yang diberikan. Ini saya katakan sebagai bentuk kekeliruan awal dari tata upacara pemberian maskawin atau belis kita di Manggarai saat ini.

Kekeliruan yang berikutnya adalah pengaruh sistem kapitalisme pasar yang melahirkan gaya hidup yang materialistik mempengaruhi pandangan masyarakat terkait dengan makna belis Manggarai itu sendiri. Belis bukan lagi ditelisik secara sakral melainkan lebih mengarah pada kegiatan transaksional pasar. Pasalnya bahwa, harta benda yang digunakan dalam pemberian belis adalah barang-barang yang memiliki daya tawar tinggi dalam dunia perdagangan. Komoditi pasar seolah-olah menawarkan jasa keterlibatan mutlak kepada masyarakat sebab memang tuntutan ekonomi semakin terdesak.

Lalu kenyataan lain dalam tata adat pemberian belis kita di Manggarai saat ini adalah lebih didasarkan pada status dan kedudukan pria dan wanita dalam masyarakat. Hal ini pula yang dicemaskan oleh saudari Tini Parsin dalam opininya. Bahwa makin tinggi kedudukan sosial seorang gadis biasanya makin tinggi pula maskawin yang diminta. Namun perlu diketahui bahwa maskawin yang demikian dikumpul dari seluruh anggota keluarga, baik karena hubungan keturunan darah maupun karena hubungan kawin mawin, karena mereka yang berhak menerima bagian dari maskawin telah ditentukan melalui adat, dan jumlahnya pun banyak. Karena itu, maskawin yang terdiri dari beberapa macam diberikan secara bertahap pula. Barang bawaan dari pihak lelaki tidak diterima prodeo, tetapi harus diimbangi dengan harta pemberian balasan. Hadiah balasan biasanya berupa hasil karya wanita, seperti kain-kain tradisional tenunan sendiri, bahan pangan mentah maupun matang disertai dagin babi maupun babi hidup.

Terbayar lunas tidaknya maskawin turut berpengaruh terhadap pola tempat tinggal setelah kawin. Jika maskawin disepakati untuk tidak dilunaskan atau dibayar habis, pola tempat tinggal yang berlaku adalah auxorilokal (wajib diam di keluarga istri). Jika disepakati untuk membayar lunas  maka isteri diboyong ke rumah keluarga suami.

Oleh karena itu sampai di sini apabila kita masih temukan pengertian maskawin sebagai harga pembelian, itu dapat dikatakan sebagai akibat salah tafsir terhadap istilah lokal untuk maskawin itu atau belis itu sendiri. Konon orang mengira bahwa beli(s) itu berarti beli. Kekeliruan interpretasi itu dapat terjadi karena dalam kenyataan, maskawin adalah sejumlah barang yang diserahkan untuk memperoleh seorang gadis. Padahal artinya bukan demikian. Karena itu perlu kiranya ditegaskan bahwa maskawin bukanlah harga pembelian dengan beberapa alasan berikut:

Pertama, seandainya belis adalah harga pembelian seorang gadis, maka keluarga gadis tidak akan memberi hadiah untuk kelurga lelaki yang datang membawa maskawin. Hadiah balasan dari pihak gadis biasanya lebih dari yang diberikan pihak lelaki.

Kedua, besar kecilnya maskawin sudah digariskan sesuai dengan kedudukan sosial atau keturunan orang-orang yang berkawin. Jika terjadi tawar menawar tentang besarnya maskawin, sering itu diadakan sebagai suatu cara penolakkan yang halus. Dengan mengajukan maskawinan yang tinggi, orang seringkali hendak sekedar memberi kesan keluar bahwa anak gadis mereka bukan murahan dan  karena itu, jangan dianggap rendah.

Ketiga, dalam kenyataan pada banyak kelompok masyarakat adat di Manggarai pihak pemberi gadis biasanya dianggap lebih tinggi dan karena itu harus diperlakukan dengan hormat. Hormat bukan karena menganggap diri rendah melainkan betapa mulianya harkat gadis yang hendak dikawini itu.  Sekian!

Oleh: Konstantinus Aman
Alumni Asrama Putera Arnoldus Labuan Bajo 2013

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,110,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,145,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,538,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1032,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Makna Simbolik Belis Manggarai (Tanggapan atas Opini Tini Parsin)
Makna Simbolik Belis Manggarai (Tanggapan atas Opini Tini Parsin)
https://2.bp.blogspot.com/-yFgDp63IAV8/WeH0GCJBuiI/AAAAAAAABmE/t6jH7UMBdD8M9rf0jos9XjF1drS7AKxhACLcBGAs/s320/Indah%2BJemidin%2Bfloresa.co.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-yFgDp63IAV8/WeH0GCJBuiI/AAAAAAAABmE/t6jH7UMBdD8M9rf0jos9XjF1drS7AKxhACLcBGAs/s72-c/Indah%2BJemidin%2Bfloresa.co.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/makna-simbolik-belis-manggarai.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/makna-simbolik-belis-manggarai.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy