Lili: untuk Perempuan dalam Pelukan

Tuhan sang ksatria menyuguhkan cinta yang mulia namun harus melewati jalan yang menyakitkan  dan kadang kita pun tak sempat menikmati keindahan cinta. (Gambar: Istimewa)
Apalah arti memiliki ketika kita harus kehilangan orang yang lain dicintai, apalah arti sahabat ketika kita jatuh dalam kubangan lantas mereka tertawa. Bukankah itu hal yang paling anjing untuk sebongkah daging polos. Tuhan jika memang engkau tak bisa menyelesaikan masalahku, biarkan aku yang kotor ini menjaga kain putih itu agar tetap putih.

Dan aku pun kembali melihat hal-hal yang menyakitkan dalam hidupku, Tuhan dan iblis yang tak henti-hentinya berperang dalam hati dan aku atau mungkin kita berada di tengahnya. Kadang aku berpikir sebegitu mahalkah diri kita hingga para penguasa selalu bertarung hanya memperebutkan kita. Pernahkah kita sejenak meluangkan waktu, duduk di teras loteng, memandangi bintang yang jatuh dan bertanya siapakah yang paling kuat diantara para penguasa itu. Tak akan ada habisnya kata untuk menjelasakan rivalitas mereka yang kita ciptakan.

Dalam keheningan, aku pun menemukan sesuatu yang menyakitkan dari keduanya. Bukankah mereka selalu menggoda kita dengan hal yang tak pernah kita duga. Ya, mereka hanya menawarkan cinta namun dengan racikan yang berebeda. Tuhan sang ksatria menyuguhkan cinta yang mulia namun harus melewati jalan yang menyakitkan  dan kadang kita pun tak sempat menikmati keindahan cinta.

Dan musuhnya, setan sang panglima perang menawarakan cinta dengan racikan kemewahan, tak ada jalan berliku baginya, hanya ada kata indah dan kesenangan. Dan aku atau kita harus memilih salah satunya, memilih Tuhan atau setan.

Hal ini yang kualami beberapa masa silam, ketika aku tak sengaja mencari cinta melalui jalan Tuhan. Aku tahu dia tersenyum dengan pilihanku dan aku sangat yakin dengan jalan yang kupilih itu.

Dan pada perjalananku mencari cinta,  aku telah menemukan cinta itu pada seorang gadis lugu berwajah ayu. Namanya Isna, gadis itu sangat cantik, bahkan kecantikannya mampu membunuh diriku hanya dengan sekali senyum. Aku tak tahu seperti apa remuknya diriku ketika dia tawarkan seribu senyum yang teduh untukku.

Kami sering berpapasan setiap pagi ketika dengan kecantikanya berjalan dan menggendong keranjang yang berisi bekal untuk makan siangnya di kebun.  Dan itulah penampilan paling cantiknya yang pernah kulihat. Melihatnya seperti itu membuatku merasakan indahnya surga. Dialah gadis yang sering kuceritakan pada Tuhan ketika malam hari bersama bintang dan rembulan yang saling menunjuk kemesraan.

Pagi menggulung malam, malam menyembunyikan pagi, bintang pun perlahan jatun dan waktu terus berjalan. Cinta yang telah kutanam pada hati gadis itu telah tumbuh dan mekar dengan wangki khasnya. Aku yakin meski makan waktu tapi benih itu telah jatuh di tanah yang subur. Kadang aku marah pada senja yang membiarkan malam mengukulnya dan kami kembali harus berpisah menunggu esok.

Rindu itu kian hadir bersama cinta yang semakin menjadi-jadi. Rupanya Tuhan sudah mulai melakukan tugasnya, seperti syarat yang diberikan-Nya harus melewati semak belukar dan itulah yang kami rasakan. Cinta itu tumbuh bersama masalah-masalah yang tak tahu datangnya dari mana. Kadang hanya saat senja itu kami tak bisa berjalan bersama atau aku yang dengan kegelisahanku tak sempat membawa parang untuk menebas rumput di kebun. Inilah hal paling bodoh yang dilakukan oleh seorang petani sepertiku.

Tapi semua cerita itu sepertinya harus berakhir ketika lagi-lagi dia yang katanya memiliki rumah di balik awan kembali menguji kami. Aku marah, sangat marah padanya. Kali ini candaannya tak lagi lucu. Kisah yang kami rajut bersama harus terputus ketika dia gadis lugu nan ayu itu memutuskan hubungan kami.

Pergi dan berharap dia pergi sejauh mungkin tapi sayang dia hanya beranjak dari sisiku dan berada di dekatku.

Anjing, paling anjing yang pernah kualami. Bahkan aku yang tak pernah takut pada hewan buas harus takluk dengan senyumamnya. Saat itu, ketika aku duduk di sebuah pendopo depan rumah, ibuku menyuruhku untuk segera masuk. Katanya sangat penting. Tak seperti biasanya ibu seperti ini, aku hanya menurut dan semoga ini berita gembira yang ku dapat setelah harus bertarung melawan rumput yang kian bandel di kebun.

“Saya sengaja memanggil kalian, saya ingin agar semua urusan kakakmu segera selesai, sehingga kita tidak perlu lagi sibuk dengan adat-adat yang kadang- kadang membelit keluarga kita. besok kamu tidak usah ke kebun. Panggil semua keluarga kita untuk berkumpul di rumah besok malam” kata ibu kepadaku

“Memangnya besok ada acara apa bu” tanyakku polos

“Ini kakakmu yang baru pulang dari Kalimantan, katanya ingin segera mengurus perkawinannya dengan gadis di kampug sebelah. Ternyata selama merantau, kakakmu ini sering mengirim kabar dengan Isna. Sehingga secepatnya kita bisa urus acara masuk minta dan segera menikah” jawabnya sambil memakan sirih pinang

Kata-kata itu sangat menyakitkan di telinga, bahkan yang lebih menyakitkan ketika kata itu justru ku dengar dari orang lain bukan dari gadis yang paling kucintai.

Hari-hari berlalu tanpa menawarkan sebuah perjanjian, burung-burung pun seperti nyaman bermain bersama angin dan pohon itu telah jatuh hati kepada tanah yang telah memberikannya kehidupan.

Hingga pada saat Isna menikah, aku, dia atau kami tak pernah berpapasan. Terkadang ketika malam saat memandang langit dan sesekali memandang bintang jatuh, rindu seperti perlahan merangkak masuk dalam kalbuku dan kembali aku tak bisa meneteskan air mata ketika mengenang kenangan indah kami.

Aku yakin tuhan pasti tertawa melihatku sekarang dan mungkin setan sedang marah-marah kepadaku ketika aku tak memilih jalannya untuk mencari cinta.

Hingga pada pada sebuah masa, ketika kabar duka hadir tengah keluarga kami. Saat bunga cinta keluarga kecil Isna dan kakakku sedang mekar-mekarnya justru batu besar jatuh dan mengenai bunga itu. Kakakku yang pergi merantau telah dikabarkan meninggal karena kedapatan razia dari polisi negara sebelah. Dia yang menjadi pekerja gelap akhirnya harus ditembak setelah coba untuk melarikan diri. Semua keluarga kami berduka, Isna berduka dan aku pun berduka. Isna yang saat itu telah mengandung tak kuasa menahan air mata dan mengusap perut yang tak memiliki ayah itu.

Hari demi hari telah berlalu, siang dan malam datang dan pergi, senja hanya meninggalkan kenangan manis bersama secangkir kopi dan Isna gadis yang lain cantik kini semakin cantik ketika buah dadanya menawarkan suatu keindahan pada kandungan yang kian membesar.

“Nana, setelah ibu berdisusi dengan keluarga kita, ibu pun ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Ibu tak tega melihat Isna yang masih sangat kecil harus rela menjadi janda untuk kehidupan selanjutnya. Ibu ingin engkau mau menjadi suaminya. Rawatlah anaknya dan cintai dia sebagai gadis yang kau cintai” kata ibu memohon kepadaku

Ku lihat di pojokan rumah, Isna duduk tak memandangku. Rambutnya yang jatuh berderai di ujung dagu semakin membuatnya indah di mataku

“Bu, aku ingin bertanya dulu kepada Isna, apakah dia mau menikah denganku. Sebab aku tak ingin mencintai gadis yang tak mencintaiku. Jika dia mau menikah denganku, akupun sangat setuju” kataku pelan. Ku lihat ibu yang menanyai Isna tentang niatnya akhirnya diterima baik oleh Isna.

Segala kegiatan adat-istiadat pun dilakukan, dan segera mengurus pernikahanku dengan Isna.

Malam itu pun akhirnya muncul,  bersama bintang yang jatuh anakku, anak kakakku dan anak Isna mengeluarkan suara untuk pertama kalinya. Raut wajah bahagia memenuhi keluarga kami. Aku pun segera menemui Isna dan anakku, aku menggendongnya, wajahnya begitu menggemasakan. Ku lihat di pembaringan Isna begitu kelelahan seperti telah melakukan pertarung hidup mati yang begitu sengit.

Kini anak kami telah berumur tiga tahun, ku beri nama padanya Kris. Aku sangat mencintainya. Kadang ketika senja di tak sengaja terlelap dalam dekapanku. Ku nyanyikan lagu sendu agar mimpinya kian indah.

Ku lihat dari pendopo Isna memandang kami dari balik jendela, aku pun menemuinya dan membaringkan Kris di tempat tidur.
“Kenapa engkau begitu murung” tanyaku

“Aku malu padamu, aku merasa bersalah untuk semua kisah kita yang pernah kita jalani, aku mungkin telah merebut kebahagiaanmu” katanya sendu

“Sudah, tak usah engkau merasa bersalah, bagiku kamu tetap cantik karena cinta telah mengajarkanku cara memandangmu dengan dewasa. Mulai sekarang kita tak usah memikirkan masa lalu dan tataplah masa depan kita, anak kita. aku sangat mencintaimu sebagai gadis yang lugu seperti saat engkau masih gadis dulu”

Saat itu pun Isna menangis, ku dekap dirinya dan coba memberikan kehangatan padanya. Kadang ketika malam saat aku berbincang dengan Tuhan tak jarang kami menyebut nama Isna. Atau mengolong dan memarahi Tuhan karena jalan cintanya yang sanagat menguji diriku. Tap aku yakin sebenarnya bukan tuhan dalam hatiku tapi aku yang ada dalam hatinya ketika cinta berbicara. Dan ini adalah takdirku, aku adalah pemegang takdirku sendiri. Bukankah begitu hakikat cint dan kehidupan

Taga, 28 September 2017

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
 
*Lili: sebuah budaya pernikahan di Manggarai, Flores yang menikahi istri/suami dari kakak/adik yang telah meninggal dunia

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Lili: untuk Perempuan dalam Pelukan
Lili: untuk Perempuan dalam Pelukan
https://2.bp.blogspot.com/-Nb4sEaEB4IE/WehEco82FUI/AAAAAAAABqo/N5gkgO-wcKUzYAafaBSPc_7UsdXh64boACLcBGAs/s320/Arsi%2BJuwandY%2BMarjinNews.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-Nb4sEaEB4IE/WehEco82FUI/AAAAAAAABqo/N5gkgO-wcKUzYAafaBSPc_7UsdXh64boACLcBGAs/s72-c/Arsi%2BJuwandY%2BMarjinNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/lili-untuk-perempuan-dalam-pelukan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/lili-untuk-perempuan-dalam-pelukan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy