Konsep Jihad Dalam Islam dan Implikasinya Dalam Praktik Terorisme Di Indonesia

Sepanjang sejarah, aksi para terorisme bersifat mengglobal artinya bukan hanya terjadi di satu negara saja melainkan negara-negara lain juga menjadi korban dari tindakan mereka (Foto: Dok. Pribadi)
Persoalan tentang terorisme merupakan persoalan yang seringkali menjadi bahan diskusi dalam masyarakat. Perilaku para teroris senantiasa menggegerkan masyarakat karena kehadiran mereka yang secara tiba-tiba masuk dalam suatu masyarakat yang kehidupan diwarnai oleh damai dan kesejahteraan. Pertanyaan yang muncul dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang merupakan suatu negara dengan beranekaragaman agama, suku, ras, adalah apakah mereka (para terorisme) beragama?. Pelaku terorisme mengakui bahwa dengan aksi melakukan pembunuhan, bom bunuh diri dan intimidasi senantiasa membawa mereka kepada kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup di dunia dan akhirat nanti.
Sepanjang sejarah, aksi para terorisme bersifat mengglobal artinya bukan hanya terjadi di satu negara saja melainkan negara-negara lain juga menjadi korban dari tindakan mereka. Di Eropa, ledakan bom pada tiga kereta bawah tanah dan sebuah bus di Inggris yang menewaskan 56 orang, terjadi pada tanggal 7 Juli 2015 [1]. Selain itu, aksi para terorisme juga terdapat di Indonesia, seperti yang terjadi pada tanggal 25 September 2011, terjadi aksi terorisme bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Solo [2]. Dengan melihat fenomena ini, menjadi nyata bahwa keberadaan para teroris sangatlah memprihatinkan. Hal ini juga menjadi ancaman bagi kaum Islam, karena aksi para terorisme erat kaitannya dengan kaum Islam dan menjadikan Jihat sama atau setara dengan Terorisme.

2.    Kajian Teoretis Dan Pembahasan

2.1. Jihad
Jihad menurut Syariat Islam adalah berjuang dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk misi utama manusia yaitu menegakkan Din (agama) Allah atau    menjaga Din tetap tegak, dengan cara yang sesuai garis perjuangan para rasul atau al-  Quran[3]. Jihad yang dilakukan para rasul adalah berdakwah agar segenap umat  manusia dengan caranya meninggalkan segala ketimpangan-ketimpangan yang melanggar perintah Allah dan senantiasa kembali pada aturan Allah, memberikan pengajaran kepada umat dengan mendidik agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan mengutamakan sika menghargai, damai dan saling mengasihi.

Dengan melihat pemahaman tentang pengertian jihad yang sesungguhnya, umat Islam mendambakan kedamaian dalam relasi antar umat beragama. Jihad bukan dipandang sebagai ajaran yang menyesatkan kaum Islam. Islam radikal, Islam yang tidak puas akan keberadaannya dalam masyatrakat itulah yang mengalihkan atau memfitnah konsep jihad yang sesungguhnya. Jihad tidak identik dengan perang.

Perang dalam pengertiannya adalah mencari musuh yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan kelompok dengan menghalalkan berbagai cara. Lain halnya dengan jihad yang mengartikan perang sebagai suatu upaya untuk melindungi diri dari serangan musuh. Perang dalam jihad merupakan suatu alternatif terakhir karena dari pihak lawan tidak menginginkan suatu kedamaian, sehingga jalan yang terakhir adalah perang dan ia tidak menyerang.

2.2. Terorisme
Kata Terorisme berasal dari kata terror dalam bahasa Inggris atau terrer dalam bahasa Latin yang berarti membuat gemetar atau menggetarkan. Terorisme identik dengan kehancuran, karena sikap daan tindakan mereka selalu berbaur hal yang negative. Sungguh disayangkan jika kelompok-kelompok yang menciptakan suatu ajaran sesat tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Pemerintah menjadi kunci dari keadamaian suatu negara.

Terbukti bahwa kehadiran para teroris yang adalah orang Indonesia sendiri telah tercium baunya, sehingga setiap gerak- gerik mereka selalu teratasi oleh pihak keamanan (Polisi atau Densus 88 Anti Teror), tetapi  terkadang setiap aksinya membawa dampak bagi korban yang tidak bersalah.

Dalam kuliah pilihan [5] dijelaskan bahwa terorisme menggunakan agama sebagai mantel dalam melakukan aksi. Hal inilah yang membuat beberapa orang termotifasi untuk bergabung bersama dan menjalankan aksi atas nama agama. Tidak jarang para teroris menggunakan ayat suci untuk menutup kepribadian yang kejam, menyakitkan dan sadisme. Agama dan ayat-ayat suci menjadi perlindungan terakhir, artinya mereka (baca:teroris) tergolong orang-orang kalah dalam masyarakat. Dampak  dari keadaan inilah akan menimbulkan radikan yang berpuncak pada terorisme.

Para terorisme dalam aksi menggunakan serangan-serangan yang terorganisir dengan tujuan membangkitkan perasaan teror terhadap kelompok masyarakat.

2.2.1. Terorisme Indonesia
Terorisme di dunia menjadi bahan diskusi ketika terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada 11 september 2001[6]. Hal ini ternyata menjalar bukan hanya terjadi di Eropa tetapi menjalar di timur tengah sampai ke Asia. Berkembangnya kelompok-kelompok ini menjadi nyata bahwa kehadiran mereka mendapat dukungan dari masyarakat setempat.

Masyarakat bukan hanya memberikan dukungan dalam artian memberi motifasi terhadap kinerja kerja tetapi senantiasa berperan aktif dalam menjalankan aksi teror yang mengatasnamakan  agama dan kitab suci. Terorisme Indonesia hadir atau terbentuk karena ketiadaan tempat dalam mengungkapkan segala sikap dan adanya ketimpangan-ketimpangan yang tidak merata dalam pemerintahan.

Kehadiran para terorisme menjadi pusat  perhatian oleh pihak pemerintahan. Karena pihak pemerintah selalu menggagalkan aksi dari para teroris, maka hal yang terjadi adalah perlawanan terhadap pemerintah. Hal senada menjadi parah ketika terjadi ketimpangan sosian akibat minimnya kinerja dari pihak pemerintah, dan tentunya dampak dari guncangan ini akan  berimplikasi kepada  kemiskinan, ketidakadilan, terjadinya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dan konflik antaragama.

Karena terjadinya kegagalan dari pihak pemerintah inilah yang menjadikan sekelompok Islam radikal untuk menunjukkan taringnya dengan menggagaskan ajaran sesat yang bertopeng agama dan kitab suci. Kenyataan ini menjadi dasar lahirnya terorisme atau orang-orang kalah.

Terlepas dari masalah diatas, terbentuknya para terorisme Indonesia diakibatkan karena kekecewaan kelompok Islam radikal karena gagal menempatkan syariat Islam sebagai dasar negara Indonesia dan lahirnya asas tunggal Pancasila pada semua partai yang mengakibatkan banyaknya partai dan organisasi    Islam   merasa terpinggirkan dalam pemerintahan [7]. Kebijakkan ini dinilai tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia yang mengakibatkan sekelompok Islam    radikal melawan setiap kebijakkan pemerintah. Mereka juga mencap pemerintah  dengan sebutan thaghut (anti-Islam, setan, kafir).

2.2.2. Dampak Lahirnya Terorisme
Kehadiran para terorisme yang melakukan aksi teror tentunya memiliki dampak yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat setempat. Sepanjang sejarah kehadiran para terorisme menyebabkan terjadinya perampokan, pembunuhan dimana-mana dan terjadinya peledakan bom. Distingsi aksi ini menggambarkan bahwa para terorisme tidak lain sebagai setan yang haus akan darah. Indonesia juga menjadi pusat lahirnya para teroris yang berpusat di Solo.

Solo diindikasikan sebagai suatu wilayah yang menjadi markas para teroris. Dengan ini, keberadaan masyarakat Solo selain karena menjadi korban pembunuhan tetapi juga dianggap sebagai masyarakat yang  menganut aliran terorisme.

2.3. Memahami Jihad Yang Sesungguhnya
Islam terkadang selalu di identikkan dengan kekacauan, terorisme, fundamentalisme dan fanatisme. Peristiwa yang mengguncang Indonesia dengan   hadirnya para teroris, mengindikasikan bahwa mereka adalah orang dari agama Islam.  Hal ini dipicu oleh pemahaman yang kurang segelintir orang tentang ajaran Islam sesungguhnya, misalnya tentang konsep jihad. Dengan ini, penyebab munculnya    terorisme dalam Islam adalah salah pengertian tentang jihad.

Tentunya jihad berbeda jauh dengan arti dari terorisme. Jihad merupakan suatu ajaran dari umat Islam yang menjelaskan tentang kedamaian dan perlindungan terhadap agama, sedangkan terorisme merupakan suatu kelompok radikal yang   terbentuk atas dasar keinginan-keinginan untuk menghancurkan orang yang tidak bersalah. Konsep jihad mendapatkan pergeseran arti yang signifikan. Para kelompok- kelompok radikal hadir dan menggunakan konsep jihad dalam mengungkapkan pendapat untuk melawan pemerintah atau melawan agama lain. Jihad digunakan sebagai instrumen politis yang dapat membentuk suatu aliran penghancuran.

3. Islam: Agama Damai
Islam berasal dari kata Arab s-l-m yang pengertiannya berkaitan dengan tunduk kepada Tuhan dan damai [8]. Pengertian ini mengungkapkan bahwa agama Islam sesungguhnya agama damai yang tidak erat kaitannya dengan terorisme. Sesungguhnya terorisme hadir karena merasa diri sebagai orang-orang kalah, sehingga mereka tidak segan-segan menggunakan agama dan kitab suci sebagai mantel dari aksi yang mereka lakukan. Setiap agama tidak pernah mengajarkan tentang kekerasan. Kekerasan tidak hanya terjadi di wilayah yang mayoritas Islam tetapi terjadi juga di wilayah non-Islam. Dalam hal ini Islam tidak di identikkan dengan  kekerasan. Hadirnya para terorisme yang membawakan agama Islam sebagai penguat tindakannya, sesungguhnya mereka adalah segelintir orang yang keliru dalam mempelajari ajaran Islam sesungguhnya.

Tentunya masyarakat Indonesia yang mayoritas agama Islam merasa terganggu jika mereka disamakan dengan para terorisme. Dalam surat kabar [9] terungkap bahwa sesungguhnya kelompok radikal di dunia Islam sejatinya adalah kelompok kecil dan sebagiannya adalah kelompok mayoritas. Kelompok minoritas hadir sebagai pengganggu terhadap kelompok mayoritas yang diam. Diam dalam pengertian ini berarti mereka sungguh memahami setiap ajaran dan menggunakan pola pikir yang matang dalam bertindak. Mereka yang melakukan aksi teror atas nama agama sesungguhnya mereka yang lahir dari kelompok minoritas. Dengan penjelasan ini menjadi keliru jika agama Islam selalu dikaitkan dengan agama kekerasan. 

Penutup
Sungguh disayangkan jika dewasa ini pengetahuan kita tentang agama Islam selalu diidentikkan dengan terorisme. Terorisme yang membawakan jihad sebagai kebenaran dalam perang merupakan suatu aliran yang berlawanan dengan konsep jihad sesungguhnya. Jadi menjadi jelas bahwa jihad tidak sama dengan terorisme dan lebih jauh setiap agama tidak pernah membicarakan atau mengajarkan tentang kekerasan yang berujung pada  kematian. Dan hal yang menjadi dasar dari lahirnya terorisme adalah karena mereka sesungguhnya orang-orang kalah yang merindukan kekuasaan penuh dalam masyarakat atau negara.
 
Oleh: Ogha Galung
Alumni asrama Arnoldus Labuan Bajo, Manggarai Barat Tahun 2013

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,116,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,157,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,568,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,275,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,61,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,59,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,286,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,233,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,411,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,18,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,peradilan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1105,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,7,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,40,Start Up,1,Suara Muda,61,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,45,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,18,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,Yulius Benyamin Seran,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Konsep Jihad Dalam Islam dan Implikasinya Dalam Praktik Terorisme Di Indonesia
Konsep Jihad Dalam Islam dan Implikasinya Dalam Praktik Terorisme Di Indonesia
https://4.bp.blogspot.com/-hNTqBFurxfc/WdRVV8WKGpI/AAAAAAAABfc/uYI2TAvEnb8QmWn8pjMqy5dNu0rSybFdQCLcBGAs/s320/Ogha%2BMarjin%2Bnews.JPG
https://4.bp.blogspot.com/-hNTqBFurxfc/WdRVV8WKGpI/AAAAAAAABfc/uYI2TAvEnb8QmWn8pjMqy5dNu0rSybFdQCLcBGAs/s72-c/Ogha%2BMarjin%2Bnews.JPG
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2017/10/konsep-jihad-dalam-islam-dan_3.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/konsep-jihad-dalam-islam-dan_3.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close