Klaim Berhala dalam Ritus "TEING HANG" Di Manggarai

“Tak pernah ada kekristenan tanpa adanya eksistensi budaya, demikian juga tak pernah ada sebuah budaya tanpa religiositas”, (Herbert Spencer). (Foto: Travel/Kompas)

Masalah perbedaan pandangan mengenai kesahihan ritus “Teing hang” di manggarai menjadi masalah krusial, yang harus ditelaah secara mendalam. Menjadi masalah krusial, karena orang manggarai belum mendalami secara komprehensif dengan ritus “ Teing hang “ itu sendiri. Orang manggarai hanya mengenal ritus tersebut secara asal-asalan tanpa memaknainya sebagai khasanah budaya yang harus diapresiasi. Sehingga dalam tubuh ritus “Teing hang” itu sendiri muncul, Apakah ritus ini menjadi salah satu bagian dari praktik penyembahan berhala?”. Pertanyaan ini menjadi acuan penulis untuk merangkai gagasan dalam tulisan ini. 

Penyembahan berhala dan relevansinya dengan ritus "Teing Hang"

Pemahaman penyembahan berhala dalam konteks berbudaya tidak memberikan jawaban yang pasti. Artinya penyembahan dalam ritus “Teing hang” itu sendiri tidak termasuk praktik berhala. Dalam hal ini ada dua argumen yang membenarkan praktik  penghormatan kepada leluhur atau dalam konteks Teing hang itu sendiri. Pertama, Praktik penghormatan leluhur mengandaikan kepercayaan akan adanya kehidupan baru sesudah kematian badan. Kedua, Penghormatan kepada leluhur menjadi sebuah kepercayaan akan adanya eksistensi Allah sebagai penjamin tunggal dari kehidupan kekal manusia sesudah peristiwa kematian. 

Oleh karena itu, praktik yang berpusat pada penghormatan leluhur menjadi sebuah peristiwa anamnesis dan kecintaan manusia yang masih hidup untuk orang-orang yang sudah mati. Pemahaman ini juga secara eksplisit menerangkan bahwa dengan menjalankan praktik penghormatan untuk orang mati oleh orang yang masih hidup tidak mengalami keberpisahan. Artinya antara orang mati dan orang hidup tidak semata-mata lenyap dalam berkomunikasi melainkan orang mati dan orang hidup hanya berbeda tempat untuk berada dan orang manggarai sering mengandaikan itu dengan”Pa’ang bele”.

Di sini juga secara jelas menggambarkan bahwa masih ada kontiunitas dalam berkomunikasi antara orang mati dan hidup. Sehingga konteks ritus teing hang itu sendiri bukanlah semata-mata praktik penyembahan berhala. Pengultusan ritus teing hang juga, mengandaikan akan adanya hidup setelah peristiwa kematian. Di mana diyakini bahwa eksistensi jiwa dari manusia itu akan tetap hidup. Berkaitan dengan ritus teing hang dalam budaya menggarai meyakini bahwa dengan menjalankan praktik tersebut, jiwa orang yang sudah meninggal bisa dibangkitkan kembali atau hidup kembali. 

Terhadap pertanyaaan mengenai pemahaman penyembahan berhala dalam ritus “Teing Hang” di Manggarai, penulis menegaskan bahwa praktik teing hang itu sendiri bukan merupakan praktik penyembahan berhala, karena di dalam ritus tersebut tidak adanya unsur pemujaan yang berlebihan terhadap leluhur tetapi yang ada hanya sebuah penghormatan atau anamnesis untuk jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal dan dalam praktik ini juga ada hubungan dengan unsur simbolis orang Manggarai. Unsur simbolis dalam ritus Teing hang merupakan ungkapan cinta dari anggota keluarga terhadap orang yang telah meninggal. Sehingga orang yang sudah meninggal memperoleh ketenangan di dunia lain “Pa’ang Bele”.

Dari ulasan di atas penulis mencoba memberikan pandangan konstruktif untuk masyarakat Manggarai bahwa, Pertama Sebagai manusia Manggarai perlu adanya pemahaman yang mendalam mengenai ritus teing hang, dengan memahami itu kita mampu menggali makna di balik ritus yang ada dan pemahaman yang memadai tentang budaya mampu memberikan kontribusi yang positif bagi peradaban kemanusian etis manusia Manggarai. Di mana Manggarai merupakan salah satu daerah yang memiliki khasanah budaya yang perlu diapresiasi.

Dengan demikian, orang Manggarai memiliki unsur identitas yang berbeda dengan masyarakat daerah lain.  Kedua, Jadikan kebudayaan sebagai bagian integral dari manusia Manggarai, karena sebetulnya kita lahir dari daerah yang berbudaya. Oleh karena itu, terhadap paradoks ritus teing hang perlu ditegaskan oleh penulis, bahwa ritus teing hang bukan praktik penyembahan berhala melainkan sebuah alternatif untuk menghormati para leluhur yang telah meninggal dunia. Dengan demikian, pemahaman berhala dalam ritus teing hang perlu digali kembali.

Oleh: Agustinus Gunadin (Mahasiswa STFK Ledalero)
  Yenni Sarry (Mahasiswi STKIP Ruteng)


COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Klaim Berhala dalam Ritus "TEING HANG" Di Manggarai
Klaim Berhala dalam Ritus "TEING HANG" Di Manggarai
https://4.bp.blogspot.com/-ePLDX4AbPK8/WeLlA1KyaUI/AAAAAAAABmU/Wmo6tKQPitc1oQbW3n06DL1Ifj4_DtDNACLcBGAs/s320/Teing%2BHang%2BMarjin%2BNews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-ePLDX4AbPK8/WeLlA1KyaUI/AAAAAAAABmU/Wmo6tKQPitc1oQbW3n06DL1Ifj4_DtDNACLcBGAs/s72-c/Teing%2BHang%2BMarjin%2BNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/klaim-berhala-dalam-ritus-teing-hang-di.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/klaim-berhala-dalam-ritus-teing-hang-di.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy