Katakan “Tidak” sebagai Penolakan Praktis pada Narkoba

Mencium merupakan seni yang menggelorakan dan sentuhan yang menggiurkan, cium itu asyik tapi nakal, menjadi nakal apabila tak bisa menahan diri untuk tidak mengarah ke wilayah lain (Gambar: edunews.id)
Saya teringat Fredy Sebho dalam monologionnya “Ketika Kata Bertingkah” tentang ciuman. Mencium merupakan seni yang menggelorakan dan sentuhan yang menggiurkan, cium itu asyik tapi nakal, menjadi nakal apabila tak bisa menahan diri untuk tidak mengarah ke wilayah lain. Begitupun dengan penyakit ini (narkoba) menjadi asyik ketika di konsumsi dan menjadi fatal apabila tidak di konsumsi, stress di dapat, murung bahkan bisa menjadi gila karena tidak ada penawar rindu.

Kemajuan IPTEK mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dengan kemajuan ini manusia cenderung bersikap hedonisme (melihat kenikmatan sebagai tujuan akhir hidup), Di samping itu sikap keingin-tahuan manusia terhadap sesuatu yang baru begitu melonjak, tanpa melibatkan aspek hati, otak dan lidah yang bijak, jika tidak diperhatikan maka hal ini dapat memberi sumbangsih pada manusia untuk masuk ke dalam zona degradasi atau hal yang negatif, sebagai contoh kecanduan dalam penggunaan narkoba.    

Saat ini berita tentang penggunaan narkoba semakin memanas. Para pengagum sekaligus pengguna narkoba datang dari berbagai kalangan, entah dari konglomerat, priayi, musisi hingga pedagang kecil pun turut berperan aktif dalam menggunakan narkoba. Contoh, beberapa kasus penggunaan narkoba di Indonesia akhir-akhir ini melibatkan beberapa artis terkenal, hal ini membuat saya merasa iba, bukan karena mendengar, menyimak melalui media massa dan media elektronik, tetapi pil pahit yang mereka alami. Usaha yang telah dicapai selama ini sia-sia, karena jeruji besi memanggil mereka untuk berteduh.

Penggunaan narkoba dianggap hal yang luar biasa oleh masyarakat, namun dianggap sebagai hal yang lumrah oleh para donatur (bandar), pelanggan, dan lain sebagainya. Perihal menganggap yang “lumrah” jika tidak diantisipasi dapat menjadi suatu “budaya” yang menyenangkan bagi pemula atau kelak menghukum bagi pecandu. Heroin, morfin, pil, ganja, kokain, LSD atau Lysergic Acid (tergolong halusinogen, biasanya dalam bentuk lembaran kertas kecil, kapsul, atau pil) metadon, kodein, ekstasi (ekstasi dapat berbentuk tablet, pil, serta serbuk), sabu-sabu dan lain sebagainya. Hal ini merupakan sebagian dari aneka narkotika. 

Maraknya peredaran dan penggunaan narkoba jika dilihat lebih mendalam sebenarnya membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak berakal sekaligus tidak berbudi. Alasannya sederhana, berakal karena bisa menciptakan sesuatu yang baru namun, manusia juga tidak berbudi karena sesat dalam berpikir dan bertindak sehingga bisa terjerumus dalam aksi penggunaan narkoba. Hal ini melahirkan sikap hedonisme level dewa.

Penggunaan narkoba yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan yang sangat tinggi, jika tidak terpenuhi maka seseorang terpanggil untuk melakukan berbagai aksi brutal dan anarkis demi mendapat uang untuk membeli narkoba. Selain itu, penggunaan narkoba yang berlebihan sebenarnya memberi sirene dibukanya kran hukuman mati bagi pengguna narkoba jika kasusnya sangat berat. Saya belum pernah di tawari sebagai pengedar apalagi sebagai pelanggan, saya hanya bergairah dan terlibat dalam seminar tentang bahaya penggunaan narkoba. 

Menurut saya, menjadi pengedar atau pelanggan narkoba berarti secara langsung menjual diri sendiri, bebas berkelana dari batasan nilai etika dan nilai keagamaan selain itu, menjadi pengedar atau pengguna narkoba sebenarnya sedang memberi pesan diam-diam mendamba kematian yang sebenarnya belum pasti untuk di raih. Di samping itu, jika saya terlibat semua pihak (orangtua, para medis yang cantik, polisi) semua merasa cemas, super-sibuk dalam mengurus saya, semuanya terfokus pada saya, hahahah sok penting !!! dan juga biaya yang dibutuhkan untuk merehabilitasi mungkin tidak sedikit, tetapi sangat disayangkan uang dikeluarkan begitu saja, toh masih ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi misalnya kebutuhan akan papan, sandang dan pangan. Haha kasihan...!!!!

Perilaku penggunaan narkoba dilatarbelakangi oleh berbagai alasan; ada yang sekedar mencoba, mencari kepuasan dan kesenangan, menghilangkan stress, faktor broken home, kurangnya perhatian dan kasih sayang orangtua. Jika di kalangan remaja berupa paksaan dari teman atau suatu kelompok agar menggunakan narkoba, jika tidak mau menggunakan akan dianggap tidak setia kawan, selain itu faktor kemiskinan dan pengangguran yang tinggi turut memicu seseorang untuk mengkonsumsi narkoba. 

Ada pula yang mengatakan bahwa dengan menggunakan narkoba dapat membantu pekerjaan seseorang yang ekstra padat (khususnya para artis dan musisi) semuanya aman terkendali, tidak lelah hingga lesuh. Kehadiran narkoba di Indonesia banyak diimpor dari luar negri melalui jalur laut maupun udara. Barang haram ini sangat mudah masuk ke negara Indonesia karena lemahnya pengawasan di jalur udara (penerbangan) maupun di zona laut. 

Berbagai macam cara yang digunakan sindikat narkoba untuk memuluskan cita-cita mereka agar bisa mendapatkan keuntungan yang tinggi apabila semua barang haram tersebut laku dijual. Dengan berkembangnya teknologi maka bisnis narkoba juga dapat dilakukan melalui media online, cara ini merupakan momen yang istimewa dan sasarannya pada kaum muda, mengapa? karena pada zaman ini (era digital) kaum muda lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Konektivitas yang akrab ini menciptakan peralihan jabatan dari para donatur (bandar) ke pelanggan narkoba dan hal ini melibatkan kaum muda (secara khusus para pelajar SMA hingga Perguruan Tinggi). 

Keterlibatan kaum muda dianggap cocok untuk menjalankan misi pengedaran narkoba, sebab dalam tahap ini kaum muda yang sedang mencari jati diri dapat membangun relasi atau jaringan yang banyak, sebagai contoh di lingkungan kampus, mahasiswa dengan mudah mengedarkan narkoba kepada mahasiswa lain, mungkin juga para dosen ataupun para pegawai pun terlibat. Di lingkungan kampus segala bentuk bujuk rayu dan tipu daya oleh pengedar selalu membombardir setiap detik, jika berhasil maka terbentuklah suatu jaringan. Keterlibatan penggunaan narkoba oleh kaum muda dalam hal ini mahasiswa dapat menghilangkan arti dan makna dari yang ter-perlajar di sini kualitas seorang kaum muda patut di pertanyakan. Sikap ini sebenarnya melemahkan jati diri bangsa, sebab dalam genggaman kaum muda nasib sebuah bangsa ditentukan.

Kasus narkoba yang sering diberitakan sebenarnya mengisyaratkan bahwa narkoba merupakan penyakit serius yang harus diatasi. Pemerintah dengan berbagai cara berusaha mengatasi penyalahgunaan, hingga pada sikap yang amat keras yakni memberlakukan hukuman mati bagi pengedar narkoba. Alhasil pengguna narkoba terus melonjak bak mati satu tumbuh seribu. Siapa yang patut disalahkan?. 

Melihat situasi ini, peranan kaum muda yang dimotori oleh mahasiswa amat dibutuhkan, mahasiswa dengan segala intelek yang dimiliki bisa menjadi penggerak dengan ide-ide cemerlang untuk menyuarakan tentang bahaya narkoba, mahasiswa bukan hanya berkata-kata tetapi harus bisa mengubah kata-kata menjadi kata kerja sebagai contoh memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya penggunaan narkoba, selain itu perlu diadakan bimbingan dalam bidang kerohanian hal ini dimaksud memberi peneguhan untuk mahasiswa agar tidak goyah ketika menghadapi rayuan maut oleh para pengedar narkoba. 

Selain itu sebagai masukan, perlu keamanan yang maksimal oleh pihak yang berwajib di tempat-tempat yang ramai yakni; pelabuhan laut, bandar udara, di bar, diskotek dan lain sebagainya. Jika tempat ramai seperti disebutkan di atas tidak diperhatikan maka hal itu menciptakan kesuksesan untuk para sindikat narkoba untuk sebebas-bebasnya menjalankan aksinya.
Oleh karena itu, kerjasama dari semua pihak baik Pemerintah, BNN, Kepolisian serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengatasi dan memberantas narkoba. Pemerintah dengan segala kekuasaannya diharapkan terus menegakkan hukum bagi para pengguna dan pengedar narkoba. Bantuan dari masyarakat juga dibutuhkan untuk memberi informasi keberadaan komplotan serta transaksi narkoba, dan yang terpenting adalah pendidikan karakter dalam keluarga. Hal ini mempunyai bekal untuk kaum muda yakni; yang baik harus dipertahankan, yang jahat di hindari. 

Perihal menegasikan yang buruk berarti memberi makna untuk menjadi diri sendiri dalam hal (baik). Hal ini tentu melibatkan hati, otak dan lidah yang bijak. Hati melaksanakan perannya apabila ia menilai sesuatu dari segi moral, sedangkan otak memberikan kontribusi untuk berpikir yang akan bermuara pada lidah (ucapan) “Tidak, tidak dan tidak sebagai penolakan praktis pada narkoba.”

Oleh: Ady Klodor
Alumni SMAK Frateran Podor, Larantuka tahun 2013
Penghuni gubuk tua St. Kamilus de Lelis, Maumere
Mahasiswa STFK-Ledalero, Maumere

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Katakan “Tidak” sebagai Penolakan Praktis pada Narkoba
Katakan “Tidak” sebagai Penolakan Praktis pada Narkoba
https://2.bp.blogspot.com/-0pi6HAhaEWs/WfjRdj1j9-I/AAAAAAAAB0o/wYQKAB3PR8wQEBKCE4ffLDi6ge7cP4LwQCLcBGAs/s320/Narkoba%2BMarjinNews.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-0pi6HAhaEWs/WfjRdj1j9-I/AAAAAAAAB0o/wYQKAB3PR8wQEBKCE4ffLDi6ge7cP4LwQCLcBGAs/s72-c/Narkoba%2BMarjinNews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/10/katakan-tidak-sebagai-penolakan-praktis.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/10/katakan-tidak-sebagai-penolakan-praktis.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy