Berhenti Menjadi Buta untuk Melihat

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Berhenti Menjadi Buta untuk Melihat

24 October 2017

Bahkan menurut salah seorang ilmuwan dalam bidang Fisika yaitu Stephen Hawking perubahan iklim sebagai efek rumah kaca, waktu untuk tinggal di bumi semakin sedikit. (Foto: Dok Pribadi)
Emisi gas rumah kaca adalah bahaya nyata yang tengah mengancam keberlangsungan bumi beserta seluruh isi nyatak terkecuali manusia. Hal ini telah menjadi perhatian dunia secara global dalam bebrapa tahun terakhir terutama karena dampaknya yang sangat besar terhadap perubahan iklim. Berdasarkan laporan DARA, lima juta kematian yang terjadi setiap tahunnya akibat polusi udara, kelaparan, dan penyaki  akibat perubahan iklim serta pemanfaatan karbon secara intensif.

"Krisis gabungan iklim dan karbon diperkirakan mengancam 100 juta jiwa antara saat ini sampai dengan akhir decade berikutnya," demikian dinyatakan dalam laporan tersebut. Para pakar iklim memperingatkan bahwa kemungkinan untuk membatasi kenaikan hingga dibawah 2 derajat celcius semakin kecil karena emisi gas rumah kaca global yang meningkat (Kompas.com - 27/09/2012:16:36 WIB) .

Kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batu bara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak termasuk pembakaran lahan dan hutan merupakan penyebab emisi gas rumah kaca. Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka, apa yang diprediksikan oleh para ilmuwan tentang masa depan bumi maupun manusia akan terjadi seperti mencairnya es, cuaca ekstrim, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut.

Bahkan menurut salah seorang ilmuwan dalam bidang Fisika yaitu Stephen Hawking perubahan iklim sebagai efek rumah kaca, waktu untuk tinggal di bumi semakin sedikit. Hal ini didukung dengan fakta meningkatnya suhu secara drastis, lalu kemudian menurun juga tidak kalah drastis yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk juga Indonesia. 

Dengan demikian, jika kita menilik penyebab terjadinya efek rumah kaca maka kita tidak mungkin hanya menutup mata terhadap maslah ini. Kita sebagai Negara dengan jumlah populasi penduduk ke-4 terbanyak dengan jumlah 3,5% dari jumlah penduduk dunia (CIA World Factbook; 2016), tidak dapat dipungkiri juga menjadi salah satu Negara penyumbang emisi gas rumah kaca berupa CO2 terbesar dunia yang berada pada urutan ke-6 (WRI).

Maka dari itu, mari kita bersama-sama sejenak berhenti mengurusi isu-isu yang berbau SARA yang pada kenyataannya hanya merupakan isu Hoax belaka, mari kita berhenti berpura-pura buta dan mulai membuka mata terhadap problematika yang memang membutuhkan penanganan secara nyata bukan sekedar bualan semata. Kita harus mulai menyadari bahwa bumi sekarang tengah sekarat dan meronta-ronta, membutuhkan pertolongan dan perawatan yang intensif dari semua umat manusia. 

Hal yang dapat dilakukan antara lain reboisasi dan pencegahan menurunnya luas hutan secara signifikan, efesiensi penggunaan energi yang tidak dapat terbarukan dengan konsep pembangunan rumah atau gedung yang banyak masuk cahaya, sehingga penggunaan listrik dapat dihemat.  Selain itu penurunan dampak emisi gas karbon dapat dilakukan melalui pengolahan limbah domestik, limbah cair dan B3 (bahan berbahaya dan beracun), serta penghematan atau pengurangan terhadap penggunaan kendaraan bermotor.

Oleh: Lilis Morung (Society, Jogjakarta)