Belajar "Gila" dari Suku Samin

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Belajar "Gila" dari Suku Samin

17 October 2017

Kita semua sama. Perbedaannya hanyalah terletak pada waktu, siapa dan kapan yang dilahirkan duluan oleh dunia. (Foto: Istimewa)
Bertemu dalam suasana hangat pada suatu pagi bersama sosok Bapak Achmad Gunawan M.Si di lingkungan Universitas Thribuwanna Tungga Dewi, saya bersama tiga teman dari Jurusan Ilmu Komunikasi terlibat dalam diskusi panjang bersama beliau. Suku Samin yang sejatinya menjadi agenda pembicaraan kami pada perjumpaan itu berawal dari kecintaan dan rasa penasaran penulis dan beberapa teman ketika Bapak Gunawan menyampaikan sepenggal kalimat bahwa Suku Samin merupakan suku yang dianggap "gila" karena perilakunya yang berbeda dari suku atau masyarakat kebanyakan. Ini justeru menjadi hal favorit Bapak Gunawan yang cukup berpengalaman menjadi dosen sosiologi selama bertahun-tahun. 

Ada sebuah keistimewaan pada diri Suku Samin ini. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menggali lebih jauh perihal apa dan bagaimana Suku Samin ini sesungguhnya. Perjumpaan ini membawa banyak hal. Ketertarikan saya terletak pada cerita tentang suku Samin dan juga pada sosok Bapak Gunawan yang adalah Dosen Pengantar Ilmu Sosial dan Politik di UNITRI. Pemikir besar yang menyampaikan sejarah besar dengan penjelasan yang menjangkau semua pribadi. Gumaman, tawa bahkan celoteh kami sebagai mahasiswanya menggambarkan bahwa diskusi itu membawa Bapak Gunawan ke dalam suasana santai. Seakan tak ada sekat diantara kami. 

"Kita semua sama. Perbedaannya hanyalah terletak pada waktu, siapa dan kapan yang dilahirkan duluan oleh dunia." Penegasan Bapak Gunawan ini tentu semakin menguatkan kami untuk benar-benar berani keluar dari zona nyaman kami dan melampaui batas-batas yang kami kreasikan sendiri. Diskusi yang kurang lebih 4 jam itu pun serasa 2 menit saja. Perjumpaan sederhana yang indah.

Suku Samin adalah suku yang tersebar di Jawa Tengah tetapi fokusnya lebih di daerah Blora. Sedangkan di Jawa Timur Suku Samin ini menempati wilayah Bojonegoro. Suku Samin yang memiliki ajaran Samin/Saminisme awalnya merupakan pergerakan sosial yang kemudian mengisolasi diri menjadi sebuah kelompok. Ajaran Saminisme ini mengajarkan 'sedulur sikep' dimana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain diluar kekerasan. Berpanutan pada ajaran 5 "ojo" (jangan) yang terdiri atas, ojo mengganggu orang lain, ojo bertengkar, ojo iri hati, ojo mengambil milik orang lain dan ojo sombong. 

Prinsip ini semakin ditegaskan pada istilah yang melekat pada Suku Samin,yaitu dom sumuruping banyu (jarum yang masuk ke air). Ibarat jarum yang masuk ke air maka tak ada riak atau gelombang ketika jarum tajam itu masuk ke dalam air. Sehingga dalam kehidupan Suku Samin demo bukanlah penyelesaian masalah tetapi mufakat lebih diutamakan.

Gambaran tentang Suku Samin ini menegaskan banyak hal. Keseimbangan kata-kata dan perilaku mereka digambarkan berbeda oleh beberapa media yang sempat saya simak. Bapak Gunawan pun tak kalah menyuguhkan cerita yang memanjakan telinga. Dengan suara yang khas, beliau menuturkan ceritanya dalam nada lembut dan pasti. 

Terkisah pemerintah meminta pajak kepada Suku Samin ini. 
"Pajak apa pak?" Tanya salah satu anggota Suku Samin. 
"Tanahmu yang disana". 
"Ayo kita sama-sama kesana". Permintaan halus itu membawa mereka ke tanah yang dimaksud aparat. 
"Pajaknya berapa pak?" Katakanlah RP 100.000 kenanya, Bapak Gunawan menyambung ceritanya dengan pengandaian uang dalam jumlah tersebut. 
"Ini kenanya cuma RP 8.000 Pak." Jelas salah satu anggota Suku Samin ini untuk menegaskan dia hanya memiliki uang RP 8.000. Si anggota suku Samin ini lalu menggali tanah dan dia mengeluarkan uang tersebut dari dalam saku dan kemudian menguburnya di tanah pajakan tersebut. 
"Kan pajak tanah, berarti yah setornya ke tanah itu". Kami kaget sekaligus serasa digelitik fakta yang unik mendengar cerita Bapak Gunawan ini. 

Cerita ini lagi-lagi memberi keterangan tentang Suku Samin yang sejatinya menolak membayar pajak. Cara mereka yang dilihat bukan sesuatu yang biasa hingga kini masih terasa kental di berbagai aspek kehidupan. Namun Suku Samin adalah suku yang menerima diri terhadap dunia luar. Jika dahulu mereka tidak memakan daging sapi sama sekali, sekarang mereka mau memakan daging sapi dengan persyaratan bukan mereka yang menyembelih. Membeli daging sapi di pasar adalah salah satu caranya. Suku yang bijak. Mereka tidak mengagung-agungkan budaya mereka sendiri tetapi tetap menjaga prinsip-prinsip baik di dalam diri mereka dan tetap menerima perubahan dari luar. 

Suku Samin sangat mencintai lingkungan dengan anggapan bahwa lingkungan adalah ibu mereka memanfaatkan alam hanya seperlunya saja. Kerakusan tidak ada dalam kamus hidup mereka. Suku Samin yang rumahnya biasa dibuat dari bambu dan kayu jati ini pernah dipenjarakan perihal dituntut karena mengambil kayu jati di hutan yang sebenarnya aparat paham mereka mengambil itu berdasarkan kebutuhan membuat rumah saja. Namun salah satu tokoh Samin ini tidak menolak dipenjara. Bahkan terlihat ikhlas saja ketika divonis bersalah dan bahkan diancam rumahnya yang terbuat dari kayu jati itu dirobohkan. 

Namun anda tahu apa yang dia minta? Dia hanya meminta keadilan agar semua rumah yang terbuat dari kayu jati juga turut dirobohkan. Yah simple saja, rumah yang lain itu juga kan pasti terbuat dari kayu jati. Dan tentunya aparat tidak mengiyakan ini. Sehingga dia tetap dipenjara tanpa mendapat keadilan. Namun hebatnya lagi, kejadian yang berlangsung pada jaman penjajahan ini, si korban meminta diri datang ke Jakarta untuk menemui sang proklamator, Soekarno. Soekarno pun menyatakan bahwa dia tidak bersalah ketika si korban menjelaskan apa yang terjadi. Lalu dia pulang dan berpuas diri. 

Walaupun dia dipenjara lagi dia tentu mendapat kelegaan besar ketika ada yang merasa sepikir dengannya. Bapak Gunawan lalu membagikan pengalamannya ketika melakukan penelitian di daerah Suku Samin ini. Karena daerah pemukiman Suku Samin ini jauh dari jangkauan masyarakat diluar Suku Samin sendiri dan didukung dengan waktu bahwa baru pertama kali Bapak Gunawan melakukan penelitian ke daerah tersebut, Bapak Gunawan memutuskan rela pulang pergi dari perumahan warga ke komunitas Suku Samin ini setiap harinya. 

Beliau melewati rute yang sangat panjang dan tingkah Bapak Gunawan ternyata diperhatikan oleh salah satu tokoh Suku Samin. Sehingga di suatu pagi pada hari rabu, Bapak Gunawan mendapat kejutan ketika melihat Bapak tua itu menunggunya di persimpangan jalan. Dia lalu menceritakan bahwa sebenarnya ada rute yang lebih singkat untuk sampai ke perumahan mereka. Berkat itu tentu sangat disyukuri Bapak Gunawan, sehingga jalan yang dilalui menjadi lebih singkat. 

Walaupun pikiran Bapak Gunawan masih gelisah ketika tidak sesingkat yang dipikirkan. "Masih jauh yah pak?" Tanya Bapak Gunawan, "tinggal sepuntung rokok". Jawab bapak tua itu, yang bikin gemesnya adalah rokok yang ada ditangannya belum dinyalakan. Sehingga tinggal sepuntung rokok sebenarnya hanya untuk menenangkan saja. Entahlah, penulis berpikir ini hal baru yang sangat tak biasa. 

Dalam perjalanan waktu ketika penelitian itu Bapak Gunawan tidak henti-hentinya menemukan fakta baru yang memanjakan telinga penulis dan teman-teman. Suku yang toleran sangat mereka tunjukkan bahkan dengan binatang sekalipun. Peristiwa penyerangan oleh hama yang menyerang jagung-jagung hampir semua suku Samin ini dalam wujud belalang berwarna cerah melahap habis hampir semua daun jagung tersebut. Namun mereka tidak membasmi hama itu. 

"Yang dimakan kan daunnya, belalang itu tidak melahap jagungnya" jawaban sederhana yang tentu masuk akal. Kami pendengar fakta itu sangat tercengang, Bapak Gunawan pun mengakui hal yang sama ketika melihat langsung kejadian itu. Suku yang melihat lingkungan sebagai ibu ini sangat menunjukkan kebijakannya. Poin penting dari semua sikap Suku Samin ini harus ditiru banyak pihak. 

Bahkan yang sangat menarik adalah dari buku sejarah yang pernah dibaca Bapak Gunawan pencetus Suku Samin ini pernah dibuang ke Selon yang notabene dimaksud sebagai kota Srilangka karena Belanda kewalahan menghadapinya. Pulau Srilangka adalah pulau tersendiri namun masih bersatu dengan India. Ajaran-ajaran Suku Samin ini dipercaya menginspirasi Mahatma Gandi. Orang besar India. Hal ini antara lain diaplikasikan juga dalam ajaran seperti Swadesi dan kooperatif. 

Sangat menarik bahwa tokoh besar Samin ini menginspirasi Mahatma Gandi, orang tak bersekolah namun dengan budayanya sangat mampu menginspirasi tokoh besar itu.

Namun sayangnya ada banyak pihak yang tidak menyadari itu, sampai-sampai ketika Bapak Gunawan melamar di salah satu Universitas besar di Malang ditertawakan ketika diakhir wawancara mengatakan Suku Samin sebagai tokoh idolanya ketika ditanya. 

Lalu tentunya sebagai pribadi yang mengetahui dengan baik Suku Samin itu, Bapak Gunawan menceritakan dengan baik walau dengan emosi perihal Suku Samin itu sendiri. Lalu tentu keajaiban Suku Samin itu membuat penanya jadi terdiam. Hal ini membuktikan banyak pihak bahkan orang Jawa sekalipun masih memahami Suku Samin dalam konsep negatif. 

Keterlibatan media sebagai penyalur berita, pemerintah dan semua pihak tentu sangat dibutuhkan untuk membagi informasi tentang Suku Samin ini. Mari kita sama-sama membagi yang seharusnya dibagi. Begitu banyak keajaiban dalam "kegilaan". 

Oleh: Tini Pasrin